Punya Potensi, KONI Pusat: Harusnya Jatim Bisa Juara Umum PON Papua

oleh
Wakil Ketua Umum KONI Pusat, Suwarno membeberkan data prestasi cabor Jatim di PON Papua.

SURABAYA, PETISI.CO Kegagalan Jawa Timur (Jatim) merebut juara umum Pekan Olahraga Nasional (PON) XX 2020, Papua, mendapat sorotan tajam dari Wakil Ketua Umum KONI Pusat, Suwarno.

Berbicara di forum Diskusi “Menata Strategi Meraih Juara di PON 2024”, Suwarno menilai Jatim seharusnya bisa meraih juara umum PON Papua. Sebab, Jatim punya potensi yang jadi modal meraih prestasi terbaik di multievent nasional itu.

“Potensi Jatim sebenarnya besar sekali. Jatim menjadi salah satu provinsi yang memiliki pembinaan olahraga terbaik di tanah air. Jadi, harus tetap optimis,” ujarnya.

Diskusi yang digelar Pokja Wartawan KONI-Dispora Jatim ini berlangsung di Hotel Wyndham, Surabaya, Kamis (2/12/2021). Selain Suwarno, diskusi menghadirkan nara sumber pengamat olahraga Joko Tetuko dan pelatih gulat Jatim, M Rahman.

Dalam diskusi yang dimoderatori ketua harian KONI Jatim, M Nabil, Suwarno membeberkan data-data lengkap yang dimiliki prestasi cabang olahraga (cabor) Jatim pada PON Papua, September-Oktober 2021 lalu.

“Maka, heran juga kalau Jatim gagal meraih juara umum. Seharusnya bisa. Selain potensi, Jatim bisa menjadi juara umum kalau saja ada beberapa cabor andalannya dipertandingkan, seperti tenis meja, balap sepeda dan ski air,” jelasnya.

Secara rinci, Suwarno menjelaskan pada PON Papua, ada 11 cabor Jatim (19,6 persen) yang keluar sebagai juara umum. Masing-masing aeromodeling, paralayang, renang, renang perairan terbuka, renang artistik, gulat, panahan, panjat tebing, selam, tenis dan wushu.

“Cabor yang juara umum saja ada 11 dari 37 cabor yang dipertandingkan. Prestasi ini harus dipertahankan. Pembinaannya juga harus ditingkatkan lagi,” ungkapnya.

Selain cabor juara umum, Suwarno juga mengungkap sebanyak 20 cabor (35,7 persen) Jatim yang meraih emas, 12 cabor (21,4 persen) yang meraih medali dan 13 cabor (23,2 persen) yang tidak mendapatkan medali di PON Papua.

Terhadap cabor yang gagal meraih medali, dia meminta agar dilakukan evaluasi kepada pengprov cabornya. Pengprovnya harus dipacu untuk bisa melakukan pembinaan yang lebih baik lagi.

Salah satu cabor Jatim yang gagal mendapat medali, yaitu kempo. Padahal, kempo mempertandingkan banyak medali emas. Ada juga dayung yang menyiapkan 40 emas.

“Jadi, kejar lah medali emas perorangan. Satu emas perorangan saja sudah cukup dari pada tidak dapat emas. Eman-eman kalau sampai cabor perorangan tidak sampai dapat emas,” paparnya.

Pihaknya kurang sependapat jika kegagalan prestasi itu faktornya adalah kepala daerah. Sebab, belum tentu olahraga dipimpin oleh pejabat publik bisa meningkatkan prestasi olahraga.

Menurutnya, ada 10 faktor yang menunjang keberhasilan prestasi olahraga di tanah air. Antara lain, kebijakan kepala daerah terhadap pembinaan olahraga, anggaran, pembinaan cabor-cabor, pelatih dan sarana olahraga.

“Percuma anggarannya cukup kalau tidak ditunjang dengan SDM nya. Pelatih juga sangat menentukan. Ingin prestasi bagus, maka pelatihnya harus bagus. Bisa mengirim pelatih ke luar negeri, atau mendatangkan pelatih dari luar negeri untuk ditiru ilmu kepelatihannya,” jelasnya. (bm)

No More Posts Available.

No more pages to load.