Rawat Budaya Pandhalungan, Wujud Pelestarian Perpaduan Budaya

oleh -155 Dilihat
oleh
Rawat budaya Pandhalungan yang digelar BPKW XI di Alun-alun Kota Kraksaan

Probolinggo, petisi.co – Rawat budaya Pandhalungan yang digelar oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XI di Alun-alun Kota Kraksaan merupakan wujud dalam pelestarian dan promosi budaya lokal yang berada di tapal kuda Jawa Timur. Pasalnya dalam kegiatan ini ditampilkan berbagai kesenian khas Pandhalungan yang merupakan perpaduan budaya Jawa dan Madura.

Pj Bupati Probolinggo, Ugas Irwanto mengatakan pentingnya menjaga dan melestarikan budaya Pandhalungan yang menjadi identitas masyarakat di wilayah Tapal Kuda.

“Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk bagaimana Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi serta pemerintah kabupaten berkolaborasi untuk menjaga budaya-budaya yang ada di daerah masing-masing,” kata Ugas Irwanto.

Menurutnya, budaya Pandhalungan yang melibatkan perpaduan antara dua etnis utama, yakni Jawa dan Madura telah menciptakan banyak kebiasaan dan tradisi unik yang memiliki potensi besar, baik dalam hal perekonomian maupun pariwisata.

“Budaya ini menampilkan keragaman yang positif, yang bila dikelola dengan baik akan berdampak pada peningkatan sektor ekonomi melalui pariwisata dan mempererat kerukunan masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut Pj Bupati Ugas juga menggarisbawahi tantangan di era digital. Dimana banyak generasi muda yang mulai kurang peduli dengan budaya lokal. Oleh karena itu, Pj Bupati Ugas menyatakan komitmennya untuk terus memperkenalkan dan melestarikan budaya lokal, salah satunya dengan menyelenggarakan lomba sendratari yang mengangkat sejarah Kabupaten Probolinggo mulai bulan depan.

“Lomba sendratari ini akan mengangkat cerita-cerita lokal seperti kisah dari Candi Jabung dan Bromo tanpa menghilangkan nilai-nilai sejarah yang melekat. Kami ingin generasi muda tertarik untuk memahami dan melestarikan budaya ini,” ungkapnya.

Sementara Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XI, Endah Budi Heryani mengungkapkan pemerintah telah melakukan upaya perlindungan budaya, baik yang berupa material maupun non-material. Budaya non-material atau intangible yang kita tampilkan di sini seperti Tari Glipang sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI) sejak tahun 2019.

Kabupaten Probolinggo dipilih karena memiliki potensi budaya yang kaya, baik material maupun non-material.

“Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang untuk menampilkan kekayaan budaya lokal, tetapi juga menjadi simbol komitmen pemerintah dan masyarakat untuk terus melestarikan budaya Pandhalungan yang unik dan beragam,” tuturnya. (reb)

No More Posts Available.

No more pages to load.