Surabaya, petisi.co – Didominasi pengurus muda, DPW PKB Jawa Timur (Jatim) siap menyongsong Pemilu 2029. Tampilnya figur-figur muda dalam kepengurusan DPW PKB Jatim periode 2026–2031, diharapkan mampu mendongkrak perolehan suara dalam Pemilu 2029.
“Kita membawa pasukan (pengurus) baru yang terdiri dari anak muda. Harapannya, mampu merebut hati 60 persen pemilih muda mulai dari generasi milenial, gen Z hingga generasi Alfa,” kata Ketua DPW PKB Jatim, Abdul Halim (Gus Halim) di Surabaya, Sabtu (14/2/2026).
Pernyataan Gus Halim itu disampaikan kepada wartawan usai pengukuhan kepengurusan DPW PKB Jatim periode 2026–2031. Pengukuhan ini, dirangkai dengan Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) dan orientasi politik pengurus.
Salah satu figur muda yang mengisi kepengurusan DPW PKB Jatim, yaitu Multadzamudz Dzikri sebagai sekretaris dan Sollichul Umam menjabat bendahara. “Hari ini mereka mendapat arahan untuk kerja partai ke depan, terutama mendapat suara dari kaum milenial,” ujarnya.
Komposisi kepengurusan yang didominasi figur-figur muda menjadi sinyal jelas arah politik PKB Jatim. Perubahan struktur ini dirancang sebagai respons terhadap pergeseran demografi pemilih yang semakin didominasi generasi milenial, Gen Z, hingga generasi Alpha.
Halim menyebut, dalam pemilu dan pilkada mendatang, sekitar 60 persen pemilih di Jatim akan berasal dari kalangan milenial, Gen Z, dan generasi Alpha. Angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan penentu arah kemenangan politik.
“Kita sudah menyiapkan diri untuk menyongsong sekitar 60 persen pemilih dari milenial, Gen Z, dan level Alpha. Karena itu targetnya khusus, langkahnya khusus, dan strateginya juga berbeda dengan prioritas sebelumnya,” tegasnya.
Menurutnya, partai politik yang gagal membaca pergeseran ini akan tertinggal. Generasi muda dinilai memiliki karakter berbeda: kritis, digital savvy, cepat mengakses informasi, dan menuntut solusi konkret atas persoalan riil seperti lapangan kerja, pendidikan, ekonomi kreatif, hingga isu lingkungan.
“Regenerasi di tubuh PKB Jatim, bukan hanya soal usia, melainkan perubahan kultur kerja. Kepengurusan baru didorong untuk lebih lincah, adaptif terhadap teknologi, serta aktif membangun komunikasi publik, terutama di ruang digital,” paparnya.
Terkait langkah teknis merebut 60 persen suara milenial dan Gen Z, Halim memilih tak membeberkan detail. Namun ia memastikan pendekatan yang disiapkan tidak bersifat simbolik. “Strateginya pasti ada, tapi tidak mungkin kami sampaikan. Nanti khawatir ditiru partai lain,” kelitnya.
Langkah tersebut, sekaligus dibaca sebagai bagian dari persiapan panjang PKB Jatim dalam kontestasi politik mendatang, termasuk perebutan kepemimpinan di Jatim Dengan basis pemilih muda yang kian dominan, keberhasilan merebut simpati generasi ini diyakini menjadi kunci kemenangan.
PKB Jatim tampak menyadari bahwa pertarungan politik ke depan bukan lagi sekadar adu kekuatan struktur, tetapi adu gagasan dan kecepatan adaptasi. Regenerasi kepengurusan menjadi pijakan awal untuk menempatkan partai tetap relevan di tengah perubahan zaman.
“Soal Jatim 1, semua partai pasti punya target yang sama. Bukan hanya PKB. Jika pemilihan kepala daerah dilakukan melalui DPRD, maka peta kekuatan politik akan sangat ditentukan oleh penguasaan kursi legislatif dan soliditas fraksi. Dalam konteks ini, PKB Jatim berada pada posisi strategis,” kata Gus Halim. (bm)







