Surabaya, petisi.co – Setelah mangkrak selama 8 bulan, akibat dibakar massa pengunjuk rasa, sayap barat Gedung Negara Grahadi, Surabaya, akan dipugar. Pemugaran ditandai dengan pemotongan tumpeng yang dilanjutkan penyesetan tembok (groundbreaking), Rabu (1/4).
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa memulai prosesi pemugaran tersebut. Hadir dalam kegiatan ini, Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak, sejumlah Kepala OPD dan pengasuh Ponpes Amanatul Ummah, Pacet, Kabupaten Mojokerto, KH Asep Saifuddin Chalim.
“Pemugaran hanya difokuskan pada sayap barat yang terdampak kebakaran. Sementara bagian lain Gedung Negara Grahadi yang masih utuh tidak akan dirombak demi menjaga nilai historisnya,” kata Khofifah kepada wartawan.
Dijelaskan, restorasi dilakukan dengan prinsip pelestarian cagar budaya, dengan menjaga kemiripan bentuk dan material bangunan asli. Apa yang dulu dijadikan konstruksi, kita memaksimalkan keserupaan dan kemiripan dengan bangunan aslinya.
“Material yang digunakan pun disesuaikan dengan konstruksi awal bangunan. Kapur sebagai bahan perekat yang dahulu didatangkan dari Belanda kini diimpor dari Jerman guna mempertahankan karakter asli bangunan,” ungkapnya.
Menurutnya, kerusakan Grahadi sempat menjadi perhatian pemerintah pusat, termasuk Presiden Prabowo Subianto. Insiden ini, diharapkan menjadi pengingat pentingnya menjaga cagar budaya secara kolektif.
“Ke depan, kita harus memiliki rasa tanggung jawab bersama untuk menjaga dan melestarikan semua cagar budaya yang kita miliki,” tegas mantan Menteri Sosial ini.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Cipta Karya (PRKP) Jatim I Nyoman Gunadi mengungkapkan, proyek ini menelan anggaran cukup besar. Anggaran murni dari APBD Provinsi Jatim sebesar Rp 12,76 miliar.
“Pemugaran ditargetkan rampung dalam 210 hari kalender. Terhitung mulai 30 Maret hingga 25 Oktober 2026,” ujarnya.
Sejumlah teknik khusus diterapkan dalam membagun kembali sayap barat Gedung Grahadi. Tujuannya untuk menjaga nilai heritage sekaligus memperkuat struktur bangunan. Di antaranya penambahan ring balok sebagai penguat.
Lalu, penggunaan kapur khusus agar dinding tetap “bernapas” dan memiliki sirkulasi udara alami. Selain itu, detail elemen bangunan juga diperhatikan secara khusus.
“Engsel pintu dan jendela dipesan dari pengrajin di Sumenep, kusen menggunakan kayu jati berlegalitas Perhutani, serta lantai menggunakan marmer yang selaras dengan bangunan utama,” paparnya.
Seluruh proses pemugaran diawasi ketat dan melibatkan berbagai pihak, mulai dari Tim Ahli Cagar Budaya Kota Surabaya, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jatim, hingga tenaga ahli pemugaran bersertifikat dari Ikatan Arsitek Indonesia Jatim.
Sebagai informasi, sayap barat Grahadi telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya berdasarkan SK Wali Kota Surabaya tahun 1996. Setelah sempat direnovasi, bangunan ini terbakar dalam aksi unjuk rasa pada 31 Agustus 2025 lalu. (bm)






