Surabaya, petisi.co – Pembangunan proyek Kereta Rel Listrik (KRL) masa depan untuk kawasan Surabaya Raya (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan), Surabaya Regional Railway Line (SRRL) pada tahap pertama akan dimulai tahun 2027.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Perhubungan Jawa Timur (Jatim) Nyono kepada wartawan usai mengikuti pertemuan dengan Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste dengan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, di Gedung Negada Grahadi, Surabaya (9/1).
Nyono menjelaskan, ada beberapa segmen yang dikerjakan dalam SRRL. Untuk tahap pertama, akan dibahas mengenai pembangunan di segmen 1A dan 1B dengan anggaran awal mencapai 5,4 triliun rupiah
“Ini proyek pusat percontohan enam kota besar terkait public transport green energy yang akan didanai pinjaman lunak dari Jerman. Untuk Surabaya Raya akan lebih agresif, dengan kontrak fisik pertama akan dikerjakan tahun 2027 atau 2028 untuk koridor 1A yaitu Stasiun Gubeng Surabaya-Wonokromo-Sidoarjo,” ujarnya.
Menurutnya, desain proyek yang semula direncanakan dengan mengadopsi konsep elevated track (jalur di atas) akan dirubah untuk koridor Surabaya – Sidoarjo menggunakan jalur ganda atau double track. Nantinya jalur SRRL akan memanfaatkan lahan KAI berdampingan dengan rel Existing (jalur sudah yang ada), entah nanti di sisi kanan atau kirinya.
Sedangkan desain elevated nanti untuk proyek LRT (Light Rail Transit) dengan Inggris. “Rancangan DED (Detail Engineering Design) untuk koridor 1A dan 1B ini akan ditandatangani oleh dirjen perkeretapian kementrian perhubungan akhir bulan ini,’ tandasnya.
Sementara segmen 1B yang meliputi rute pendek Stasiun Gubeng – Stasiun Pasar Turi Surabaya, akan dikerjakan kemudian. Pengerjaannya, menunggu relokasi dan proses ganti untung bagi warga yang menempati lahan KAI tersebut.
“Proyek koridor 1A didahulukan pengerjaannya, karena pertimbangan kepadatan arus perpindahan orang Surabaya-Sidoarjo yang saat ini sudah mencapai 300 ribu penumpang per hari,” ungkapnya.
Setelah itu baru dikerjakan segmen dua, dari Stasiun Pasar Turi Surabaya ke Stasiun Babat Lamongan. “Ini sudah termasuk Gresik, dengan arus perpindahan 250 orang per hari. Nanti koridor ketiga Stasiun Wonokromo-Sidoarjo-Mojokerto,” ungkapnya.
Seluruh proyek SRRL Surabaya Raya akan didanai oleh APBN yang memanfaatkan pinjaman lunak dari bank pembangunan milik Jerman, Kreditanstalt für Wiederaufbau (Kfw). “Nanti APBD Jatim akan digunakan untuk membenahi perlintasan-perlintasan sebidang yang mungkin harus dimundurkan dan ssbagainya, nanti dari kita,” tandasnya.
Gubernur Khofifah sendiri berharap proyek SRRL dapat memenuhi kebutuhan transportasi yang cepat, bebas polusi dan murah untuk warga di kawasan Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan. Khususnya bagi masyarakat yang setiap hari bekerja di wilayah aglomerasi. (bm)






