PETISI.CO
PEMERINTAHAN

Tahun 2019, KBRI Den Haag Tawarkan Pemprov Jatim Kerjasama Sektor Rempah

SURABAYA, PETISI.CO – Kedutaan Besar RI (KBRI) untuk Belanda di Den Haag menawarkan kerjasama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim untuk ikut berperan dalam menyuplai rempah-rempah pada tahun 2019 mendatang.

Tawaran tersebut, disampaikan langsung oleh Wakil Kepala Perwakilan Fikry Cassidi pada pertemuan antara Delegasi Pemprov Jatim dengan KBRI di Gedung KBRI Den Haag, Senin (19/11) waktu setempat. Delegasi Pemprov Jatim dipimpin Ketua DPRD Jatim Halim Iskandar.

“Nanti kami akan memberikan informasi detail mengenai ini, dan memastikan agar Pemprov Jatim maupun pemkab/pemkot di Jatim ikut berpartisipasi. Selama ini, hubungan bilateral Indonesia dan Belanda sangat baik,” kata Fikry dalam siaran persnya, Selasa (20/11/2018).

Dijelaskan, pada tahun 2019 nanti sektor rempah-rempah akan menjadi salah satu komoditi ekspor unggulan ke Belanda. Karenanya, pihak KBRI menawarkan agar Jatim ikut andil peran di dalamnya, apalagi Jatim terkenal dengan berbagai rempahnya.

Komoditi ekspor ke Belanda selain kelapa sawit harus mulai dilakukan karena adanya kebijakan dari pemerintah dalam negeri Uni Eropa untuk mengurangi penggunaan kelapa sawit. Apalagi, kelapa sawit merupakan penyumbang terbesar untuk total perdagangan Indonesia dengan Belanda.

Baca Juga :  Digerojok Rp 7,65 T, Pemprov Jatim Targetkan Tahun 2020 Bebas Desa Tertinggal

“Ke depan Indonesia memang harus punya komoditi terbaru sehingga akan ada kompensasi jika kebijakan ini diterapkan,” ucap Fikri, sapaan akrabnya.

​Menurutnya, otal perdagangan tahun 2017 Indonesia dengan Belanda mencapai sekitar 5 miliar dolar dengan surplus sekitar 3,5 miliar dolar. Sedangkan total perdagangan tahun 2018 sampai bulan Agustus  sudah mencapai 3,6 miliar dolar, pada akhir tahun ditargetkan bisa mencapai 5 miliar dolar.

“Ini merupakan kesempatan besar bagi pemerintah Indonesia untuk bukan hanya fokus di perdagangan tapi juga belajar mengenai ekonomi digital yang telah dikembangkan,” ujarnya.

Pada kunjungan kerja kali ini Gubernur Jatim Soekarwo yang biasa disapa Pakde Karwo tidak bisa memimpin delegasi karena harus mendampingi kunjungan Presiden RI pada tanggal 18-19 November di Jatim. Selain Halim Iskandar, delegasi Pemprov Jatim terdiri dari beberapa pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD).

Baca Juga :  Ingin Lanjutkan Program Pembangunan, Sekdes Maju Pilkades di Laikang

Dalam sambutan Gubernur Jatim yang dibacakan Halim Iskandar, mengatakan bahwa selama periode tahun 2014 sampai dengan bulan September 2018 nilai ekspor Jatim ke Belanda cenderung fluktuatif dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 3,45%. Adapun sharenya terhadap total ekspor Jawa Timur selama periode di atas rata – rata pertahunnya 2,33%.

“Lima komoditas Jatim yang diekspor ke Belanda yaitu berbagai produk kimia, kayu, barang dari kayu, bahan kimia organik, alas kaki, kendaraan dan bagiannya,” paparnya.

Ditambahkan, pertumbuhan nilai impor Jatim dari Belanda selama kurun waktu tahun 2014 sampai bulan September 2018 cenderung menurun dengan  rata-rata pertumbuhan sebesar (1,68%) per tahun. Sedangkan terhadap total impor Jatim rata-rata sharenya 0,81% per tahun.

“Lima komoditi  impor Jatim dari Belanda yakni mesin-mesin, kapal laut, kapal terbang dan bagiannya, aluminium, jangat dan kulit mentah,” ungkapnya.

Investasi Belanda ke Jatim mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada Tahun 2018 sampai dengan triwulan 3 tahun 2018, investasi belanda sebesar Rp 290 Miliar dengan jumlah proyek sebanyak 65 proyek dan menyerap tenaga kerja local sebanyak 5.358 orang.
Sedangkan, 5 Investasi terbesar Belanda di Jawa Timur antara lain pembangkit tenaga listrik (PT. Paiton Energy), industry sabun, deodorant dan pasta gigi (Unilever Indonesia, TBK), dan Electric Tools Industry (PT. Philip Ralin Elektronik/PT. Philip Indonesia).

Baca Juga :  Pemprov Jatim Kucurkan Bantuan Program "Jatim Puspa" di Bojonegoro

Terkait pengembangan digitalisasi, Pemprov Jatim juga telah mencanangkan e-smart province yang merupakan integrasi aplikasi dari berbagai sektor yang meliputi, e-smart economy, e-smart governance, e-smart living, e-smart environment. Selain itu,ekonomi digital sudah mulai dibangun lewat kerjasama dengan marketplace untuk produk UKM khusus di Jatim.

Di akhir, pihaknya berharap KBRI Den Haag bisa memberi dukungan atas upaya-upaya yang dilakukan Pemprov Jatim dalam pengembangan investasi, perdagangan, industry kreatif dan ekonomi digital. Lewat dukungan dari KBRI maka program-program tersebut akan mengalami percepatan pertumbuhan yang berdampak terhadap ekonomi masyarakat Jawa Timur yang inclusive dan berkelanjutan.(bm)

terkait

Sebaran Covid-19 Masih Terjadi, Bupati Sumenep Ingatkan Pentingnya Jalankan Prokes

redaksi

Lakukan Evaluasi, Pemkot Surabaya Tarik Personel Yang Berjaga di 19 Titik Pos Pintu Masuk Surabaya  

redaksi

Pelanggar Protokol Kesehatan Harus Siap Dikirim Ke Liponsos Keputih, Untuk Apa?

redaksi