Timpora Kediri Lamban Deteksi WNA China, Langgar Ijin Tinggal

oleh
Kepala Imigrasi klas III Kediri menunjukkan paspor dan 5 WNA China yang saat ini ditahan

KEDIRI, PETISI.CO – Tim Pengawasan Orang Asing (Timpora) Kediri, terkesan lamban dalam mendeteksi keberadaan 5 WNA asal Cina, yang menyalahi ijin tinggal dan diduga sudah beberapa pekan berada di Kota Tahu. Kamis (29/12/2016), mereka ditahan di Kantor Imigrasi kals III Kediri.

Keterangan Kepala Kantor Imigrasi Klas III Kediri Muhamad Tito Andrianto, diduga, mereka melanggar Undang Undang ke Imigrasian nomor 6 tahun 2011 tentang penyalah gunaan izin tinggal sedangkan yang lain pihak Imigrasi belum menetapkan pasalnya, namun yang pasti WNA ini tidak bisa menunjukkan paspor.

“Dari informasi yang kita himpun, mereka bekerja disalah satu distributor handphone. Selanjutnya, kami melakukan razia di perumahan Persada Asri dan mendapati lima orang WNA dari China, hingga kita bawa ke Kantor,” kata Muhamad Tito, Kamis (29/12/2016), di kantornya.

Lebih jauh, dia menjelaskan, kelima orang tersebut, Wang Bin No (38), Zhang Yong Biao, Huang Zhen zhao, Thang Zian Shen dan Wei xianxing.Mereka diduga kuat, melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan maksud izin tinggal.

“Keempat WNA bekerja di distributor Vivo, dan yang satunya diamankan di sebuah rumah di Perum Persada Asri Blok B 1 sebagai distributor smartphone coolpad,” imbuhnya.

Ditempat yang sama Kepala Dinsosnaker Kota Kediri, Dewi Sartika mengungkapkan, pihaknya akan melakukan proses, perihal kegiatan usaha yang dilakukan oleh perusahaan yang mempekerjakan WNA ini. Karena, ada beberapa pelanggaran yang dilakukan oleh perusahaan tersebut, diantaranya perekrutan tenaga kerja, dan izin usaha.

“Dari informasi yang kita himpun mereka berada di Kota Kediri, sejak November lalu, kita akan proses kegiatan usaha mereka, dari perekrutan, hingga rumah yang dijadikan tempat usaha, kita akan korrdinasikan dulu.Untuk sementara waktu, kita hentikan kegiatan usahanya dulu,” kata Dewi Sartika.

Ditambahkanya, dari hasil temuan ada indikasi pemalsuan KTP dari hasil razia orang asing tersebut, hingga saat razia berlangsung ditemukan orang Indonesia keturunan yang memiliki KTP tidak sesuai NIK.

Untuk memastikan hal tersebut, orang yang berinisial J dibawa ke Dispendukcapil untuk dilakukan tes sidik jari. Akan tetapi, saat ditanya Wartawan, J mengaku membuat KTP di Tangerang dengan membayar Rp 1 juta kepada seseorang.

“Saya sebelumnya KTP Pontianak, karena KTP saya hilang saya minta dibuatkan dengan membayar Rp 1 juta, agar cepat mas,” akunya.

Sementara, di tahun 2016 ini data tenaga kerja asing dari Kantor Imigrasi Kelas III Kediri sebanyak 113 WNA. Sedangkan, yang telah dideportasi sebanyak 7 orang, lantaran ijin tinggal mereka tinggal telah habis Adapun, mereka yang dideportasi, berasal dari Malaysia, Singapura dan Tailhand.(bud)