Petisi
OPINI

Toleransi… Tetaplah Abadi

Oleh: Agus Siroj Hudi*

Dalam hidup keberagaman, toleransi merupakan syarat yang mesti dipenuhi untuk memelihara dan melindungi tidak saja keberagaman, tetapi persatuan itu sendiri. Dengan kata lain, persatuan negeri ini hanya mungkin terjaga jika keberagaman identitas primordial setiap warga bangsa Indonesia sepenuhnya diakui dan diberi ruang untuk mengembangkan diri.

Dan kondisi itu sepenuhnya bergantung kepada kesadaran setiap warga bangsa untuk terus bersikap toleran. Itu artinya, semangat menerima perbedaan dalam sikap toleransi adalah sebuah modal dasar bagi setiap orang dengan segenap keunikan identitasnya dapat hidup baik merealisasikan dirinya.

Namun, pokok pengertian toleransi pada tataran penerimaan oleh salah satu pihak, jika dicermati lebih seksama, tidaklah mencukupi. Terciptanya harmoni, karena salah satu pihak menerima keberadaan yang lain, mesti pula diimbangi dengan sikap menghargai penerimaan yang diperoleh dari pihak lain.

Seperti arti dan makna “Toleransi”.

Toleransi berasal dari bahasa latin dari kata “Tolerare” yang berarti dengan sabar membiarkan sesuatu. Jadi pengertian toleransi secara luas adalah suatu perilaku atau sikap manusia yang tidak menyimpang dari aturan, dimana seseorang menghormati atau menghargai setiap tindakan yang dilakukan orang lain.

Toleransi juga dapat dikatakan istilah pada konteks agama dan sosial budaya yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap golongan-golongan yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas pada suatu masyarakat.

Misalnya toleransi beragama, dimana penganut agama mayoritas dalam sebuah masyarakat mengizinkan keberadaan agama minoritas lainnya. Jadi toleransi antar umat beragama berarti suatu sikap manusia sebagai umat yang beragama dan mempunyai keyakinan, untuk menghormati dan menghargai manusia yang beragama lain.

Akan tetapi, ketika kita sering disajikan wacana-wacana dan kabar-kabar yang menampakkan seakan semakin meruncingnya hubungan antar umat beragama. Dengan berbagai penyebab kemunculanya, yang mengesankan atau mengakibatkan ketegangan antar umat beragama.

Apakah salah, jika tanggapan semisal hal itu lebih dikarenakan kurangnya pengetahuan para pemeluk agama akan agamanya sendiri dan agama pihak lain.

Sehingga, menjadikan kaburnya batas antara sikap memegang teguh keyakinan agama dan toleransi dalam kehidupan masyarakat.

Atau, memang sifat dari setiap agama, yang mengandung misi dakwah dan tugas dakwah harus seperti dengan memaksakan.

Kita juga bisa bependapat, boleh jadi kurangnya saling pengertian dalam menghadapi masalah perbedaan pendapat juga salah satu kemungkinan.

Hal tersebut, melatarbelakangi para pemeluk agama menjadi tidak mampu mengontrol diri, dan  menjadikan enggan dan sulit untuk menghormati bahkan memandang randah agama lain.

Imbasnya, muncul kecurigaan terhadap pihak lain, baik antar umat beragama, interen umat beragama, atau antara umat beragama dengan pemerintah.

Bukankah toleransi hanya dapat dicapai seandainya masing-masing diri, kelompok bersikap lapang dada satu sama lain.

Sikap saling mempercayai atas itikad baik golongan lain. Sikap saling menghormati hak orang lain yang menganut ajaran agamanya. Sikap saling menahan diri terhadap ajaran, keyakinan dan kebiasan kelompok agama lain yang berbeda, yang mungkin berlawanan dengan ajaran, keyakinan dan kebiasaan sendiri.

Toleransi, senandungmu jangan pernah berhenti. Tetaplah Abadi menghias hati.#

*(penulis adalah pemerhati sosial, tinggal di wilayah Malang barat.

terkait

Mempertanyakan Kejujuran Pilkada Kabupaten Banyuasin

redaksi

Nasionalis Dahulu, Barulah Jurnalis

redaksi

TAKDIR KEADILAN: Hukum Untuk Kesejahteraan Rakyat

redaksi