Ujian Awal Euforia

oleh
Myanmar menjadi partai away perdana tim nasional (timnas) senior Indonesia setelah terbebas dari belenggu sanksi otoritas sepakbola dunia, FIFA. Kendati hanya berlabel uji coba internasional, ekspektasi berlipat publik Tanah Air tertuju pada 27 pemain yang dibawa pelatih Alfred Riedl.
Harapan itu wajar mengingat dahaga kemenangan yang mengapung dibenak suporter Garuda. Bahkan uji tanding internasional ketiga sejak timnas resmi dipersiapkan untuk Piala AFF 2016 November mendatang, Boaz Solossa dkk belum tersentuh kekalahan. Setelah benamkan Malaysia 3 gol tanpa balas, Indonesia masih mampu menahan Vietnam 2-2 di Stadion Maguwoharjo, Sleman.
Dua hasil ini cukup positif mengingat persiapan timnas yang terbilang mepet. Belum lagi ditambah belenggu aturan dari operator turnamen Torabika Soccer Championship (TSC) 2016 yang hanya membolehkan Riedl memanggil maksimal 2 pemain dari setiap klub peserta kendati keputusan tetap ada di manajemen klub.
Namun Riedl wajib terus ‘membumi’. Myanmar jadi kekuatan baru di Asia Tenggara, seiring ambisi untuk tidak lagi di bawah bayang-bayang dua tetangganya, Thailand atau pun Vietnam. Bahkan pada uji coba internasional pamungkas, mereka sukses membungkam Hongkong 3-0. Kebangkitan itu yang patut diwaspadai dalam duel sore nanti. Sekilas, Myanmar punya gaya main mirip Vietnam yang sempat merepotkan lini pertahanan Indonesia.
Kendati sempat menyebut laga di Thuwanna YTC Stadium Yangon sebagai ujian mental, Riedl tentu tak ingin kehilangan momen untuk mencari komposisi terbaik setelah 7 kali pemusatan latihan.
“Semua tentu ingin menang. Tapi yang terpenting, kami juga mau lihat apa ada kemajuan pada taktik dan strateginya. Yang jelas kami harus uji mental, karena sering pemain di Indonesia di kandang bagus tapi di luar kurang,” kata asisten pelatih Timnas Indonesia Wolfgang Pikal. “Kami ingin mencoba permainan yang sudah kami terapkan dalam latihan sebisa yang kami mampu. Kami juga ingin menjajal kekuatan lawan di tandang sebelum Piala AFF dimulai,” tambahnya.
Yang patut ditunggu tentu saja aksi amunisi muda Riedl. Kendati belum ada garansi akan dimainkan, beberapa pemain muda seperti Evan Dimas bisa jadi diplot sebagai jenderal lapangan tengah merujuk pada dua pertandingan uji coba Indonesia sebelumnya sebagai starter. Kemampuan gelandang Bhayangkara FC tersebut dalam membagi bola dan sesekali mengisi ruang kosong di lini depan, hanya dibedakan sosok pendamping.
Melawan Malaysia, Evan dipasang dengan Bayu Pradana. Hasilnya, permainan Indonesia cenderung ofensif. Sedangkan ketika menjamu Vietnam, giliran Dedy Kusnendar yang dijodohkan dengan Evan yang karakternya lebih bertahan. Persoalannya, kemampuan dia tentu sudah jadi sorotan pelatih Myanmar Gerd Zeise. Sehingga mau tidak mau, mobilitas Evan Dimas bakal lebih dijaga lawan.
Hal itu diakui pelatih asal Jerman itu dalam sesi jumpa pers kemarin. “Saya berharap kami bisa tampil sesuai apa yang dilatih. Kedua pertandingan ini (lawan Indonesia dan Oman, red) sangat penting,” katanya.
Gerd memuji Indonesia sebagai lawan kuat yang bisa merepotkan anak asuhnya. Namun persiapan khusus selama 3 tahun di Jerman, plus memantau perkembangan Indonesia akhir-akhir  ini, mencuatkan keyakinan akan kemampuan Myanmar. “Kami bisa bersaing dan akan melihat di mana kami berdiri,” tegasnya menyebut peluang Malaikat Putih, julukan timnas senior Myanmar.
Warning dari Pemain Senior
Kendati hanya bisa bermain imbang dengan dua tim Asia Tenggara sebelumnya, persiapan tiga tahun di Jerman cukup memberi perubahan ekstrim pada cara main Myanmar. Hal itu diakui pemain senior mereka, Win Min Htut. Bek berusia 36 tahun tersebut bahkan mengirim warning buat Indonesia agar tidak lagi memandang remeh mereka.
Bersama dengan Kaung Sett Naing, ia dipanggil pelatih Gerd Zeise menggantikan Thiha Zaw dan Kyaw Ko Ko. “Saya ikut timnas Myanmar lagi setelah mereka kembali dari Eropa. Dalam sesi latihan, kami melakukannya dengan fisik dan teknik skill yang baik. Saat ini kami berada di dalam kondisi terbaik,” kata Win Min Htut. (spt/epe)
Siap Main Sesuai Instruksi
Laga tandang perdana dilabeli ujian mental. Namun bagi Evan Dimas, label itu tak terlalu dirisaukan. Dia hanya ingin bermain optimal di posisi mana saja sesuai instruksi pelatih. “Gak ada pilih-pilih saya harus main sama siapa, semua yang dimainkan sama saya maka saya merasa nyaman. Intinya, saya selalu coba kasih yang terbaik saja setiap dipercaya,” katanya.

Gelandang muda timnas Indonesia Evan Dimas menilai kedua laga tersebut akan jadi ujian bagus untuk timnas yang akan berjuang di Filipina pada Piala AFF nanti. Apalagi, memang sudah lama timnas Indonesia tidak memainkan partai away. “Tapi tujuan kami ke sana bukan soal kalah menangnya, tapi ingin mengukur kemampuan kami yang sudah lama tidak bermain di level internasional,” ungkap Evan disinggung target.