Upsus Siwab Ubah Desa Wonoayu Jadi “Surga” Peternak

oleh -205 Dilihat
oleh
Puluhan sapi diperiksa kebuntingan oleh petugas IB.

MALANG, PETISI.CO – Mengubah kebiasaan masyarakat di Desa Wonoayu, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur (Jatim) dari pekerjaan sebagai buruh tani menjadi peternak secara penuh, tidak mudah. Dibutuhkan waktu lama, ketekunan, kerja keras dan semangat tinggi.

Desa Wonoayu dulu dikenal sebagai desa tertinggal. Pekerjaan utama warganya, rata-rata sebagai buruh tani. Penghasilan yang diperoleh pun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kini, seiring dengan perubahan waktu, Wonoayu, tumbuh menjadi sentra peternakan sapi yang memproduksi puluhan ton daging pertahun. Keberadaannya lebih menjanjikan daripada bekerja sebagai buruh tani.

Pitoyo, salah satu petani Wonoayu yang ikut merasakan nikmatnya beternak sapi. Dia melihat, beternak sapi membawa berkah. Keuntungan yang didapat dari penjualan sapi bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Pada tahun 1990-an, Pitoyo hanya seorang buruh tani yang memiliki satu ekor sapi. Sapinya dibiarkan tumbuh hidup ala kadarnya. Minimnya pengetahuan peternakan yang didapat, membuat dia tak memiliki tambahan penghasilan dari sapi yang dipeliharanya.

Namun, dengan tekad yang kuat, dia mencoba bangkit bersama masyarakat desa setempat lainnya. Dari pekerjaan sebagai buruh tani, Pitoyo mendapatkan pekerjaan barunya sebagai peternak sapi. Kini, dia memiliki 6 ekor dan sudah ada yang beranak.

“Sekarang sapi saya sudah beranak dan dijual. Kualitasnya bagus, karena dikawin suntik Inseminasi Buatan (IB). Kita bisa minta bibit yang Limousine, Brahman, atau Simental ketika akan disuntik kepada dokter hewan. Dapat IB gratis dari pemerintah,” ujarnya ketika ditemui petisi.co di lapangan Desa Wonoayu, Rabu (29/8/2018).

Di lapangan itu, Pitoyo bersama puluhan peternak lain mendatangkan sapinya pada kegiatan Pemeriksaan Kebuntingan (PKB) dan Inseminasi Buatan (IB) oleh petugas IB Kabupaten Malang, serta dari Dinas Peternakan (Disnak) Provinsi Jawa Timur secara massal, sebagai salah satu program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab).

Puluhan sapi yang akan di-PKB dan IB, berjejer rapi di tengah dan pinggir lapangan. Sebanyak 37 wartawan yang mengikuti Lomba Karya Tulis Wartawan (LKTW) serta rombongan dari Humas dan Protokol Setdaprov Jatim, tertegun melihatnya.

Bau tak sedap, ditambah debu beterbangan tak menyurutkan nyali wartawan untuk berbaur. Para insan pers asyik mengorek data dari peternak sebagai bahan mengikuti LKTW yang mengambil tema “Program Pengembangan Ternak Sapi dalam Usaha Pencapaian Swasembada Daging di Jawa Timur”.

Pitoyo mengaku, anak sapi atau pedet berusia 5 bulan banyak yang meminati. Pedet berusia lima bulan dijual dengan harga Rp 10-12 juta. Induknya usai beranak tidak dijual. Dari penjualan empat anak sapi, dia mengantongi uang sekitar Rp 60 juta. “Uangnya ya ditabung untuk masa depan,” ucapnya riang.

Penghasilan peternak sapi meningkat, setelah ternakan sapinya semakin diminati. Para tamu yang ingin membeli sapi, tidak hanya dari Kabupaten Malang, tapi juga daerah lain, seperti Pasuruan dan Surabaya. Akses jalan yang mudah dijangkau, memudahkan para pembeli sapi datang ke rumah peternak untuk melakukan transaksi.

Hal itu yang mendorong para buruh tani, banyak yang beralih menjadi peternak, karena pendapatan yang diperoleh lebih besar dibanding bekerja sebagai buruh tani. Kehidupan warga setempat lambat laun berubah menjadi lebih baik dan sejahtera.

Kepala Desa Wonoayu, Wina Nurnama mengakui, taraf hidup rata-rata warga desanya sekarang sudah membaik. Beda jauh dengan tahun 1990-an. “Sekitar tahun 1990-an, Wonoayu termasuk desa tertinggal. Upaya menghilangkan image daerah tertinggal, baik dari segi ekonomi, pendidikan, kesejahteraan dan infrastruktur terus dilakukan pemerintah desa sebelumnya,” tuturnya.

Inseminasi Buatan

Perekonomian warga bangkit melalui hasil ternak sapi potong, seiring dengan bantuan program Upsus Siwab dari pemerintah pusat. Melalui program ini, pemerintah mendorong setiap sapi indukan milik para peternak harus bunting satu tahun sekali, demi tercapainya swasembada pangan daging.

Peternak harus mengenali, kapan sapinya sedang birahi, untuk kemudian segera dilakukan IB, agar program Upsus Siwab berjalan lancar. Program IB ini difasilitasi pemerintah secara gratis, karena IB kebanyakan berhasil ketika dilakukan saat sapi indukan sedang hamil.

“Tingkat keberhasilan IB mencapai 70 persen,” kata Kepala UPT Inseminasi Buatan (IB) Dinas Peternakan Provinsi Jatim, Dr dr hewan Iswahyudi.

Kepala UPT Inseminasi Buatan Dinas Peternakan Provinsi Jatim Dr dr Iswahyudi.

Keberhasilan IB itu, menurut Iswahyudi, dibuktikan dengan pemeriksaan kebuntingan terhadap 140 ekor sapi di desa ini. Sebanyak 105 ekor diantaranya positif bunting. Setelah 40 hari beranak, sapi itu bisa kawin lagi berkat metode penyuntikan IB yang dilakukan Dinas Peternakan setempat.

“Penyuntikan IB bisa dilakukan metode individual atau satu persatu dan dikumpulkan,” tandasnya.

Dukungan lainnya, yaitu tersedianya sumber daya manusia. Di Jatim untuk melaksanakan Ubsus Siwab, tersedia petugas sesuai dengan bidangnya masing- masing. Ada petugas inseminator (kawin suntik) sebanyak 1.438 orang, petugas pemeriksa kebuntingan 1.200 orang dan dokter hewan 800 orang. “Jadi, ini sumber daya yang benar-benar bisa membantu peternakan,” tegasnya.

Jumlah penduduk Desa Wonoayu sebanyak 1.550 jiwa, yang terbagi 352 Kepala Keluarga (KK). Dari data Dinas Peternakan Kabupaten Malang, saat ini Wonoayu terdapat 833 ekor. Itu artinya, hampir semua KK memelihara sapi minimal dua hingga tiga ekor. Dari 833 populasi sapi di Wonoayu, terbanyak adalah sapi betina, yaitu 686 ekor. Sapi jantannya sebanyak 147 ekor.

Setiap tahun, ratusan sapi betina itu terus dirangsang birahinya, untuk kemudian diinseminasi agar melahirkan banyak sapi lainnya. Sementara sapi betinanya dipelihara, karena itu pabriknya sapi.

“Kami juga punya teknologi lain dikedokteran hewan, yaitu teknologi sperma sexing dan embiro transfer. Di peternakan, teknologi ini sudah berjalan. Tingkat keberhasilannya baru 30 persen,” ungkapnya.

Surplus Daging Sapi

Secara keseluruhan, Kabupaten Malang dengan jumlah penduduk 2.576.596 jiwa, terbilang surplus daging sapi sebanyak 25 ton pertahun. Tercatat sedikitnya 60 ribu anak sapi atau pedet lahir dari para peternak di Kabupaten Malang pertahun. Penyumbang terbanyak adalah peternak dari Wonoayu.

Berdasar data Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang, peredaran uang di kalangan peternak dari hasil menjual sapi anakan mencapai Rp 500 miliar pertahun. Sedangkan secara keseluruhan dari hasil ternak sapi potong Kabupaten Malang memberi sumbangsih produk domestik regional bruto senilai Rp 2,3 triliun.

Pemerintah Kabupaten Malang terus melakukan pendampingan kepada para peternak, agar senang beternak. Pendampingan dilakukan dengan program-program yang sudah dijalankan. Bahkan, Pemerintah Kabupaten Malang tidak segan untuk meminta dukungan dari pemerintah pusat dan provinsi.

“Kita minta bagaimana agar harga daging itu jangan sampai turun. Jangan sampai harga susu juga turun. Kalau sampai turun, bisa saja mereka pindah haluan ke usaha yang lain,” kata Bupati Malang, Rendra Kresna.

Surplusnya sapi di Kabupaten Malang, ikut mendongkrak jumlah populasi sapi di Jatim. Pada tahun 2017, populasi sapi di Jatim sebanyak 4.573.893 juta ekor. Sebanyak 1.250.000 ekor diantaranya adalah sapi betina. Sementara, kebutuhan daging di Jatim 450 ribu ton per tahun.

Dengan populasi sebanyak itu, kontribusi Jatim terhadap pemenuhan kebutuhan pangan nasional cukup besar. Provinsi dengan jumlah penduduk 38 juta jiwa lebih ini, menempati peringkat pertama terbanyak jumlah sapi nasional. Kontribusinya sebesar 28 persen dari populasi nasional sebanyak 16.599.247 ekor.

Untuk daging sapi, Jatim memberikan kontribusi nasional sebesar 19 persen, dari populasi nasional sebanyak 531.757 ton. Sedangkan produksi Jatim 102.932 ton. Produksi daging Jatim tersebut, meningkat pertumbuhannya dibanding tahun 2016 sebanyak 4.407.807.

Karena itu, wajar jika Gubernur Jatim Soekarwo menolak impor daging. Jatim menolak impor sapi dan daging, setelah Gubernur menerbitkan Surat Edaran nomor 524/8838/023/2010 tertanggal 30 Juni 2010, tentang Larangan Pemasukan dan Peredaran Sapi, Daging dan Jeroan Impor. Kebijakan ini merupakan upaya stabilisasi melonjaknya harga sapi dan daging di provinsi ini.

“Jatim mengalami surplus sapi hidup maupun daging sapi, sehingga impor daging tidak perlu dilakukan oleh pemerintah. Populasi sapi di Jatim mencapai 4,3 juta ekor sapi dengan produksi atau kelahiran 1,05 juta ekor sapi per tahun. Kelebihan sapi dibagikan ke beberapa daerah yang mengalami kekurangan daging,” kata Soekarwo.

Keberhasilan Program

Tingkat keberhasilan program Upsus Siwab yang digalakkan oleh pemerintah di seluruh Indonesia, diakui Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Prof Dr Suwarno drh MSi. Setelah kegagalan gangguan reproduksi (gangrep) sapi tahun 2017, pemerintah membuat program Upsus Siwab melalui suntikan IB untuk meningkatkan populasi sapi.

Salah satu faktor utama yang mempengaruhi keberhasilanĀ  IB adalah semen beku. “Di Indonesia, ada dua daerah yang berhasil melakukan pengembangan semen beku sexing, yaitu Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari, Malang dan BBIB Lembang,” ujarnya.

Petugas IB melakukan penyuntikan

Teknologi sexing merupakan tindakan khusus untuk menentukan jenis kelamin keturunan yang akan dilahirkan. Melalui teknologi ini, jenis kelamin dari pedet dapat ditentukan sejak awal sesuai dengan yang diharapkan.

“Jadi, semen beku ini, sangat membantu sekali. Sangat bermanfaat dalam program percepatan peningkatan jumlah populasi ternak di Indonesia,” katanya.

Baru-baru ini, menurut Suwarno, pemerintah mendatangkan bibit sperma sapi dari Belgia atau Sapi Belgian Blue. Anak sapi yang lahir dari perkawanian silang sapi ini, memiliki daging keras. Bobotnya bisa mencapai 30-40 Kg. “Bibit sapi Belgia hanya digunakan untuk meningkatkan kualitas sapi Indonesia,” cetusnya.

Namun, Suwarno memberikan masukan kepada pemerintah, agar tidak semua sapi lokal diberi suntikan IB. Pemerintah harus bisa memilah sapi lokal mana yang dikembangbiakkan untuk meningkatkan jumlah populasi sapi Indonesia. Tujuannya, untuk mempertahankan sapi ras.

“Di Jatim, Sapi Madura harus dipertahankan, supaya tidak terjadi pencampuran. Sapi Bali juga demikian. Rasnya dipertahankan. Kalau semua sapi disilangkan, maka sapi ras bisa-bisa akan hilang. Indonesia tidak punya sapi ras lagi,” paparnya.

Tak hanya itu, pemerintah harus memperhatikan masyarakat di daerah mana yang perlu mendapatkan bantuan IB gratis. Sebab, tidak semua masyarakat di daerah tertentu memiliki kesungguhan beternak sapi. Di pedesaan, banyak masyarakat yang memelihara sapi, namun tidak semuanya punya keinginan untuk menjadi peternak.

Suwarno pun memuji keberhasilan Desa Wonoayu dalam mengembangkan ternak sapi. Masyarakatnya sangat antusias menjadi peternak sapi. Memelihara sapi tidak hanya untuk dijual, tapi diternak.

“Jadi, untuk sapi potong, tak tergantung pada cuaca. Kuncinya pada kesungguhan masyarakatnya. Kalau basisnya peternakan ingin maju, pasti bisa. Kalau tidak, maka hasilnya tak maksimal,” jelasnya.

Dia juga mendukung kebijakan Gubernur Jatim Soekarwo yang melarang impor daging. Kebijakan tersebut, bertujuan untuk melindungi para peternak di daerah. Agar daerah tergerak untuk populasi lagi.

Masuknya daging impor juga membuat masyarakat malas menjadi peternak, karena harganya lebih murah dibanding harga daging lokal. (Bambang W)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.