Wisata Bukit Surowiti bisa Jadi Pilihan Keluarga

oleh
Sokip bersama keluarga foto di atas Bukit Surowiti sambil melihat hamparan bukit dan hutan yang sangat indah dan asri.

GRESIK, PETISI.CO – Momen tahun baru, yang kebetulan bersamaan dengan libur panjang, banyak yang memanfaatkan untuk berwisata keluarga. Khususnya di Jawa Timur, banyak tempat dan pilihan untuk berwisata keluarga. Mau pilih yang wisata alam, wisata religi, wisata kota tua dan lain sebagaianya.

Di Kota Gresik, selain dikenal dengan banyaknya wisata religi, karena ada makam sunan-sunan juga terdapat wisata alam yang cukup indah dan masih asri. Lokasinya  di perbukitan yang ada di ujung Gresik paling barat. Kawasan tersebut lebih dikenal dengan nama wisata Bukit Surowiti atau disebut juga Petilasan Pertapaan Sunan Kalijaga.

Lokasi wisata Bukit  Surowiti ini adalah sebuah perkampungan kecil yang dihuni sekitar 100 an rumah tangga, berlokasi di atas bukit yang terjal dengan luas sekitar 5 Ha.

Dengan ketinggian 260 m dari permukaan laut, terletak di Desa Surowiti, Kecamatan Panceng berjarak sekitar 40 km dari kota Gresik melalui Jalur pantura Gresik-Tuban atau sekitar 50 km dari Kota Surabaya.

Pada Minggu (1/1/2017) yang kebetulan libur Tahun Baru 2017, di lokasi Wisata Bukit Surowiti juga dijubeli wisatawan lokal dari berbagai kabupaten. “Saya sengaja datang dari Lamongan, setelah wisata ke Pantai Delegan, sekalian mampir ke Bukit Surowiti,” ujar seorang pria bersama istri dan anaknya.

“Kalau saya hampir setiap bulan datang ke sini (bukit Surowiti,red). Alhamdulillah, setelah saya sering datang dan berdoa di sini, keluarga kami banyak mendapat kemudahan,” ujar seorang pengunjung perempuan, asal Nganjuk.

Memang banyak alasan para wisatawan yang datang ke bukit dengan pemandangan yang indah ini. Tetapi, kebanyakan mereka yang berkunjung hanya sekedar ingin berwisata, sekaligus mengetahui sejarah dan cerita asal-usul bukit Surowiti dari keterangan warga setempat.

Keluarga Sokip, bersama istri dan dua anaknya Rindu dan Akmal, juga memanfaatkan liburan tahun baru di Bukit Surowiti ini. “Mumpung anak-anak liburan, sekalian ingin lihat langsung bagaimana Gua Langsih, karena selama ini saya tahu hanya dari cerita dan lihat di TV,”  ujar Ny, Endang, istri Sokip yang mengaku takjub dengan keindahan serta cerita sejarah asal kampung Surowiti itu.

Dari pantauan di lokasi serta sumber yang berhasil dikumpulkan, beberapa obyek yang dapat dikunjungi dalam kawasan wisata bukit Surowiti ini diantaranya adalah :

Foto bersama sebelum masuk ke Goa Langsih.

 Petilasan Kali Buntung

Di kaki bukit Surowiti terdapat sebuah telaga dan pada tepinya ditumbuhi rumpun bamboo. Menurut cerita  warga, tempat tersebut pada jaman dahulu merupakan sungai anak Bengawan Solo, yang merupakan tempat Raden Sahid (nama asli Sunan Kalijaga) bertapa dan menjaga tongkat Sunan Bonang yang tertancap di tepi sungai (Kali Buntung). Akhirnya tongkat tersebut menjadi rerumputan batu. Oleh karena itu petilasan tersebut merupakan asal-usul dari sebutan ‘Sunan Kalijaga’, artinya sunan penjaga sungai.

Makam Mpu Supa

Menurut cerita penduduk setempat, tempat tersebut merupakan makam Mpu Supa Mandrangi atau juga disebut Pangeran Sedayu, yaitu seorang Mpu Linuwih pada jaman Majapahit. Karya besar beliau berupa keris sengkelat, yang merupakan pusaka tersohor kesaktiannya pada kejayaan Majapahit. Mpu Supa merupakan adik ipar Sunan Kalijaga dan sekaligus santri Sunan Kalijaga. Banyak orang berziarah ke tempat ini terutama untuk mencari kesaktian dan mencari pusaka (keris). Di dekat makam Mpu Supa terdapat Goa Macan, yang konon ceritanya sebagai macan peliharaan Ki Songo Wongso (cikal bakal orang Surowiti).

Makam Raden Bagus Mataram

Menurut cerita, Raden Bagus Mataram adalah seorang punggawa kerajaan mataram yang kaya. Kemudian meninggalkan Mataram enggan membawa barang kekayaannya menuju Surowiti untuk berguru (nyantri) ke Sunan Kalijaga. Banyak orang yang datang terutama dalam hal rejeki dan kekayaan.

Petilasan Tapa Ngluweng (Tapa Kubur) Sunan Kalijaga

Menurut cerita rakyat, tempat ini bekas petilasan Sunan Kalijaga ketika menggembleng diri dengan bertapa ‘ngluweng’ atau bertapa dengan mengubur diri seperti orang meninggal. Banyak orang datang ke tempat ini untuk mencari berkah terutama dalam hal derajat, pangkat dan jabatan.

Goa Langsih

Goa ini mempunyai 2 ruangan, yaitu ruang atas dan ruang bawah. Menurut cerita rakyat setempat, ruangan goa yang di bawah dipergunakan Sunan Kalijaga bertapa, sedangkan ruang yang atas ada seperti lantai dari batu berbentuk bulat besar, yang konon tempat ini digunakan sarasehan (pertemuan) para walisongo.

Dan di atas goa terdapat tanah datar yang dulunya merupakan tempat latihan olah kanuragan para santri Sunan Kalijaga. Di dalam ruangan goa yang di bawah tanah ada tetesan air yang tersimpan dalam satu tendon kecil, dahulu dipergun akan untuk wudlu, dan sampai sekarang tetesan air itu masih ada, namun kecil. Ada sebagian orang yang percaya bahwa air tersebut sangat bertuah dan dapat menyembuhkan berbagai penyakit.

Di kawasan tersebut di samping terdapat obyek-obyek di atas, juga mempunyai panorama yang indah, terutama dari atas bukit, kita dapat melihat pemandangan laut serta bukit dan hutan yang ada di sekitarnya.(kip/bs)