175 Mahasiswa Psikologi UNTAG Belajar Psikologi Politik di DPRD Surabaya

oleh -423 Dilihat
oleh
Anggota komisi C, DPRD Surabaya, Herlina Harsono Njoto bersama mahasiswa Untag Surabaya

Surabaya, petisi.co – Sebanyak 175 mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya mengikuti pembelajaran psikologi politik di gedung DPRD Kota Surabaya. Kegiatan ini merupakan bagian dari mata kuliah Psikologi Politik yang wajib diambil oleh mahasiswa semester 3.

Dekan Fakultas Psikologi UNTAG Surabaya, Dr. Rr. Amanda Pasca Rini, S.Psi., M.Si., Psikolog, menjelaskan bahwa mata kuliah ini bertujuan untuk mempelajari karakter-karakter pemimpin.

“Kami menggunakan metode praktisi mengajar, di mana setengah semester diajar oleh dosen dan setengah semester oleh praktisi, yaitu Ibu Herlina Harsono,” ujarnya.

Kunjungan ke DPRD ini diisi dengan presentasi hasil kajian mahasiswa mengenai tokoh-tokoh politik dan pemimpin di Indonesia, untuk menganalisis karakter, strategi, target, dan kelemahan masing-masing tokoh.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, pada tanggal 1 dan 8 Desember, dibagi menjadi dua kelompok karena keterbatasan kapasitas. Tujuannya adalah untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih mendalam dan interaktif.

“Kami ingin mahasiswa mengenal lebih dekat dunia politik. Salah satu profil lulusan kami adalah menjadi anggota dewan atau politisi. Dengan belajar langsung, mereka bisa mengamati bagaimana Ibu Herlina berbicara, menyampaikan kajian, dan berinteraksi langsung,” tambah Dr Amanda.

Dr Amanda berharap kegiatan ini dapat mendorong mahasiswa untuk terlibat aktif dalam kegiatan politik, baik sebagai pemilih maupun dalam peran kepartaian. Fakultas Psikologi UNTAG Surabaya berupaya mendekatkan mahasiswa dengan lingkungan politik agar mereka sebagai generasi muda dapat menjadi penerus bangsa yang kompeten.

Anggota komisi C, DPRD Surabaya, Herlina Harsono Njoto menambahkan bahwa psikologi politik kini menjadi mata kuliah wajib.

“Membaca dinamika politik secara psikologi itu penting. Mahasiswa belajar menganalisa gaya kepemimpinan dan kepribadian, yang dikorelasikan dengan teori dan penelitian,” ujarnya.

Herlina juga menyoroti bahwa mahasiswa psikologi ternyata kritis dalam menganalisis dinamika psikologis dan cara politisi berkomunikasi dengan masyarakat. Beberapa mahasiswa bahkan mempertanyakan efektivitas strategi seperti menjual empati dan pencitraan.

“Saya melihat ini penting untuk mengasah kepekaan mahasiswa terhadap lingkungan sekitar, terutama kebijakan-kebijakan yang ada,” pungkas Herlina. (joe)

No More Posts Available.

No more pages to load.