PASURUAN, PETISI.CO – Keberadaan anak liar atau yang biasa disebut khalayak umum “Punk” yang beraliran anti sosial, begitu marak di Kota Bangil. Kelompok anak punk baik dari dalam maupun dari luar Kota Bangil, banyak ditemui di Alun-alun Bangil pada sore hingga malam hari. Mereka biasa terlihat tiduran di paseban dan mengamen di setiap lapak pedagang kaki lima di seputaran alun-alun Bangil.
Keberadaan anak liar (Punk), sejatinya sangat menganggu ketertiban serta keindahan alun-alun Bangil. Bagaimana tidak, kebanyakan mereka (anak punk) sering buang air kecil sembarang di sela-sela gapura alun-alun bangil dan di sekitaran taman (pohon perindang).Tak hanya itu saja, keberadaan kelompok anak punk juga sangat menganggu para pedagang dan warga yang sedang menikmati alun-alun Bangil bersama keluarga serta membuat kotor paseban.
Seperti yang diucapkan oleh Wahyuni(44) asal Kelurahan Pogar, Kecamatan Bangil, suntuk mas jika melihat anak punk berkeliaran di alun-alun ini.
“Seharusnya Pemkab dan Polres Pasuruan bisa menertibkan anak Punk yang ada di Kota Bangil. Mereka (Punk) sering berbuat tidak senonoh (berciuman di depan umum dengan pasanganya), kencing sembarang dan tak jarang merusak keberadaan hiasan serta mencorat-coret tembok dengan tuiisan tak senonoh,” ujar Wahyuni.
Hal senada juga dilontarkan oleh Andi (48) asal Kelurahan Kolursari, warga sejatinya sangat risih dengan keberadaan mereka, niat dari rumah ingin menikmati malam bersama keluarga di alun-alun Bangil, tapi melihat banyaknya anak Punk dialun-alun Bangil dengan dandanan layaknya gelandang, kami menjadi risih.
“Jika keberadaan mereka tidak ditertibkan, maka akan semakin preseden buruk bagi Kabupaten Pasuruan khususnya Bangil sebagai ibukota Kabupaten Pasuruan,” tandasnya.
Sementara itu saat hal ini dikonfirmasikan pada Kepala Satpol PP Kabupaten Pasuruan, Yudha Triwidya Sasongko, menjelaskan, pihaknya sudah tak terhitung menertibkan kelompok ini. Bahkan di sebelah timur alun-alun Bangil juga telah ditempatkan petugas, untuk memonitor alun-alun Bangil.
“Setiap kali kami operasi, keberadaan mereka seperti hilang ditelan bumi. Tak jarang pula petugas di lapangan kejar-kejaran dengan mereka. Namun dikarenakan terbentur aturan yang ada, kami hanya bisa mendata, memberi arahan serta pembinaan juga mengembalikan pada orangtuanya (jika mereka berasal dari Pasuruan). Jika mereka berasal dari luar kota, tak jarang pula kita antar pulang. Akan tetapi sepertinya mereka (anak Punk) kembali lagi atau pergi tanpa pamit pada orangtuanya,” ungkap Kasat Pol PP Kabupaten Pasuruan ini.
Dari pantuan petisi.co, Bangil seperti surga bagi anak Punk. Keberadaan mereka dengan mudah didapati di sekitaran alun-alun Bangil, Pasar Bangil dan setiap taman yang ada di Kota Bangil. Hampir setiap rumah kosong yang tak terawat dijadikan tempat bermukim anak Punk, tidur bergerombol (pria dan wanita), ngelem bersama dan menengak miras oplosan beramai-ramai. Pemkab Pasuruan seharusnya bisa mencontoh beberapa kota dalam mengatasi keberadaan anak Punk yang sangat menganggu tersebut, seperti halnya Sidoarjo, Mojokerto, Probolinggo dan sejumlah kota yang steril terhadap kelompok anti sosial ini. (hen)





