PETISI.CO
Antok bersiap memakamkan jenazah Covid-19.
TNI Berbakti

Bisnis Perumahan Sepi, Gabung Relawan Pemakaman Jenazah Covid-19

SIDOARJO, PETISI.CO – Target penjualan lima rumah untuk setiap bulan bukan hal baru bagi marketing perumahan di wilayah Sidoarjo. Alamat tidak akan mendapatkan bonus bila target itu tidak dapat terpenuhi setiap bulannya. Seorang marketing perumahan harus memutar otak dan jungkir balik agar target dapat mencapai.

Namun, sejak bulan April 2020 bersamaan dengan awal pandemi Covid-19 di Indonesia, target penjualan sudah tidak memungkinkan tercapai. Bahkan, untuk menjual satu unit rumah yang harganya sebelum pandemi seharga di atas Rp 1 miliar dan sekarang hanya dijual di bawah Rp 500 juta, tidak satupun terjual. Berbagai program telah dicoba untuk memasarkan rumah kelas menengah ke atas belum bisa memenuhi target penjualan satu rumah satu bulan.

Dalam kondisi tersebut, pengembang bisnis perumahan juga salah satu terdampak pandemi Covid-19 yang hingga tahun 2021 belum juga selesai. Satu per satu pengembang perumahan menahan diri untuk membuka proyek baru dan memilih menghabiskan sisa proyek perumahan yang belum laku. Hingga langkah ekstrim juga dilakukan pengembang perumahan dengan menutup perusahaan serta merumahkan bagian pegawai pemasaran.

Seperti halnya yang dirasakan Hermanto, warga Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur yang menggeluti dunia marketing perumahan selama 23 tahun. Meskipun perusahaan tempatnya bekerja belum tutup, harus rela gajinya tidak sepenuhnya diterima.

Baca Juga :  Relawan Posko Covid-19 di 18 Kecamatan Se-Sidoarjo Mendapat Bantuan Sembako dan APD

Antok sapaan akrab Hermanto dalam menyikapi peraturan baru di kantornya selama pandemi Covid-19, setiap harinya masih terjun ke lapangan menemui para klien untuk menawarkan produk perumahan. Dia menjalaninya dengan iklhas dan penuh harap bisa menjual produk perumahannya.

Memasuki bulan Juli 2021, serangan Covid-19 yang lebih dahsyat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Korban terpapar Covid-19 ini lebih banyak yang meninggal dan jumlah pasien Covid-19 semakin tidak terkendali.

Bersamaan dengan pemerintah menerapkan PPKM Darurat, Antok sudah mengurangi aktivitas kerja maupun bertemu klien. Kantornyapun juga harus lockdown tiga minggu setelah beberapa temannya ikut terpapar Covid-19. Dengan demikian, Antok mengisi waktu selama kantornya belum aktif dengan menjadi sukarelawan pemakaman jenazah Covid-19.

Perkembangan Covid-19 seperti ini, warga di sekitar rumah Antok banyak yang meninggal dunia. Anehnya, tak satu pun warganya yang berani untuk pemulasaraan jenazah dan pemakaman pasien Covid-19. Antok tidak tinggal diam, di sela pekerjaannya tidak menentu, terketuk hatinya untuk menjadi sukarelawan pemakaman jenazah pasien Covid-19.

Dengan berbekal arahan dan petunjuk dari petugas puskesmas setempat, memberanikan diri memakamkan jenazah pasien Covid-19 sesuai dengan protokol kesehatan. Tanpa ada keraguan akan tertular Covid-19, secara iklhas untuk menolong warganya.

Baca Juga :  Spontanitas Satgas TMMD Tapsel dan Warga Tarik Mobil PPKB dari Lumpur

“Kalau bukan saya, siapa yang akan memakamkan warga yang meninggal karena Covid-19 ini. Kebetulan pekerjaan saya sebagai marketing perumahan sedang mengurangi intensitas kerja,” ujar Antok ayah dari tiga putra.

Hanya dengan berbekal APD lengkap pemberian dari puskesmas, Antok yang hingga bulan Juli 2021 belum menerima vaksinasi Covid-19 mulai melaksanakan tugas mulianya memakamkan jenazah-jenazah Covid-19 terutama tetangganya. Dalam sehari ia bisa memakamkan antara 7 hingga 15 jenazah.

“Untuk manjaga diri, saya tetap menjalankan prokes yang sangat ketat, dari menggunakan APD rangkap mulai ujung rambut hingga ujung kaki. Setelah prosesi pemakaman tentunya tetap menerapkan prokes 5 M (Mencuci Tangan, Memakai Masker, Menjaga Jarak, Menjauhi Kerumunan, dan Mengurangi Mobilitas),” jelas Antok.

Ditanya honor dari memakamkan jenazah Covid-19, Antok mengaku tidak menerima sepeserpun. “Semua dilakukan secara sukarela dan tidak terbesit untuk mendapatkan imbalan. Melakukan ini di tengah pandemi Covid-19 karena kemanusiaan,” imbuh Antok.

Masih tingginya penyebaran Covid-19, Antok mengajak warganya untuk rutin mencuci tangan hingga bersih setidaknya selama 20 detik beberapa kali sehari, terutama saat sebelum memasak atau makan, setelah menggunakan kamar mandi, setelah menutup hidung saat batuk atau bersin. Menggunakan sabun dan air atau pembersih tangan dengan alkohol setidaknya dengan kadar 60 persen.

Baca Juga :  Bantu Warga Isoman Covid-19, Relawan RT 23 Siwalanpanji Dirikan Posko Satgas

Memakai masker saat beraktivitas di luar rumah. Menjaga jarak minimal 1 meter dengan orang lain untuk menghindari terkena droplets dari orang yang bicara, batuk, atau bersin, serta menghindari kerumunan, keramaian, dan berdesakan. Bila tidak memungkinkan melakukan jaga jarak, maka dapat dilakukan berbagai rekayasa administrasi dan teknis lainnya.

Rekayasa administrasi dapat berupa pembatasan jumlah orang, pengaturan jadwal, dan sebagainya. Sedangkan rekayasa teknis, antara lain dapat berupa pembuatan partisi, pengaturan jalur masuk dan keluar, dan sebagainya.

Menjauhi kerumunan merupakan protokol kesehatan yang juga harus dilakukan saat berada di luar rumah. Semakin banyak dan sering kamu bertemu orang, maka kemungkinan terinfeksi virus corona pun semakin tinggi.

Menghabiskan waktu di luar rumah, maka semakin tinggi pula terpapar virus. Bila tidak ada keperluan yang mendesak, tetaplah berada di rumah.

“Selain itu, selalu meningkatkan sistem kekebalan tubuh agar terhindar dari infeksi Covid-19,” pungkas Antok. (cah)

terkait

Komandan SSK Kapten Inf Zabir Apresiasi Komsos Satgas TMMD

redaksi

Kebahagiaan Warga Pantai Timur Sambut Satgas TMMD

redaksi

Anggota Kodim 1712/Sarmi Koordinasi dengan Warga

redaksi