Surabaya, petisi.co – Pendidikan Diniyah Formal (PDF) Ulya Al Fithrah Kedinding Lor Surabaya, menggelar Seminar motivasi bagi para santri putri kelas XI. Ratusan peserta yang hadir menyambut antusias seminar bertemakan strategi efektif dalam manajemen waktu untuk santri, Kamis (24/7/2025).
Hadir dalam acara seminar Kepala Program Studi (Kaprodi) Manajemen Pendidikan Islam Institut Al Fithrah (IAF) Surabaya Ali Mastur, M.Pd.I., Pembicara Nasional dari PiES Institute Dr. (Cand) Didik Madani, S.Sos., M.Med.Kom, Kepala Sekolah PDF Ulya Al Fithrah Hermansyah M.Ag, Wakil Kepala Kesiswaan (Wakasis) Putra Mohammad Wahid S.Ag dan Wakasis Putri Dianatun nafiah S.Pd.

Menurut Hermansyah, acara seminar motivasi sengaja digelar untuk meningkatkan gairah belajar sekaligus memberikan pencerahan bagi santri terkait pentingnya menghargai waktu.
“Sudah lama para santri, tidak mendapatkan materi penyegaran terkait manajemen waktu. Melalui seminar motivasi hari ini, diharapkan ada semacam pencerahan manajerial waktu bagi mereka,” ungkap Hermansyah.

Ia menilai pentingnya mendatangkan motivator dari luar sekolah, agar para santri khususnya santri putri bisa mendapat penyegaran wawasan. Seminar tahunan ini diyakini mampu menjadi ice breaking yang bermanfaat bagi peserta didik.
“Alhamdulillah, narasumber motivator nasional Didik Madani berhasil mencairkan kebekuan. Saya lihat peserta larut dalam keceriaan hingga tercapai mufakat untuk disiplin dalam mengatur waktu dan menciptakan pola pikir yang lebih fresh,” tuturnya.
Ke depan, kegiatan serupa akan lebih intens digelar sebagai upaya menciptakan iklim belajar yang menyenangkan bagi para santri. Sehingga target dari visi misi pondok pesantren yakni menjadikan santri berprestasi serta mampu menjawab tantangan zaman bisa tercapai.
“Kali ini, peserta yang sengaja dilibatkan hanya santri putri kelas XI. karena tingkatan ini yg paling dianggap memerlukan acara seminar motivasi. Tidak menutup kemungkinan kelas kelas yg lain akan diadakan juga di waktu berikutnya,” tandas Kepala sekolah yang dikenal kalem dan ramah ini.
Sementara itu, Motivator Nasional dari PIES Institute, Didik Madani menyampaikan materi star camp tentang potensi diri bahwa setiap individu adalah bintang. Karena itu, siapapun wajib mengenali potensi dalam diri sehingga harapannya kemampuannya bisa tergali.
“Untuk bisa menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan tidak membosankan, para gen z ini harus dikenalkan dengan potensi dirinya. Karena dari hasil kajian disertasi saya, setiap individu memiliki perpaduan tipe karakter Proactive, Interactive, Empathy dan Systemic. Empat tipe ini kemudian dikenal dengan teori PIES,” ucapnya.
Sehingga, dengan mengenali potensi diri akan mudah bagi murid dalam mengelola percepatan belajar masing-masing individu. Harapannya para santri bisa lebih disiplin dalam manajemen waktu dan termotivasi untuk meningkatkan prestasi.
“Sebagai contoh santri tipe P jago kecepatan, tindakan dan hasil. Tipe I sangat antusias dalam hubungan dan tindakan, Tipe E orangnya tenang dalam hubungan dan kesabaran. Sedangkan tipe S mengutamakan kualitas, orangnya dikenal kompetensi karena ketelitiannya. Dengan mengenali potensi diri tersebut, mereka dengan sendirinya timbul kesadaran dalam manajerial waktu dan akselerasi belajar,” ulasnya.
Sedangkan untuk mencapai target santri prestasi, lanjutnya harus ada campur tangan coach. Sentuhan para coach ini, diharapkan mampu membentuk watak menjadi karakter sesuai visi dan misi lembaga.
“Coach yang saya maksud disini ada tiga yakni coach potensi yaitu guru, coach bisnis adalah karir dan coach spiritual. Ada analogi watak dasar kayu dalam perkembangannya bisa dibentuk menjadi karakter kursi atau daun pintu. Demikian pula watak dasar besi bisa dijadikan karakter kursi dan daun pintu. Kayu dan besi adalah watak, namun keduanya bisa dibentuk menjadi karakter yang sama tergantung cara bagaimana coach-nya memberi treatment,” urainya.
Didik juga membagikan tips melawan kemalasan, dengan mencontohkan gerakan petinju muslim legendaris Muhammad Ali saat menghadapi lawan. Menurutnya dalam bertinju, Ali kerap menerapkan kombinasi jab upper cut sambil menggerakkan badan ke kanan dan ke kiri.
“Rasa malas adalah musuh yang harus dihadapi seperti bertinju. Jika malas itu datang lakukan gerakan seperti Muhammad Ali. Pukul dengan jab tangan kiri lalu upper cut tangan kanan. Sambil goyang badan, terapkan ini. Supaya apa? Dengan gerak badan, rasa malas pasti hilang,” tegasnya seraya memperagakan gerakan yang dimaksud.
Sebagai penutup, Didik Madani berpesan, jika santri ingin sukses dalam karir, bisnis dan rumah tangga, kuncinya harus taat pada orang tua, kiai dan guru. Inilah tantangan terberat yang harus dilalui oleh santri Gen Z
“Kesampingkan ego, kedepankan etika. Nurut patuh dan taat pada pesan orang tua, kiai dan guru. Setelah itu perjalanan hidup anda akan mulus dan dimudahkan. Ada sebuah pelajaran penting yang ini sering menjadi penyesalan terdalam bagi seseorang sepanjang hidupnya adalah ketika kita tak mampu membahagiakan orang tua, kiai dan guru karena belum cukup harta. Namun saat kita sudah mampu (cukup materi) orang yang ingin kita bahagiakan justru sudah wafat,” tutup Didik dengan mata berkaca-kaca. (luk)







