BONDOWOSO, PETISI.CO – Melonjaknya harga kedelai selama beberapa waktu terakhir membuat para perajin tahu dan tempe di Bondowoso kelimpungan.
Akibat kondisi itu, tak sedikit para perajin terpaksa menaikkan harga penjualan tahun agar tidak gulung tikar.
Hal ini diungkapkan oleh Liliana salah satu pemilik perusahaan tahu ‘Kurma’ di Badean, Kecamatan Bondowoso, Senin (4/1/2021).
Menurutnya, meskipun tak sampai menghilang di pasaran, namun harga tahu terpaksa naik Rp 1000 dan harga jual Rp 19.000 per kotak.
“Keputusan ini diambil agar bisa bertahan di tengah naiknya harga kedelai hingga 30 persen dari sebelumnya hanya Rp 6.400 menjadi Rp 9.300 perkilogram,” katanya.
Ia juga mengaku, diantara produsen di Bondowoso merencanakan mogok produksi tahu. Akan tetapi masih banyak hal yang dipertimbangkan. Seperti nasib karyawan dan pelanggan.
“Akhirnya kita memutuskan untuk menaikkan harga saja. Tapi para pelanggan sudah teriak-teriak karena naik Rp 1000 dari sebelumnya,” jelasnya.
Menanggapi hal tersebut, aktivis pemerhati sosial di Bondowoso, Imam J, menyebutkan, pemerintah untuk segera turun tangan.
“Kami meminta kepada pemerintah memberikan subsidi pembelian kedelai serta pengaturan tata niaga kedelai di pasaran untuk menghindari permainan harga,” cetusnya.
Para pengrajin tahu saat ini hanya dalam kondisi bertahan, karena memang biaya produksi dan bahan baku sangat tinggi.
“Kalau tidak ada campur tangan pemerintah tentu semua akan bangkrut,” pungkasnya. (tif)







