Harga Kedelai Tinggi, Pembuat Tempe Rumahan Meradang  

oleh -119 Dilihat
oleh
Salah satu pembuat tempe.

PROBOLINGGO, PETISI.COMelonjaknya harga kedelai dari Rp. 8.000 /kg menjadi Rp.10.100/kg dalam beberapa pekan terakhir ini membuat puluhan pembuat tempe rumahan di Kampung Tempe Kelurahan Sumbertaman, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo meradang.

“Yang jelas dengan naiknya harga kedelai tersebut membuat penghasilan kita turun. Sekarang jangan mikir untungnya bisa makan saja sudah alhamdulilah,” kata salah satu pembuat tempe rumahan di Kampung Tempe, RT 2/RW 2, Kelurahan Sumbertaman, Haryanto.

Ia menambahkan bahwa kedelai yang mengalami kenaikan tersebut adalah kedelai impor, Itu yang naik adalah kedelai dari luar kita pakai kedelai impor karena hasil tempenya bagus. Sementara untuk kedelai lokal hasil tempe kurang bagus.

“Jadi meskipun harga kedelai naik kita tetap produksi karena itu menjadi mata pencaharian kami. Meskipun untungnya hanya cukup buat makan,” ujarnya.

Sementara Rebudi, pengagas berdirinya Kampung Tempe, Kelurahan Sumbertaman berharap ada campur tangan dari pemerintah agar harga kedelai kembali stabil.

“Para pejual tempe masih bisa bertahan di situasi pandemi seperti ini saja sudah bagus malah sekarang dihantam harga kedelai yang melonjak tinggi semoga pemerintah cepat tanggap apa yang menjadi keluhan pembuat tempe rumahan ini,” ungkapnya.

Lebih lanjut pria yang juga menjadi Ketua RW ini menegaskan bahwa di untuk tempe yang beredar di Probolinggo dan sekitarnya sebagian besar berasal dari Kampung Tempe, Kelurahan Sumbertaman.

“Di Kampung Tempe sendiri yang masuk dalam wilayah RW 2 kurang lebih ada sekitar 90 an belum lagi dari di RW lain. Pokok pas jika sebutan kampung tempe disematkan pada Kelurahan Sumbertaman,” pungkasnya. (reb)

No More Posts Available.

No more pages to load.