PETISI.CO
OPINI

In Memoriam Mahya Ramdhani

Oleh : Dwiki Setiyawan*

Seorang lelaki separoh baya pamit pada istrinya akan ke ATM. Sekira 750 meter dari kediamannya, di kompleks perumahan belakang Brimob Kelapa Dua Depok

Langkahnya gontai dan berat. Dia baru tahap pemulihan sakit stroke yang diderita. Dan rutin kontrol ke Rumah Sakit Otak Cawang Jakarta Timur

Ia pencet tombol-tombol  mesin ATM. Dengan jari-jemari bergetar, memasukkan nominal Rp 500 ribu. Bermaksud transfer untuk nyumbang kegiatan HMI.

Namun tak terkirim-kirim. Sedikit bingung, pun linglung. Ia sungguh tak tahu, bila saldo rekeningnya sesungguhnya tak mencukupi

Begitulah salah satu kepribadian Mahya Ramdhani. Komitmen Dhani, demikian sapaannya, untuk bantu kegiatan yunior-yunior Hijau Hitam. Tak lekang oleh panas maupun tak lapuk oleh hujan. Walaupun ia sendiri dalam keterbatasan

Tidak sampai di situ, keluar dari ATM (dengan transfer yang gagal tersebut), ia bermaksud pulang ke rumahnya. Tetapi, malah berputar-putar di jalan-jalan kompleks perumahannya. Tak kunjung tiba di rumahnya, hingga istrinya menemukan dan menjemput pulang.

Baca Juga :  Jurnalis Muda Merasa Minder
Alm. Mahya Ramdhani

Dhani aku kenal sejak dia di bangku SMP. Ayahnya, almarhum H.M. Tolchah, guru di SMA Batik, alumni yang juga donatur tetap bulanan HMI Cabang Solo. Ibunya berbisnis emping. Sementara kakak kandungnya, Rina Ekowati, mantan Ketua Umum LAPMI HMI Cabang Solo dan alumni Jurusan Administrasi Negara Fisip UNS.

Kediaman orang tua Dhani di Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo beberapa kali jadi ajang rapat redaksi Majalah “Insan Cita” yang diterbitkan LAPMI HMI Cabang Solo –dimana kakak Dhani, Rina Ekowati jadi ketuanya.

Saat rapat intern yang mayoritas dewan redaksinya perempuan itu, Dhani sesekali muncul. Mengantar jamuan, sembari senyum mengembang.

Pun dia, kadang yang membukakan pintu saat diriku ngolek donatur tetap atas nama ayahnya. Lantas diriku ngobrol dengan Mas Tolchah. Diakhiri isi nominal di bulan berjalan pada kartu donasi disertai minta tanda tangan.

Baca Juga :  Masa Tenang dan Penjara Empat Tahun

Intensitas acapkali bertemu kader-kader HMI di rumahnya itu, barangkali yang memotivasi Dhani masuk HMI saat ia melanjutkan studi di perguruan tinggi. Ia kuliah di Politeknik Universitas Indonesia (kemudian pisah jadi Politeknik Negeri Jakarta), dan bergabung dengan HMI Cabang Depok.

Karir Dhani di HMI termasuk moncer. Terpilih sebagai Ketua Umum Badan Koordinasi Nasional Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Bakornas LAPMI). Pula pernah mencalonkan diri sebagai Kandidat Ketua Umum PB HMI.

Kedekatan Dhani dengan Mas Tom (Sulastomo, Ketum PB HMI Periode 1963-1966) sejak di HMI, membawa dia mengasah pisau jurnalistik di Harian Pelita.

Baca Juga :  Adu Kuat Legalitas AD ART Partai Demokrat dan Sikap Kemenkumham

Kalo aku amati, lantaran Harian Pelita memberi tempat untuk berita-berita Tentara Nasional Indonesia (TNI), relasi Dhani di kalangan perwira menengah dan tinggi 3 matra TNI cukup luas.

Sementara itu, dalam pergaulan sehari-hari, Dhani berpembawaan kalem. Ciri khas Solo-nya mengejawantah dalam perilaku dia.

Anak sulung Dhani kebetulan satu angkatan dengan putra bungsuku. Kini sama-sama di Kelas IX SMPN 179 Jakarta Timur.

Cukup sering diriku jumpa di sekolah. Sejak penerimaan siswa baru hingga sebelum pandemi covid menjelang.

Sekalipun ia belum pulih benar dari sakit stroke yang diderita, ia masih terlihat mengantar ke sekolah anak sulungnya.

Akhir kata, selamat jalan Dhani. Semoga husnul khotimah. Surga kan menanti. Amin YRA.

Jakarta Timur, 26 Februari 2021.

*)penulis adalah  Ketua Umum Bakornas LAPMI PB HMI Periode 1997-1999

terkait

Mempertanyakan Kejujuran Pilkada Kabupaten Banyuasin

redaksi

Hj. Nina Soekarwo, Ibunya Warga Jawa Timur

redaksi

Runtuhnya Bangunan Hukum dalam UU Cipta Kerja

redaksi
Open

Close