PETISI.CO
OPINI

Intelijen Indonesia dalam Pusaran Perang Tanpa Peperangan

Oleh : Ken Bimo Sultoni*

Pada hari Rabu tanggal 9 September 2020 lalu, Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) telah mengadakan acara Inaugurasi Peningkatan Status dan Peresmian Patung Bung Karno di STIN, Bogor, Jawa Barat.

Acara ini juga dihadiri beberapa pejabat  tinggi pemerintahan dan juga militer, seperti Ketua DPR Puan Maharani, Kepala BIN Jenderal Budi Gunawan, mantan Kepala BIN Jenderal (purn) A. M. Hendropriyono, Komandan Korps Marinir (Dankormar) Mayor Jenderal TNI (Mar) Suhartono, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Bambang Soesatyo, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Tjahjo Kumolo, Ketua Komisi I DPR Meutya Hafidz, dan Ketua Fraksi PDIP DPR Utut Adianto.

Yang menarik perhatian dalam acara tersebut adalah pertunjukan dari Pasukan Khusus Rajawali yang dimiliki oleh Badan Intelijen Negara, dengan berseragam hitam dan loreng mereka menunjukkan beberapa atraksi kepada para penonton.

Peristiwa mengagetkan itu pastinya menjadi pertanyaan banyak pihak, mengapa sebuah lembaga rahasia seperti BIN memiliki pasukan khusus.

Mengutip pernyataan yang diberikan oleh Deputi 7 Badan Intelijen Negara, Wawan Purwanto pada TV One, bahwa kehadiran pasukan tersebut hanya bagian dari penutupan dikintelsus atau pendidikan intelijen khusus yang bertujuan untuk mempertunjukkan ketangkasan dan kemahiran para siswanya setelah pendidikan.

Akan tetapi, hal ini menjadi pro-kontra di tengah masyarakat, seperti yang dikutip dari CNNIndonesia pengamat militer Institute For Security and Strategic Studies (ISSES) Khairul Fahmi mengatakan, dalam UU No 17 tahun 2011 dan Perpres No 73 tahun 2017, dinyatakan bahwa BIN memiliki fungsi penyelidikan, pengamanan, dan penggalangan.

Tetapi tidak ada pasal atau ayat yang menyebutkan secara tersurat BIN boleh memiliki pasukan bersenjata. Ia juga menambahkan bahwa secara konstitusional negara hanya mengenal dua bentuk kekuatan bersenjata, yaitu TNI dan POLRI.

Keberadaan pasukan khusus layaknya Pasukan Rajawali oleh BIN semestinya tidak harus dipertontonkan secara heboh dan terbuka kepada publik. Hal ini bertujuan untuk menjaga sifat kerahasiaan yang dimiliki oleh lembaga telik sandi ini.

Badan Intelijen Negara (BIN) adalah lembaga rahasia milik Negara Kesatuan Republik Indonesia yang memiliki sejarah panjang dalam pembentukannya. Dimulai dari komandan intelijen pertamanya Zulkifli Lubis yang meletakkan dasar-dasar ilmu intelijen pertama hingga kepala BIN saat ini yang dijabat oleh Jendral Polisi Budi Gunawan.

Penggunaan taktik dan strategi intelijen selalu berkembang sepanjang umur negara ini berjalan, pengembangan SDM maupun infrastrukturnya pun terus diupayakan agar dapat tetap maksimal dalam melindungi keutuhan negara.

Akan tetapi penyerapan gaya militer pada lembaga rahasia sekelas BIN dirasa bukan menjadi jawaban dalam peningkatan mutu insan intelijen yang ada di Indonesia. Apabila hal itu benar-benar terjadi bayang-bayang Orde Baru seakan akan meneyelimuti lembaga rahasia ini dan mungkin saja nantinya dapat menjadi bumerang yang merugikan negara.

Penguasaan teknologi dan informasi seharusnya lebih menjadi solusi praktis dan kunci utama yang harus bisa dikembangkan oleh insan intelijen saat ini, sehingga hal-hal seperti kebocoran informasi maupun kejadian yang membahayakan seperti siber terorisme, peretasan maupun pelumpuhan keamanan negara dapat dicegah dan ditanggulangi secara optimal.

Seperti dikutip dari CNN Indonesia, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menyebut dunia dan Indonesia saat ini memasuki perang generasi kelima. Perang generasi kelima ini bisa didefinisikan sebagai perang tak kasat mata.

Kepala BSSN Hinsa Siburian menjelaskan, perang kasat mata ini adalah perang informasi dan propaganda, perang ekonomi, hingga serangan siber.

Mengutip dari ahli strategi perang Sun Tzu, Hinsa mengatakan bahwa perang terjadi setiap saat. Kutipan Sun Tzu tersebut, bagi Hinsa cocok apabila dikaitkan dengan konteks perang generasi kelima yang terjadi setiap saat.

Di era yang serba digital saat ini, informasi merupakan senjata yang paling ampuh dalam mengalahkan maupun menaklukan lawan. Pentinganya informasi bagi seorang Zulkifli Lubis yang sering disebut sebagai bapak intelijen pertama Indonesia ini menyaamakan posisinya dengan sebuah “nasihat”. Terinspirasi dari perkataan ibundanya, ia mengatakan bahwa dalam kehidupan ini yang paling utama adalah mencari nasihat, bukan memberi nasihat.

Dalam kehidupan seseorang apabila dirinya sombong maka ia tidak akan mendapatkan nasihat atau informasi yang ia inginkan tersebut.

Apabila kita menyandingkannya dengan asas negara demokrasi maka, satu segi dari nilai demokrasi itu adalah mampu mengendalikan diri mencari nasihat. Bahkan dalam Majalah Tempo edisi 29 Juli 1989 Zulkifli Lubis menerangkan bahwa pentingnya mencari nasihat kepada orang-orang yang dianggap kapabel sebagai bagian dari seni intelijen teritorial, seperti meminta nasihat atau wejangan kepada orang yang paling tua (tokoh masyarakat), alim ulama (tokoh agama), guru (tokoh pendidikan), orang dermawan yang kaya (tokoh perekonomian). Semua itu merupakan contoh penerapan sederhana dari penggunaan seni intelijen dalam segi pengamanan teritorial.

Sejarah pembentukan kesatuan pasukan intelijen sebenarnya telah ada sejak perjuangan Zulkifli Lubis sebagai pelopor intelijen Indonesia, dimana ia mengakomodir golongan pemuda yang dianggapnya berani dan juga cerdas untuk direkrut menjadi kesatuan unit khusus yang biasa disebut dengan nama Prajurit Perang Fikiran (PPF).

Dalam waktu yang relatif singkat para kader PPF ini diberikan pelajaran intelijen antara lain adalah: aplikasi intelijen, informasi, sabotase, dan psywar.  Dikemudian hari para PPF inilah yang berhasil mengobrak-abrik rencana pasukan militer Belanda yang saat itu berniat mendirikan negara-negara boneka di wilayah negara Republik Indonesia.

Keberadaan pasukan bersenjata yang menitikberatkan pada aplikasi penggunaan alat tempur dalam aktifitas intelijennya hanya akan membuat lembaga sekelas BIN mengalami kemerosotan, dan hal ini pun sesungguhnya hanya menunjukan ketidakmampuan agen BIN sebagai Prajurit Perang Fikiran.

Seharusnya BIN kembali melakukan kilas balik terhadap penerapan aktifitas intelijen yang lebih bertumpu pada seni pengumpulan informasi tanpa konflik dan gaduh seperti psywar yang dilakukan oleh Zulkifli Lubis dan PPF-nya.

Informasi atau nasihat bagi dunia intelijen layaknya mata koin yang tak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Keberadaan insan intelijen yang rahasia digunakan untuk mengungkap dan mendapatkan informasi yang sifatnya rahasia pula.

Dalam prakteknya, apabila sebuah lembaga ataupun agen intelijen tidak dapat menjaga maupun mendapatkan informasi tersebut hampir dapat dipastikan bahwa fungsinya sebagai pisau intelijen negara dapat dianggap gagal.

Informasi atau nasihat juga diperlukan untuk dapat meminimalisir terjadinya konflik fisik maupun material yang hampir mungkin mengahabiskan biaya yang cukup besar. Sehingga sosok intelijen memainkan peranan penting agar dapat meminimalisir konflik tersebut.

Selain peningkatan mutu pada penguasaan teknologi maupun informasi, Insan intelijen juga dituntut harus bisa menguasai teknik intelijen penggalangan secara baik dan benar.

Seperti yang pernah dikatakan oleh Sun Tzu dalam manuscriptnya pada buku The Art of War bahwa untuk memenangkan sebuah peperangan maka seorang pemimpin perang juga harus bisa memangkan hati dan juga pikiran rakyatnya.

Dalam prakteknya di dunia kemiliteran adapun teknik intelijen penggalangan dikenal pula dengan sebutan pembinaan teritorial (Binter) yang bertujuan untuk dapat mengakomodir ketahanan semesta.

Dikutip dari majalah WIRA terbitan Kemenhan Volume 51/No. 35/November-Desember 2014 adapun sasaran pembinaan teritorial (Binter) adalah terwujudnya Lima Kemampuan Teritorial tingkat Satuan yang meliputi, Kemampuan Temu Cepat dan Lapor Cepat, Kemampuan Manajemen Teritorial, Kemampuan Penguasaan Wilayah, Kemampuan Pembinaan Perlawanan Rakyat dan Kemampuan Komunikasi Sosial.

Tercapainya 5 sasaran Binter yang tidak lain sama dengan tercapainya penguasaan suatu wilayah geografi lengkap dengan penduduknya dengan cara membantu atasi kesulitan masyarakat tanpa menggunakan alat peralatan perang menunjukkan justifikasi terhadap aplikasi teori Sun Tzu “A Great General Wins Without Battle”.

Dikutip dari buku Intelijen sebagai Ilmu, secara umum intelijen pertahanan dan militer dapat digolongkan ke dalam dua kelompok besar yaitu intelijen strategis dan intelijen taktis-operasional. Intelijen strategis adalah intelijen nasional yang digunakan untuk merumuskan dan melaksanakan kebijakan keamanan nasional. Intelijen strategis biasanya merupakan kegiatan normal yang bisa dijalankan di masa damai dan perang dengan mencari informasi di setiap aspek dari perkembangan lingkungan strategis dan analisa ancaman, perkembangan negara-negara lain yang mencakup kekuatan dan kelemahan baik materi maupun non-materiil.

Sementara intelijen, intelijen taktis, terutama dalam pengertian militer, berkaitan dengan pengumpulan dan analisa informasi di lapangan atau di medan pertempuran yang diperlukan oleh komandan untuk medukung keberhasilan operasi mereka di lapangan.

Apabila dilihat secara seksama pada dasarnya konotasi pertempuran yang dilakukan oleh insan intelijen lebih mengacu kepada basis informasi sebagai senjata dan juga pertahanannya. Kemampuan khusus yang dimiliki oleh BIN sebagai lemabaga rahasia tingkat nasional seharusnya lebih mereorientasikan diri pada peningkatan kemampuan intelijen strategis yang berfokus pada perumusan dan pelaksanaan kebijakan keamanan nasional di masa damai.

Sementara kekuatan intelijen taktis alangkah lebih baik apabila fungsinya diberikan kepada satuan militer yang memang berfokus pada keamanan dimasa perang maupun konflik. Semua itu perlu dilakukan agar tidak terjadi tumpang tindih wewenang dan juga fungsi yang seharusnya dilakukan oleh masing-masing lembaga rahasia yang dimiliki oleh Negara.(*)

*)penulis adalah pemerhati sosial politik, alumnus FISIP Universitas Diponegoro

 Sumber :

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200912161545-20-545675/pengamat-bin-tak-boleh-punya-pasukan-khusus-bersenjata

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190710165703-185-410946/bssn-sebut-indonesia-alami-perang-tak-kasat-mata

https://www.youtube.com/watch?v=fmdBbpCFDfo&ab_channel=tvOneNews

https://www.kemhan.go.id/wp-content/uploads/2015/02/425077Wira-Nov-Des-2014-Fix-kecil.pdf

http://djokja1945.blogspot.com/2015/09/sejarah-badan-inteljen-di-indonesia.html

https://majalah.tempo.co/read/memoar/23234/komandan-intelijen-pertama

Jono Hatmodjo, Intelijen Sebagai Ilmu (Jakarta: Balai Pustaka, 2003), h.136-139.

https://nasional.okezone.com/read/2020/09/12/337/2276586/puan-maharani-hingga-hendropriyono-diangkat-menjadi-warga-kehormatan-bin

https://historia.id/militer/articles/zulkifli-lubis-bapak-intelijen-indonesia-DrBXE

terkait

Sistem Pemilihan Umum Multi Partai Versi Indonesia

redaksi

Paradigma Pahlawan Masa Depan

redaksi

Masa Tenang dan Penjara Empat Tahun

redaksi
Open

Close