JEMBER, PETISI.CO – Kondisi jembatan yang ada di Desa Nogosari, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember sudah sangat tua dan butuh perhatian serta perawatan khusus. Pasalnya jembatan tersebut di musim tebang giling tebu PG Semboro tahun 2024, ribuan truk angkutan tebu dengan tonase yang sangat berat akan melewati jembatan tua tersebut dalam kurun waktu kurang lebih 4 sampai 5 bulan.
“Kami berharap kepada truk angkutan tebu milik PG Semboro membatasi muatannya, pasalnya kondisi jembatan di Desa Nogosari tersebut sudah sangat tua,” ujar Didik Wijaya (43) warga Desa Nogosari, Kamis (6/6/2024).
Agar Jembatan tersebut awet dan tetap bisa dilewati, Didik khawatir jika jembatan tersebut dibebani dengan muatan yang sangat berat akan ambruk dan memakan korban jiwa.
Diketahui Didik Wijaya adalah warga Desa Nogosari yang berprofesi sebagai pedagang yang rumahnya berjarak sekitar 350 meter dari jembatan penghubung antara Desa Nogosari dan Desa Rowotamtu.
Sementara itu saat dihubungi media ini lewat sambungan telpon WhatsApp soal permohonan pembatasan muatan truk angkutan tebu di musim giling tahun 2024, salah satu staf di PG Semboro Budi mengatakan, yang mengangkut tebu adalah truk kecil kecil.
Sedangkan saat dikomfirmasi seputar muatan truk angkutan tebu PG Semboro yang dikeluhkan warga salah satu Muspika Rambipuji akan menyampaikan keluhan warga Desa Nogosari ke pihak PG Semboro. “Kita akan sampaikan ke pihak Spada,” tuturnya.
Dari pantauan media ini jembatan Nogosari tersebut adalah jembatan penghubung dan bisa di sebut jembatan urat nadi bagi aktivitas ekonomi yang ada di Kecamatan Rambipuji wilayah selatan.
Di ebut jembatan urat nadi ekonomi karena setia hari jembatan tersebut dilewati oleh kendaraan angkutan baik perusahaan maupun masyarakat dan juga penghubung antara Kecamatan Rambipuji, Balung Jenggawah, dan Kecamatan Wuluhan serta Ajung.
Sedangkan luas lahan tebu milik PG Semboro yang ada di Desa Nogosari tersebut kurang lebih seluas 350 hektar. (git)






