Belajar dari Al-Khozini untuk Indonesiaku (2)
Oleh: Dr. Mujib Ridlwan, MA., MSi*
Musibah robohnya musala di Pondok Pesantren Al Khozini menyisakan cerita duka, cerita empati, dan sekaligus cerita membanggakan.
Cerita para korban yang masih diberi kesempatan hidup yang berserak di berbagai laman, mulai media cetak, sampai media online dan laman-laman pribadi berseliweran.
Orangtua yang ditinggalkan anaknya tentu menyikan cerita duka mendalam bahkan sudah tak bisa keluar air mata karena terlalu lamanya bersedih. Tetapi dibalik cerita duka dan sedih itu, menyisikan cerita heroik dan membanggakan, sebuah rangkuman cerita dari tutur para santri yang menjadi korban dan masih hidup, sebuah karakter yang sangat bagus dan indah untuk didengarkan berulang berulang.
Misalnya, terdapat santri selamat yang menuturkan selama di bawah gelapnya reruntuhan mereka tidak mau meninggalkan shalat jamaah. Tidak mudah mendidik anak usia belasan tahun untuk sampai pada tingkat itu. Dalam hal ini, saya angkat topi kepada para kiai dan guru Pesantren Al Khozini.
Bukan hanya soal sholat jamaah yang masih terlaksana di tengah himpitan beton, empati para santri dengan teman lainnya juga sangat tinggi. Salah satunya, mereka yang jiwanya terancam tapi sempat menolong dan mendahulukan teman lainnya.
Misalnya ketika dirinya sudah seharian tidak minum, justru teman yang didahulukan. Ada lagi yang menuturkan, ada gelas minum di sekitarnya tetapi seorang santri tidak mau minum—meskipun haus– karena Ia punya keyakinan bahwa minuman itu bukan miliknya.
Secuil cerita ini mengingatkan saya pada cerita pemuda bernama Idris (ayah Imam Syafi’i), yang menemukan buah delima mengapung di suangi, karena lapar pemuda Idris ini mengambilnya dan menggigitnya satu gigitan.
Begitu digigit Ia merasa tidak ikut memiliki mencoba mencari pemiliknya untuk meminta halalnya dari satu gigitan buah delima yang sudah terlanjur masuk perut.
Idris akhirnya bertemu dengan seseorang yang mengaku pemiliki pohon dari buah delima itu dan kemudian Ia sampaikan maksudnya. Sayangnya, maksudnya ditolak—tidak dihalalkan—sebelum dipenuhi syaratnya, yaitu menjadi pekerja di rumahnya selama 4 tahun.
Pemuda Indris pun memenuhi syarat itu. Singkat cerita, sampai 4 tahun disuruh nambah setahun lagi, Idris pun menurutinya. Begitu pamit, ada satu syarat lagi agar menikahi putri yang cacat. Pemuda Idris Kembali tidak menolak syarat ketiga kalinya itu. Nikahlah dan ternyata istrinya tidak seperti yang disampaikan mertuanya, istrinya orang yang cantik dan sholehah.
Cerita ini saya tarik jauh ke belakang sebatas bernostalgia terhadap cerita masa lalu dan rindu suasana itu di saat soal halal haram tidak menjadi perhatian serius di negeriku, Indonesia.
Karakter itu Dibutuhkan Indonesiaku
“Mendahulukan kepentingan orang lain saat dirinya butuh. Dan tidak mau makan atau minum, kecuali dipastikan kehalalannya,” pasti jarang yang memiliki karakter ini. Tetapi peristiwa empirisnya masih ada dan bisa dibuktikan pada sebagian santri Al Khozini yang menjadi korban musibah ambruknya musala pesantren Al Khozini.
Tentu langka dan menjadi secerca harapan untuk 20 – 40 tahun ke depan bagi kemajuan Indonesiaku pada saat anak-anak yang digembleng hari ini menjadi dewasa dan menempati pos pos penting di Indonesia.
Persoalannya, apakah mereka yang memiliki karakter seperti itu mau memasuki dunia yang sama sakali jauh dari karakter yang dimilikinya?
Jika mau, apakah karakter itu masih bisa bertahan saat memasuki sistem yang sama sekali tidak support dengan karakternya?
Ini pertanyaan mendasar yang perlu perenungan. Karena terkadang ketika masuk di dunia pemerintahan, awalnya baik—tidak mau mengambil barang yang bukan haknya— setelah proses sekian lama, tiba-tiba tergerus.
Intan tetaplah intan saat kecemplung comberan. Tetapi ini juga sulit dan pasti langka.
Lantas bagaimana mengawali dan dari mana memulai untuk mengurai akar korupsi di Indonesia. Tentu ini butuh proses dan waktu. Setidaknya sejak dini sudah digelorakan bahwa mengambil hak orang lain itu tidak baik.
Dan kalimat ini tidak boleh dibiarkan diam, harus terus digelindingkan agar segera menjadi kesadaran baru dan terinternalisasi nilai dalam diri masing masing individu anak bangsa. Indonesiaku sangat membutuhkan karakter-karakter yang dimiliki para santri Al Khoizi, punya empati dan tidak mau makan atau minum kecuali haknya.
Saya ingat di Tuban, waktu itu ada seorang Sekretaris Daerah (Sekda) yang beberapa tahun lalu telah meninggal dunia. Meskipun jabatannya mentereng untuk ukuran kabupaten, tetapi Ia sangat hati hati soal mengambil bukan haknya.
Bahkan, jika keluarganya ke kantor, baik istri maupun anaknya tidak diperbolehkan makan atau minum hidangan yang ada di meja kantornya karena bukan haknya. Ia lebih baik mengeluarkan uang pribadinya untuk membelikan istri dan anaknya dibanding makan dan minum yang bukan haknya. Sekali lagi, langka karakter seperti ini di Indonesia.
Masih Mengharap dari Jalur Pendidikan
Untuk pembentukan karakter anak bangsa dan meminimalisir laku korup satu-satunya yang diharapkan adalah lembaga Pendidikan. Plato yang hidup 500 tahun sebelum masehi telah menyampaikan satu pendapatnya bahwa fungsi pendidikan adalah memanusikan manusia (menjadikan manusia menjadi manusia)–memiliki karakter dan bijak dalam menyikapi proses hidup.
Tetapi pendidikan seperti apa yang tepat untuk mendidik calon-calon pemimpin bangsa ini agar memiliki karakter tidak korup. Pengajaran tasawuf dengan dimodifikasi saya kira menjadi jawaban sementara.
Kenapa perlu modivikasi tasawuf, karena sebagain orang ketika mendengar kata tasawuf itu sudah takut duluan. Dulu pernah ada kurikulum akhlak, nah itu kira-kira yang paling mudah diterima oleh semua kalangan.
Tentu harus belajar banyak kepada para guru dan kiai pesantren Al Khozini yang tidak sengaja ditunjukkan kepada kita hasil pendidikan karakter terhadap para santrinya melalui musibah robohnya musala pesantren Al Khozini.
Memang, ketika pendidikan dijadikan tumpuan untuk membenahi negeri ini, masih ada yang meragukan, karena petinggi Pendidikan saja kesandung korupsi.
Kira kira bisa dikatakan “Lembaga pendidikan terbaik dari yang terjelek.” Tawaran Pendidikan menjadi garda terdepan untuk mengurai persoalan negeri ini, saya berkeyakinan bisa, asalkan di luar Pendidikan juga memberikan suportnya.
Lagi lagi yang meragukan juga tidak sedikit. Tetapi tidak masalah, Pendidikan harus terus bergerak untuk membuat semakin generasi emas untuk 20 tahun ke depan. Indonesia bebes korupsi tahun 2045. Wassalamualaikum.
*) penulis adalah Direktur Pascasarjana Universitas Al Hikmah Indonesia





