Kata-kata di Tangan Wartawan

oleh -1347 Dilihat
oleh
Zainal Arifin Emka
Oleh: Zainal Arifin Emka

KATA penyiar televisi: “Para korban bencana alam kini mengungsi ke tempat yang lebih aman.”

Kata penonton: “Ya yalah, kalau mengungsi tentu ke tempat yang lebih aman. Masak mengungsi ke tempat yang lebih berbahaya!”

Kalimat “mengungsi ke tempat yang lebih aman” di samping tak memberi cukup informasi, sekaligus menunjukkan kemalasan berpikir dan bekerja.

Kita juga sering membaca kalimat: “Kapolres berjanji, jika terbukti anak buahnya melakukan kesalahan, akan ditindak sesuai peraturan yang berlaku.” Benar, sebab memang tak mungkin menindak orang bersalah berdasar peraturan yang tidak berlaku.

Sedikit lebih kacau karena tak jelas judul berita ini: Aksi Pengrusakan Itu Diduga Dilakukan Oleh Oknum yang Tidak Bertanggung Jawab.

Kata Mubadzir
Para guru bahasa suka mengingatkan kita untuk berhemat dalam menggunakan kata. “Terapkanlah prinsip ekonomi kata. Artinya, buang kata-kata yang mubadzir,” katanya.

Nasihat sang guru itu, kini perlu diurai lebih lanjut: berhati-hati juga dalam memilih kata. Lidah memang tak bertulang. Tapi bisa mencelakai orang. Lidah bisa setajam pedang karena lontaran kata-kata yang dipilihnya.

Para guru komunikasi juga mengingatkan bahwa makna kata sangat subyektif. Bahkan kamus yang diasumsikan hanya menyampaikan makna kata secara objektif pun, konon juga menyajikan makna kata secara subjektif. Apalagi kata di tangan wartawan yang seperti halnya rocker juga manusia. Meski wartawan sudah didoktrin untuk berlaku objektif.

Salah satu yang memengaruhi pemberian makna kata adalah ideologi yang dianut seseorang. Dan sebagai bagian dari komunitas manusia, wartawan juga berideologi. Pada gilirannya, dengan ideologinya, wartawan memberi makna pada realitas sosial yang diliputnya. Dengan bahasa tertentu yang diwujudkan pada pemilihan kata wartawan mencoba membentuk realitas sosial. Dengan suka rela atau dengan sukar rela.

Pada suatu masa, wartawan dengan sukar rela harus melaporkan fakta kasus busung lapar karena kemiskinan dengan menyebutnya sebagai “gejala-gejala kurang makan yang diakibatkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi.” Menyebut pungutan liar sebagai “sumbangan”. Atau menyebut korupsi dengan “penyalahgunaan jabatan”, dan menyebut penganiayaan berat oleh aparat sebagai “kesalahan prosedur penanganan”.

Di balik setiap kata ada ideologi. PSK: Pekerja Sex Komersial adalah ideologi kebebasan wanita (women libs). WTS: Wanita Tuna Susila. Ada unsur sanksi moral di sana. Pertanyaannya: Apa sebutan untuk lelaki konsumennya?

Sejauh Mana?
Begitulah, pergantian elite penguasa biasanya mempunyai implikasi pergantian “bahasa”. Setiap elite akan menyusun “kamus” yang khas penguasa. Lewat proses setengah ajaib kamus ini kemudian dimasyarakatkan.

Saya sedih membaca laporan wartawan yang mengikuti kunjungan seorang bupati dalam kalimat, “Di tengah-tengah kesibukannya yang padat, Bupati Kadal masih menyempatkan diri meninjau korban bencana alam”.

Padahal, bukankah meninjau rakyat yang tertimpa musibah sudah menjadi kewajiban sang bupati. Dan, untuk pekerjaan itu antara lain ia dibayar?!
(Catatan: Pilihan kata ‘Bupati Kadal’ juga menunjukkan kekecewaan saya atas munculnya beberapa kepala daerah produk Pilkadal).

Tak sepenuhnya menggembirakan, melihat sebagian besar nara sumber media massa masih tetap kalangan elite kekuasaan. Mereka ada di gedung parlemen, istana dan pendapa, markas polisi dan markas tentara. Kalangan ini berjaya di antaranya karena didukung sepenuhnya oleh keberadaan wartawan elitis.

Alhasil, bagaimanapun perlu diingatkan agar wartawan tidak sampai kehilangan daya kritisnya dengan menampung apa saja kata penguasa dan kemudian menjejalkannya begitu saja kepada khalayaknya.

Wartawan bukanlah pemulung dan media massa bukanlah bak sampah.
Apa sih susahnya bertanya lebih lanjut: Mengungsi ke tempat aman mana? Masjid, gereja, gedung sekolah, stadion, atau hotel? Juga: Ditindak dengan peraturan pasal berapa? Sanksinya apa?

Sungguh, andai saya seorang pejabat ditanya wartawan: Sejauh mana hasilnya? Saya jawab: Sudah jauh! (*)

*penulis adalah: Wartawan Tua, Pengajar Jurnalistik

No More Posts Available.

No more pages to load.