Oleh: Zainal Arifin Emka
SEJUJURNYA selama ini kita pura-pura tidak dengar: suara hutan yang dirusak!
Banjir di Sumatra kembali menunjukkan dengan sangat telanjang fakta kerusakan itu. Kali ini, hutan tidak lagi berbisik. Ia berteriak. Dan teriakannya datang dalam bentuk kayu gelondongan besar, basah, telanjang, dan tanpa malu-malu terbawa arus menuju permukiman.
Lalu muncul pernyataan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni: “Itu bukan hasil pembalakan liar, hanya pohon tumbang.” Begitu cepat, begitu pasti, begitu meredupkan keresahan publik. Raja Juli seperti melecehkan kita. Seolah yang kita lihat hanya ilusi mata.
Mari kita bertanya dengan jujur kepada diri sendiri:
Sejak kapan pohon tumbang sendiri menghasilkan kayu gelondongan sebesar itu, dalam jumlah sebanyak itu, di tempat dengan sejarah deforestasi sepanjang itu?
Narasi Penenang
Rakyat paham betul pola ini. Ketika bencana datang, alam selalu disalahkan, curah hujan dipersalahkan, cuaca dikambinghitamkan, laporan teknis disiapkan. Namun ketika jejak kerusakan muncul ke permukaan, justru narasi penenang yang didahulukan. Seakan-akan kebenaran bisa dipindahkan dengan satu kalimat.
Padahal yang publik minta sederhana: jangan mendahului fakta. Jangan menutup pintu sebelum penyelidikan dimulai. Jangan membuat kesimpulan sementara yang lebih seperti tameng daripada penjelasan.
Bukan rahasia bahwa hutan di Sumatra telah lama digerogoti. Izin diteken, pengawasan longgar, tebang pilih berubah jadi tebang habis. Jika hutan bisa bersaksi, kayu-kayu yang hanyut itu adalah buktinya—bukti yang melintas di depan mata.
Karena itu, pernyataan yang tergesa-gesa justru terasa mencolok. Seakan-akan kita diminta percaya bahwa gelondongan muncul dari kebaikan alam, bukan dari kelalaian manusia.
Sedang Sekarat
Pertanyaannya sekarang bukan lagi soal banjir.
Pertanyaannya: apakah pejabat publik berani mengakui bahwa hutan kita memang sedang sekarat?
Atau kita masih memilih meninabobokan diri dengan kalimat-kalimat aman yang tak menyentuh akar masalah?
Banjir datang dari langit. Kayu gelondongan datang dari hutan yang dirusak. Dan kebenaran datang dari keberanian untuk tidak lagi menyembunyikan apa yang sudah terlalu jelas.
Jika kita ingin pulih, kita harus mulai dari hal yang paling mendasar: mengatakan apa adanya, bukan apa yang nyaman untuk didengar. (*)
*penulis adalah: Wartawan Tua, Pengajar Stikosa-AWS




