Kolaborasi Inggris-Indonesia Ciptakan Desain Hijau untuk Kota Lama Surabaya

oleh -167 Dilihat
oleh
Pemkot Surabaya menerima desain pengembangan kawasan Kota Lama dari Konsorsium II Program Kota Masa Depan UK PACT

Surabaya, petisi.co – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya telah secara resmi menerima desain pengembangan kawasan Kota Lama dari Konsorsium II Program Kota Masa Depan UK PACT (Partnering for Accelerated Climate Transition) dalam sebuah acara di De Javasche Bank, Selasa (12/11/2024). Program ini merupakan hasil kemitraan antara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI dan Pemerintah Inggris, yang bekerja sama dengan World Resources Institute (WRI) Indonesia, ARUP, dan Vital Strategies.

Desain ini dirancang secara kolaboratif bersama berbagai elemen masyarakat selama enam bulan terakhir, berfokus pada pengembangan Kota Lama Surabaya yang lebih berkelanjutan dan inklusif. Serah terima dilakukan dalam rangkaian acara Pekan Kota Lama Surabaya yang berlangsung pada 9-17 November 2024, bertemakan “Merawat Ingatan, Menatap Masa Depan, Menciptakan Pengalaman Bersama”.

Sebagai bagian dari acara, sebuah pameran dibuka untuk umum mulai 12-17 November 2024 di De Javasche Bank, menampilkan maket, peta proyeksi, dan panel edukatif yang menggambarkan visi masa depan kawasan Kota Lama.

Desain pengembangan kawasan ini menggunakan dua pendekatan: makro dan mikro. Pada tingkat makro, desainnya menghubungkan empat sub-kawasan utama Kota Lama (zona Eropa, Ampel, Pecinan, dan Jembatan Merah/Kalimas sebagai kawasan niaga) melalui jaringan mobilitas aktif, seperti jalur pejalan kaki, kendaraan tidak bermotor, dan aktivasi koridor sungai. Di tingkat mikro, fokus diberikan pada tiga koridor prioritas untuk mendukung ekonomi kreatif, sosial, dan pelestarian budaya.

Kepala Bappeda Litbang Kota Surabaya, Irvan Wahyudrajad, mengapresiasi desain ini karena sejalan dengan upaya Pemkot dalam mengembangkan potensi kawasan Kota Lama, termasuk peningkatan fungsionalitas bangunan bersejarah serta optimalisasi ekonomi dan pariwisata.

“Kami berharap desain ini menjadi panduan untuk pembangunan berkelanjutan di Surabaya, yang melibatkan warga serta mempertimbangkan kebutuhan semua kalangan,” ungkap Irvan.

Irvan juga menambahkan bahwa Koridor Jalan Kasuari direkomendasikan sebagai kawasan kreatif yang mendukung usaha kreatif dan kerajinan tangan, sedangkan Koridor Jalan Panggung yang menghubungkan Pasar Pabean dan Sungai Kalimas akan dikembangkan sebagai kawasan kuliner dengan memanfaatkan bangunan bersejarah. Adapun Koridor Jalan Karet di zona Pecinan akan difokuskan pada tekstil dan garmen, dengan pengalaman ruang publik untuk rekreasi, menjadikan Pecinan sebagai pusat budaya dan sejarah dengan fasilitas modern.

Desain ini juga mendorong integrasi transportasi umum, termasuk rute Suroboyo Bus dan Feeder Wira Wiri, untuk memastikan aksesibilitas yang lebih baik dan inklusif bagi seluruh warga.

Direktur Pembangunan British Embassy Jakarta, Amanda McLoughlin, menegaskan komitmen Pemerintah Inggris untuk mendukung pembangunan kota ramah lingkungan di Indonesia. Ia berharap desain ini dapat menjadi pemicu bagi pembangunan kota berkelanjutan yang inklusif di Surabaya.

“Kerja sama ini juga menjadi refleksi dari 75 tahun hubungan diplomatik antara Inggris dan Indonesia, khususnya dalam pembangunan berkelanjutan dan transisi rendah karbon,” ujar Amanda.

Direktur Climate, Energy, Cities, and Ocean WRI Indonesia, Almo Pradana, menambahkan bahwa desain ini dihasilkan melalui kajian ilmiah dan konsultasi publik. Berdasarkan studi ketahanan partisipatif UCRA 2023, mobilitas rendah emisi menjadi kunci ketangguhan masyarakat kota pesisir, yang dapat didorong melalui strategi penataan kawasan.

“Melalui desain ini, kami berharap dapat meningkatkan aksesibilitas dan ketahanan kawasan Kota Lama di masa depan,” ujarnya.

Acara ini juga menampilkan sesi diskusi panel bertema “Menata Surabaya yang Inklusif dan Berkelanjutan Mulai dari Kota Lama,” melibatkan pakar dan tokoh masyarakat dari berbagai bidang. (dvd)

No More Posts Available.

No more pages to load.