Memelihara Harimau Pejabat

oleh -1816 Dilihat
oleh
Zainal Arifin Emka

Oleh: Zainal Arifin Emka*

DUA peristiwa yang berhubungan dengan urusan lisan, terasa menjadi pemanasan peringatan Hari Literasi Nasional, 8 September nanti.

Ada ucapan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, Nusron Wahid tentang tanah yang dibiarkan nganggur selama dua tahun akan diambil alih negara.

“Tanah itu tidak ada yang memiliki. Yang memiliki tanah itu negara, orang itu hanya menguasai. Negara kemudian memberikan hak kepemilikan. Jadi nggak ada istilah tanah kalau belum ada SHM-nya itu dia memiliki, nggak ada. ‘Oh ini tanahnya mbah-mbah saya leluhur saya’. Saya mau tanya emang mbahmu leluhurmu dulu bisa membuat tanah? Nggak bisa membuat tanah,” ujar Nusron. Video pernyataannya sudah beredar, Selasa (12/8/2025).

Dari Kabupaten Pati muncul ucapan Bupati Sudewo yang terkesan menantang rakyat yang menggugat kebijakannya menaikkan pajak. Ndilalah rakyat yang seharusnya dipimpinnya (baca: dibimbingnya atau diayominya), merespon penuh tantangannya.

Nusron sudah minta maaf atas pernyataan yang kemudian disebutnya guyonan. Sedang Sudewo menuai kemarahan warga yang kemudian menuntutnya mundur jadi bupati.

Mulutmu
Lalu di mana nyambungnya dua urusan mulut itu dengan Hari Literasi? Kita mahfum, literasi secara umum berarti kemampuan membaca dan menulis, serta memahami informasi dan pengetahuan. Literasi juga mencakup kemampuan menggunakan berbagai jenis media dan teknologi untuk berkomunikasi, belajar, dan memecahkan masalah.

Setidaknya dalam sepuluh tahun terakhir ini, bangsa awak sudah akrab mendengar omongan pembesar yang nyelekit hingga menyakitkan hati rakyat kebanyakan. Kita memang hidup di era ketika kata-kata begitu mudah dilontarkan, yang kemudian tersebar cepat. Bukan dari mulut ke mulut, tapi dari media ke media.

Nasihat pini sepuh berupa petatah petitih ‘mulutmu harimaumu’ rasanya kehilangan tuahnya. Pentingnya menjaga lisan sudah dianggap hal sepele. Padahal, proses bertutur lisan berasal dari proses berpikir. “Berpikir dua kali, bicara satu kali,” kata Emak.

Keterampilan literasi seseorang berkaitan erat dengan kemampuan bernalar, berbicara, membaca, hingga memahami informasi. Jika fondasi berpikirnya kuat, maka lisannya akan cenderung mampu digunakan bertutur dengan baik.

Kematangan literasi penting. Sebab manakala manusia memiliki keterampilan literasi yang lemah, fondasi berpikir yang salah, maka lisannya pun cenderung salah dan keliru.

Dalam konteks kemampuan menjaga kualitas lisan, literasi menjadi kunci utama yang tak bisa diabaikan. Literasi yang kaya, akan membentuk proses berpikir. Dari proses berpikir yang dikelola oleh otak, literasi dikeluarkan, salah satunya melalui ucapan.

Lisan adalah salah satu nikmat terbesar yang dianugerahkan Allah Swt. Meski begitu, lisan yang tidak dijaga dengan baik, dapat menjadi salah satu sumber malapetaka.

Nasihat Rasulullah saw: katakan hal-hal baik. Jika tidak mampu berkata baik, maka sebaiknya diam. Pilihannya cuma dua: katakan yang baik, kalau tidak mampu, diam. Diam saja. Tidak ada pilihan ketiga.

Jadi, yang banyak itu pilihan medianya. Untuk menyebarkan ucapan baik atau pernyataan buruk. Yang lewat lisan, maupun yang tulisan. Dan, yang juga banyak adalah risiko yang mengikutinya: diminta mundur atau di-rushuffle.

*penulis adalah: Wartawan Tua, Pengajar Jurnalistik