Negara Maju Mulai Larang Smartphone di Sekolah, Indonesia Kapan?

oleh -149 Dilihat
oleh
Ustaz Moh. Fauzil Adhim (tengah) dan Ust. Dr. Moh. Sulthon Amien (kanan) dalam acara kajian Ketupat di SAIM Surabaya, Sabtu (19/4) siang

Surabaya, petisi.co – Ketika banyak sekolah masih berlomba-lomba mendigitalisasi pembelajaran, sejumlah negara maju justru mulai mengambil langkah mundur—kembali ke buku fisik dan papan tulis. Langkah ini bukan tanpa alasan. Pakar parenting dan psikolog, Ustaz Moh. Fauzil Adhim, menyebutkan bahwa penggunaan smartphone dan perangkat digital di kalangan siswa mulai dianggap sebagai ancaman serius terhadap kualitas pendidikan.

Berbicara dalam acara Ketupat SAIM 2025 (Kebersamaan Tiga Generasi) di Sekolah Alam Insan Mulia (SAIM) Surabaya, Sabtu (19/4/25), Ustaz Fauzil mengungkap bahwa New Jersey, Amerika Serikat, akan melarang total penggunaan smartphone bagi siswa mulai 2025—baik di dalam maupun di luar jam sekolah.

“Larangan ini bukan tanpa dasar. Berbagai riset menunjukkan bahwa penggunaan smartphone menurunkan daya ingat, mengganggu konsentrasi, serta melemahkan kemampuan berpikir kritis dan analitis,” jelasnya di hadapan ratusan orang tua, siswa, alumni, dan warga sekolah.

Negara-negara lain pun mulai menempuh kebijakan serupa. Australia melarang akses media sosial bagi siswa SMA ke bawah. Jepang melarang grup WhatsApp antara guru dan wali murid demi menjaga etika komunikasi, menggantinya dengan buku penghubung. Sementara itu, Swedia yang dulu jadi pelopor digitalisasi pendidikan—kini kembali ke metode konvensional: buku fisik dan papan tulis kapur.

Bahkan di Abu Dhabi, para pegawai dianjurkan hanya menggunakan “dumb phone” alias ponsel sederhana tanpa akses internet.

Menjadi Mukmin Kuat di Era Digital

Ustaz Fauzil menekankan pentingnya membentuk generasi yang tidak hanya beriman, tetapi juga kuat dan berdaya. Ia mengutip hadis Rasulullah SAW: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR Muslim).

“Untuk menjadi umat yang berdaya, seseorang harus sungguh-sungguh, total dalam usaha, dan memiliki kemauan keras,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya keluwesan dalam menghadapi perubahan zaman. Menurutnya, di era yang serba cepat ini, seseorang tak bisa hanya fokus pada satu bidang saja. Jika kehilangan pekerjaan, tanpa kemampuan beradaptasi, maka akan sulit bertahan.

“Yang dibutuhkan adalah adjustment dan adaptation. Kemampuan menyesuaikan diri, baik secara perlahan maupun dalam perubahan besar,” jelasnya.

Dan di atas segalanya, Fauzil menekankan pentingnya memohon pertolongan kepada Allah dalam setiap upaya.

“Setiap azan selalu mengajak kita menuju kemenangan: hayya ‘alal falah. Maka jawaban terbaik bukan ‘oke’ atau ‘yes’, tapi la haula wa la quwwata illa billah. Karena semua kekuatan berasal dari Allah semata,” pungkasnya. (cah)

No More Posts Available.

No more pages to load.