Negeriku Menangis, Butuh Cintamu

oleh -2121 Dilihat
oleh
Dr. Mujib Ridlwan, MA., M.Si

Oleh: Dr. Mujib Ridlwan, MA., M.Si*

SUASANA negara yang belakangan kurang sehat menjadi perhatian oleh banyak kalangan, termasuk kalangan akademisi dan mahasiswa.

Muncul satu pertanyaan dari mahasiswa pascasarjana Prodi Manajemen Pendidikan Islam (MPI), “bagaimana caranya supaya negeri ini segera menjadi yang sehat,” tanya seorang mahasiswa kepada pemakalah mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam. Sebuah pertanyaan yang sedikit keluar dari bahasan siang itu, yaitu tentang “Sumber Daya Manusia Perspektif Islam.”

Dari pertanyaan itu muncul bervariasi jawaban dalam diskusi. Ada satu jawaban yang menarik dan menjadi bahasan berdurasi paling lama, yaitu kurangnya dimiliki dan dicintai negeri ini.

Kondisi negeriku menangis, butuh dimiliki (tidak dibiarkan liar) dan butuh dicintai oleh setiap penghuninya. Negeriku sedih dan menangis karena butuh cintamu untuk tangisan kesehajaan pada masa akan datang.

Apa yang menjadi indkasi individu disebut mempunyai rasa memiliki, dalam berbagai literatur disebutkan indikasi orang yang merasa memiliki terhadap sesuatu, Ia akan merawat, menjaga, dan melindungi dari setiap ancaman yang merusaknya.

Satu contoh sederhana, jika seseorang merasa memiliki mobil, maka setiap mobil kotor akan segera (sekali lagi segera bukan menunda) untuk dibersihkan, jika rusak sesegera mungkin dibawa ke bengkel supaya kembali normal, jika ada suara keluar yang tidak semestinya orang yang merasa memiliki akan sedih dan segera memeriksanya.

Beda dengan orang yang hanya status “penyewa mobil atau pencuri mobil”, maka penyewa rerata tidak peduli dengan kondisi mobil, yang penting dapat untung dari mobil apalagi pencuri mobil.

Contoh lain, orangtua yang merasa memiliki terhadap anaknya, mereka akan berusaha membuat anak-anaknya nyaman, mapan dan memiliki masa depan dengan mendidiknya, mengajarinya akhlak atau karakter untuk menyambut zamannya. Jika ada yang mencoba mencelakai atau merusak karakternya, orangtua yang merasa memiliki anaknya itu akan membelanya sekemampuannya.

Indikasi kedua, orang yang merasa memilki terhadap barang atau sesuatu benda, orang itu akan “membangga-banggakan” di depan banyak orang.  Tidak henti hentinya, individu yang merasa memilki akan menceritakan kelebihan dan menutup kekurangan serapat rapatnya di depan banyak orang terhadap barangnya.

Dua indikasi ini setidaknya bisa menjadi bagian dari alat ukur untuk mengatakan apakah sekarang ini anak-anak bangsa sedang merasa memiliki terhadap negaranya atau tidak. Tidak perlu dijelaskan dalam tulisan ini, karena akan menimbulkan singgungan singgungan baru dalam suasana membangun negeri.

Yang terpenting setiap individu dari anggota negeri ini introspeksi, apakah saya ini sudah merasa memiliki (hanya merasa—tidak betul betul memiliki) terhadap negeri ini atau belum.

Negeriku bukan hanya menangis karena penghuninya banyak yang merasa tidak memilki, tapi juga tidak ada rasa cinta. Mengingatkan satu syair karya KH. Wahab Hasbullah yang biasa dikumandangkan oleh nahdliyyin dalam setiap mengawali acara, “Hubbul Wathan Minal Iman” (mencintai negeri itu bagian dari im). Hebatnya cinta dalam membangkitkan rasa empati, sehingga tidak salah kalau negeri ini harus bangkit bersama yang didasari rasa cinta.

Seseorang disebut cinta, saat di dalam dirinya sudah tumbuh suka memberi (tidak meminya apalagi mengambil dengan cara paksa), memiliki empati. Tidak mengambil atau mengambil untung apalagi merampas milik orang yang dicintai. Tenaga, waktu, pikiran dan duwitnya untuk yang dicintai.

Urusan cinta mengingatkan pada cerita Laila dan Majnun (Qois), sebuah cerita yang melegenda, apapun dikorbankan demi yang dicintai, bahkan mati pun keduanya bersama.

Nah, jika ada anggota negeri ini yang mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya dari negeri ini, tanpa memperhatikan kenyamanan negeri, maka bisa digolongkan orang yang tidak mencintai negeri.

Jika ada orang mengatakan orang yang tidak mengibarkan bendera saat Agustusan itu dianggap tidak mencintai negeri itu memang bagian dari indikasi, tetapi merugikan negara dengan mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya untuk pribadinya dan kelompoknya adalah bagian dari orang yang disebut tidak mencintai negeri. Negeriku menangis, butuh cintamu.

Menumbuhkan Rasa Cinta pada Anak Negeri

Tentu menjadi pekerjaan tersendiri dan butuh waktu berlama-lama untuk menanamkan terhadap anak negeri untuk mempunyai rasa memiliki dan mencinta pada negerinya.

Dalam Kifayatul Atqiya, karya Abu Bakar Syatha, dijelaskan orang bisa merasa memiliki mencintai karena terdapat dua pemantik. Pemantik pertama, karena kecantikan dan keindahannya. Satu contoh, lebih banyak seorang pria muda akan tertarik terhadap perempuan muda yang memiliki paras cantik, memiliki keindahan laku (innerbeauty) atau kecantikan karakternya.

Nah, dalam kontek bernegara, kita ini sejak lahir telah disuguhi keindahan dari tanah air Indonesia, mulai dari keindahan alamnya, keindahan kandungannya (sumber daya alam) dan keindahan rupanya hamparan hijau di sepanjangan dataran Indonesia. Ini harusnya menjadi faktor tumbuhnya rasa cinta terhadap bangsa ini jika mengacu pada teori Syatha.

Faktor kedua kenapa cinta itu tumbuh, karena setiap kebutuhan dipenuhi. Setiap individu membutuhkan sesuatu kemudian saat itu juga dipenuhi kebutuhannya oleh individu lain, maka bisa dipastikan akan melahirkan rasa cinta individu kepada individu lain yang suka memenuhi setiap kebutuhannya.

Faktor kedua inilah yang-kira kira masih menjadi tanya besar.  Sebagian anak negeri ini bisa terpenuhi atau bahkan berlebih dalam terpenuhi kebutuhannya tetapi sebagian lain merasa (sekali lagi merasa—merasa itu urusan rasa) belum terpenuhi. Soal rasa memang jarang bisa diukur dengan pendekatan ilmiah, karena kebenaran akal (yang menggunakan ukuran kausalitas sebab dan akibat) sulit untuk menembusnya.

Nenek moyang kita dulu, sepertinya kehidupan secara ekonominya pas-pasan bahkan bisa disebut kurang menurut ukuran akal, tetapi mereka tidak pernah mengeluh dan berkeluhkesah. Lagi-lagi soal rasa.

Negara sebenarnya pernah hadir pada era Orde Baru untuk menumbuhkan rasa memiliki dan mencintai pada negeri kepada anak-anak bangsa, tetapi dalam tataran teks (dalam bentuk pengenalan Pancasila).

Tetapi dalam ranah kontekstual, negeri yang indah dibarengi memberi kemanfaatan kepada semua anak bangsa belum sepenuhnya terpenuhi. Ya, proseslah. Lihat sila “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”  Proses dan semuanya memang butuh proses.

Semoga Allah SWT. Tuhan semesta alam mencurahkan rasa cinta di dalam hati anak-anak negeri untuk negeri ini. Hubbul Wathon Minal Iman.

*penulis adalah Direktur Pascasarjana Universitas Al Hikmah Indonesia, cak_mujib_ridlwan@yahoo.com