Pemuda yang Terburu-buru

oleh -1638 Dilihat
oleh

Oleh: Zainal Arifin Emka*

Tatkala banyak anak muda terperosok dalam jebakan judi online dan pinjaman online, ada yang meneriakkan kembali  pentingnya pendidkan karakter. Dan, seperti biasa, ada yang serta merta mencibir.

Para guru bijak mendidik kita tentang sikap jujur, semangat, dan peduli. Para guru mengulang-ulang pesan ini. Seperti iklan yang ingin produknya tak ingin dilupakan. Produk yang penting dan wajib dimiliki setiap murid.

Seluruh keluarga besar sekolah harus berusaha keras mendidik diri menjadi manusia-manusia yang jujur. Bohong dan dusta harus dibuang jauh. Menyontek dalam ujian, misalnya, adalah perbuatan nista yang harus dibenci.

Semangat mewakili sejumlah etika: tidak malas, tidak bersikap lemah, dan tidak pesimis. Murid harus menempa diri menjadi manusia yang rajin belajar dan bekerja, tidak malas, tidak bersikap merasa tidak mampu, atau bersikap pesimis.

Peduli untuk menyingkirkan setiap rintangan di jalan, peduli kepada penderitaan sesama, peduli kepada segala bentuk penyimpangan.

Ingat pesan Lagu Indonesia Raya: Bangunlah Jiwanya, bangunlah badannya. Jiwa harus dibangun dengan ilmu. Beradab dalam hal raga juga menjadi perhatian penting, karena orang yang kuat tentu lebih baik dan lebih dicintai daripada yang lemah.

Barang Asing

Memang, di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang serba berlari, pendidikan karakter terdengar seperti barang asing.

Lazimnya hanya dibicarakan di seminar, ditulis indah dalam kurikulum, atau bahan pemanis pidato di podium-podium resmi. Dalam kehidupan nyata, nilai itu makin jarang kita temukan.

Kita ingin jujur menerima kenyataan bahwa judi online dan pinjaman online sesungguhnya bukanlah semata-mata soal ekonomi atau teknologi. Fakta pahit itu mengirimkan pesan adanya pendidikan yang kehilangan jiwanya.

Kita berhasil mendidik kepala, tapi gagal mengasuh hati. Anak-anak kita menjadi cerdas, tetapi rapuh. Berani bermimpi, tapi mudah tergoda oleh jalan pintas.

Kini, di dunia yang serba cepat, keberhasilan sering diukur dari apa yang tampak, bukan dari apa yang bermakna.

Beberapa pelajar dan mahasiswa ingin segera sukses, segera diakui, segera kaya. Mereka mudah percaya pada keajaiban klik dan janji keberuntungan digital.

Dalam situasi ini, kejujuran, semangat, dan kepedulian terasa seperti nilai kuno. Tak memikat, tak produktif, dan sering dicibir dan ditertawakan.

Padahal justru di sanalah inti pendidikan karakter diuji. Pendidikan karakter yang bukan sekadar teori moral, tapi kemampuan untuk menahan diri ketika godaan datang dalam bentuk yang manis.

Ia menuntun seseorang untuk tetap jujur meski peluang curang terbuka lebar. Tetap sederhana ketika dunia menyanjung kemewahan. Dan, tetap bekerja keras meski jalan pintas dan mudah selalu menggoda.

Dianggap Slogan

Sayangnya, ajaran nilai hari ini sering disambut sinisme. Kata “moralitas” dianggap basi, “integritas” dianggap slogan.

Tapi salah kita juga, sih. Mereka melihat teladan di sekelilingnya kian langka. Tentu saja menjadi sulit mengajarkan kejujuran ketika kebohongan justru sering diberi panggung. Sulit menanamkan kesederhanaan ketika kemewahan dijadikan ukuran keberhasilan.

Pendidikan karakter sesungguhnya bukan barang aneh. Mungkin memang menjadi asing. Padahal karakter merupakan kebutuhan paling dasar dari sebuah bangsa yang ingin tetap waras di tengah gempuran zaman digital.

Jujurlah untuk mengakui bahwa kita tidak butuh lebih banyak orang cerdas yang pandai menipu sistem. Kita butuh lebih banyak orang jujur yang mau berjalan pelan tapi benar.

Sudah waktunya kita berhenti terburu-buru. Kita perlu kembali menanam nilai, bukan sekadar mengajar pengetahuan. Karena hanya bangsa yang berkarakterlah yang akan tetap berdiri tegak.(#)

*) penulis adalah  wartawan tua, pengajar jurnalistik

No More Posts Available.

No more pages to load.