PETISI.CO
OPINI

Salat Lima Waktu dan Penangkal Virus Corona

Oleh : Eko Yudiono*

Hari ini umat Islam sedunia memperingati peristiwa penting. Sebuah peristiwa yang menurut saya pribadi adalah romantisme antara Nabi Muhammad S.A.W dan penciptanya Allah S.W.T. Seperti apa peristiwa itu dapat dibaca di surah ke-17 Al-Quran, yaitu Surah Al-Isra ayat (1).

Sub-ḥānallażī asrā bi’abdihī lailam minal-masjidil-ḥarāmi ilal-masjidil-aqṣallażī bāraknā ḥaulahụ linuriyahụ min āyātinā, innahụ huwas-samī’ul-baṣīr”. Yang artinya: Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.

Seringkali masyarakat menggabungkan Isra Mi’raj menjadi satu peristiwa yang sama. Padahal sebenarnya Isra dan Mikraj merupakan dua peristiwa yang berbeda.

Dalam Isra, Nabi  Muhammad “diberangkatkan” oleh Allah SWT dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsa. Lalu dalam Mi’raj Nabi Muhammad dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul Muntaha yang merupakan tempat tertinggi. Ia kemudian mendapat perintah langsung dari Allah SWT untuk menunaikan salat lima waktu.

Sisi romantisme Nabi Muhammad S.A.W dengan Allah jika dikaitkan di tengah pandemik  virus Covid-19, Corona bisa berkorelasi. Jika kita ambil hikmahnya, pandemik ini terjadi diantaranya adalah, manusia sebagai umat Nabi Muhammad S.A.W sebagai nabi dan rosul terakhir, kurang menjaga kebersihan.

Padahal kebersihan adalah sebagian dari iman.  Bersih lahiriah dan batiniah. Dalam artian, bersih lahiriah adalah menjaga kebersihan diri seperti mandi dua kali sehari juga menjaga wudlu. Sedangkan batiniah adalah bagaimana kita menjaga hati kita agar dijauhkan dari sifat iri dan dengki yang merupakan penyakit hati.

Kebersihan juga pada apa yang menjadi konsumsi kita sehari-hari. Makanan yang bersih, sehat dan halal akan membuat tubuh dan pikiran kita sehat.

Seperti diketahui, bahkan di Indonesia, apa yang masuk ke perut manusia bukan hanya hewan atau binatang yang halal dimakan. Di luar negeri khususnya, banyak sekali hewan atau pun binatang yang dilarang oleh Allah untuk dikonsumsi manusia, tetapi malah menjadi favorit.

Bukan hanya makanan. Minuman yang dilarang pun malah menjadi bagian dari pesta. Baik pesta pernikahan atau pun pesta-pesta lainnya.

Setelah pandemik terjadi, seluruh dunia panik. Seluruh dunia binggung. Padahal apa yang terjadi saat ini adalah buah dari perilaku atau tindakan kita sendiri. Kita semua sedang diuji.

Untuk itu, mari bersama-sama berinstrospeksi. Apa-apa saja yang telah kita perbuat selama ini sudah mencerminkan tindakan kita sebagai umat Nabi Muhammad S.A.W atau belum?

Jika belum, momentum peringatan Isra Mi’raj bisa kita jadikan sebagai titik balik untuk menjadi umat Muhammad sebenar-benarnya.

Mari sama-sama menjaga kebersihan agar terhindar dari virus itu. Salat lima waktu sebagaimana perintah Allah kepada Nabi Muhammad adalah benteng menjaga kebersihan itu. Karena dengan salat lima waktu, setidaknya kita membersihkan diri lima kali dalam sehari semalam.

Kedahsyatan salat diungkap oleh dr Sagiran, M.Kes, Sp.B. 2012 dalam bukunya Mukjizat Gerakan Shalat. Diantaranya, gerakan takbiratul ihram. Kalimat takbir “Allahu Akbar” bisa melapangkan sistem pernapasan dan mengontrol denyut jantung. Itu baru satu gerakan. Belum gerakan lainnya.  Seperti berdiri, ruku, i’tidal, sujud, duduk dan terakhir salam.

Intinya, dalam gerakan salat terdapat gerakan yang bisa menyehatkan semua fungsi tubuh. Baik jantung, paru-paru, otot, aliran darah, pencernaan dan fungsi-fungsi lainnya.

Salat terbukti bisa menyehatkan. Baik jasmani maupun rohani. Nah, dengan salat, Insya Allah kita semua bisa terhidar dari virus Corona.

Tegaknya salat juga menjadi tegaknya tiang agama. Semoga, pandemik segera berakhir. Sehingga kita semua bisa lebih khusuk dan romantis lagi beribadah sesuai dengan petunjuk Allah via Muhammad sebagai Nabi akhir jaman dengan menunaikan salat lima waktu. Aamiin. (#)

*)penulis adalah jurnalis petisi.co

terkait

Problematika Profesi di Era Milenial

redaksi

Setiap Jurnalis Perlu Belajarlah Jadi Editor

redaksi

Gairahkan Kajian Tarjih untuk Menjawab Masalah Umat

redaksi