Seminar Ketahanan Pangan BEM FP UB, Petani Muda Jadi Poros Peningkatan SDM

oleh -23 Dilihat
oleh
Dialogista menghadirkan tiga narasumber, yakni Dr. Mochamad Syamsulhadi, S.P., M.P. (Ketua Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan FP UB), Heru Sutomo (Ketua P4S Restu Bumi), dan I Nyoman Sugidana (Pimpinan Pusat KMHDI 2023–2025)

Malang, petisi.co — Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (BEM FP UB) menggelar seminar bertajuk “Pemuda dan Ketahanan Pangan: Menggali Potensi Pemuda dalam Menjaga Kedaulatan Pangan Nasional” di Aula Gedung Sentral Fakultas Pertanian, Jumat (7/11).

Kegiatan yang dikemas dalam bentuk Dialogista ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Dr. Mochamad Syamsulhadi, S.P., M.P. (Ketua Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan FP UB), Heru Sutomo (Ketua P4S Restu Bumi), dan I Nyoman Sugidana (Pimpinan Pusat KMHDI 2023–2025). Acara dipandu oleh Tazkiyyah, mahasiswa semester tujuh Fakultas Pertanian UB.

Dalam paparannya, Dr. Mochamad Syamsulhadi menegaskan pentingnya peningkatan sumber daya manusia (SDM), khususnya di kalangan petani muda, sebagai kunci penguatan ketahanan pangan nasional. Menurutnya, peningkatan anggaran pertanian belum sepenuhnya berdampak pada peningkatan produktivitas pangan.

“Per Oktober 2025, anggaran pertanian hanya meningkat 13 persen dari total Rp140 triliun. Tahun 2020 anggarannya masih Rp75 triliun, sementara tahun 2024 mencapai Rp119 triliun. Namun program cetak sawah dan food estate belum banyak mengubah peta potensi pangan nasional,” ujarnya.

Ia menambahkan, hingga kini Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sumatera Selatan masih menjadi sentra utama pertanian nasional. Sementara pembukaan lahan di Papua belum dapat dijadikan basis lumbung pangan nasional. “Fokus utama seharusnya bukan pada kebijakan instan seperti subsidi pupuk, tetapi pada peningkatan kapasitas dan kompetensi petani,” tegasnya.

Sementara itu, Heru Sutomo menyoroti dampak perubahan iklim dan menurunnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian. “Tiga tahun terakhir, fenomena kemarau basah menjadi keluhan petani. Berdasarkan data BPS akhir 2024, produksi padi justru menurun. Petani muda makin sedikit karena profesi ini dianggap melelahkan, kotor, dan panas,” katanya.

Heru menjelaskan, rata-rata petani di Indonesia hanya menggarap lahan sekitar 1.000 meter persegi dengan pendapatan tahunan sekitar Rp6 juta. “Dengan kondisi seperti itu, wajar jika regenerasi petani berjalan lambat,” tambahnya.

Sementara dari perspektif mahasiswa, I Nyoman Sugidana menilai pemuda memiliki peran penting dalam memperkuat sektor pertanian melalui inovasi dan teknologi. “Mahasiswa harus kreatif dan inovatif, misalnya dengan rekayasa teknologi untuk mempercepat masa panen dan meningkatkan hasil pertanian,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi langkah pemerintah melalui BP BUMN Pupuk Indonesia yang memperkuat sistem distribusi pupuk dan mempercepat penyaluran pupuk bersubsidi ke tingkat petani. “Kebijakan pemangkasan jalur distribusi pupuk dan penurunan harga pupuk subsidi sebesar 20 persen menjadi angin segar bagi petani,” katanya.

Menurut Nyoman, kebijakan Presiden Prabowo Subianto di sektor pertanian harus diimplementasikan dengan baik oleh instansi terkait, termasuk BUMN. “Pupuk Indonesia telah menjadi contoh baik dengan menerapkan penurunan harga eceran tertinggi pupuk subsidi dan distribusi yang tepat sasaran. Ini bisa menjadi teladan bagi BUMN lain dalam menindaklanjuti kebijakan Presiden,” tutupnya.

Melalui kegiatan Dialogista ini, BEM FP UB bersama Partner Inisiatif Nasional (PIN) berharap dapat memperkuat kolaborasi lintas sektor dan meningkatkan peran aktif pemuda dalam menjaga kedaulatan pangan nasional. Selain itu, keduanya juga mendorong pengawasan bersama terhadap distribusi pupuk agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh petani di lapangan. (cah)

No More Posts Available.

No more pages to load.