Seni Terbangan Yang Hampir Punah Tampil di Peringatan HUT RI 73

oleh

PONOROGO, PETISI.CO – Kalimah puji-pujian sholawat mendayu mirip gending cokekan kesenian khas seni pinggiran, namun cengkoknya tak terlalu melengking. Nada dan suaranya saling bersaut-sautan, terkadang lirih terkadang kencang mirip suara suara yang dihembus angin. Syair Arab yang dilagukan ke gending Jawa, istilahnya di Ponorogo uro-uro (rengeng – rengeng) pujian -pujian sholawat nabi.

Sholawatan yang bernadakan gending Jawa, sholawatan yang seperti ini dahulu sering dibawakan bila ada lahiran bayi sampai masa lepasnya puser (biasanya 9 hari) . Mungkin dulu ini sebagai syiar Islam di masa wali.

Dan juga sholawatan serupa sering dilakukan ketika ada hajatan seperti selamatan bayi mitoni (7 bulan). Namun musik pengiringnya, ada rebana yang berukuran besar, lebih besar dari ukuran rebana biasa (kompang). Bentuk mirip bedug terapi, hanya satu sisi.

Kesenian ini sudah nyaris punah dan bahkan sudah jarang di Ponorogo. Tidak semua desa memiliki seni terbangan ini ada yang lebih khas lagi di Tegalsari dan Gontor.

Dengan nyaris punahnya seni terbangan, sholawatan yang diiringi rebana ini karena jarangnya anak anak yang belajar menekuni ini. Seperti di Desa Munggu dari 12 pemainnya yang separo orang tua.

Seperti dikatakan Mbah Isuk (60) yang mengaku terbangan di Munggu harus diuri-uri. “Iki yo solawatan tapi digendingne, iki ajaran wali biyen gawe siar Islam. Isine pujian kanggo Kanjeng Nabi. Makane kudu diuripne, kulo pengin bocah enom gelem belajar,” kata Mbah Isuk.

Begitu juga Wagino juga mengatakan kalau seni terbangan yang akan punah ini harus ada generasi. “Ini harus digenerasi agar tidak punah, karena sekarang kalah dengan dangdut dan campursari,” ujarnya.

“Malam ini seni terbangan kita ikutkan dalam agenda acara tasyakuran kemerdekaan RI dan tugas kita mengisi hasil jerih payah perjuangan para pahlawan, serta melesatarikan seni dan budaya Islam yang berisikan pujian pujian kepada Nabi agar tidak punah dengan seni baru seni dan budaya baru seperri dangdut, campursari. Jadi di Munggu ini ada kesenian religius tradisi NU yaitu terbangan dan kesenian asli daerah Ponorogo yakni Reog Dadak Merak, dua kesenian ini harus dilestarikan harus diberdayakan baik generasi maupun pembinaannya Kalau yang lain itu kan hanya kesenian penyemarak pengembira, yang dirangkai sebagai hiburan rakyat pesta rakyat untuk mengisi tasyakuran kemerdekaan RI dan Bersih Desa,” ujar Sudarsono Ketua BPD setempat. (mal)