Seniman Muda di Sudut Kota Magetan: Karyamu tak Sepahit Hidupmu

oleh
Rumah sangat sederhana yang sehari-hari ditempati Nogling untuk berkarya

MAGETAN, PETISI.CO – Jika kita mendengar lagu-lagu indah tentang  Magetan yang memanjakan telinga kita, kita pasti akan terbesit manis dan indahnya alam Magetan yang penuh dengan kekayaan  wisata alam  dan budayanya.

Sering kita mendengar dan menonton di televisi, youtube, media sosial (medsos) dan lainnya, karya-karya indah tentang kota Magetan. Baik mulai dari lagu pop, dangdut, keroncong maupun campursari.

Tentu, semua itu akan menambah nilai plus dan sangat positip untuk kemajuan wisata dan pengenalan kota Magetan pada umumnya.

Tak jarang wisatawan merasa kangen akan kota Magetan dan tertarik untuk mengunjungi wisata Magetan,  setelah mendengar alunan lagu-lagu tentang Magetan  dan juga visual wisata Magetan yang banyak dimasukkan dalam sebuah karya, baik video klip maupun video dukumenter yang dibuat oleh seniman-seniman asli Magetan.

Salah satu seniman yang aktif  berkarya  guna mengangkat wisata dan budaya kota Magetan adalah seniman muda yang biasa dipanggil  Nogling S.

Kamar kecil yang digunakan sebagai “studio darurat” tempat Nogling menciptakan dan memproses karya-karyanya.

Selama ini, Nogling telah banyak menelurkan karya-karya indah tentang  Magetan  yang memang didedikasikan untuk tanah kelahiran tercintanya.

Beberapa karyanya yang populer tentang Magetan adalah ;  Magetan Ninggal Kenangan,  Telogo Wahyu,  Suryo Putro Magetan, Prawan Geni Langit,  Kidung  Tresno, Sarangan Maospati dan lainnya.

Sayangnya, tidak banyak yang tahu, bahwa dibalik karya-karyanya yang besar tentang Magetan, kehidupan sosok seniman muda berpotensi itu saat ini sangatlah  jauh dari kata layak hidup, di bawah garis kemiskinan.

Bahkan,  selama ini Nogling S dalam berkarya hanya bermodal dengkul, jauh dari fasilitas setandar sebagiamana layaknya  seorang musisi dan composer berkarya.

Dia hanya tinggal di sudut kota, di petak kecil perumahan sederhana berlantai beton kasar  yang dia bangun sendiri, dia tukangi dan merangkap kuli sendiri  hasil dari modal ngamen dan berjualan karya.

Rumah petaknya pun belum jadi, dia hanya membagun 1 kamar kecil yang ia gunakan sebagai “studio darurat” tempat dia menciptakan dan memproses karya-karyanya.

Selebihnya, 1 kamar yang lain dia gunakan untuk tidur dan ruang tamu saat dia menemui tamu dan relasi yang datang.

Nogling, seniman muda yang terus berkarya untuk tanah kelahirannya.

Saat didatangi  petisi.co beberapa waktu lalu,  nampak kondisi yang sangat memprihatinkan dan jauh dari kata layak  untuk sebuah sarana berkarya sebagai seorang composer.

Dia hanya menggunakan alat rekaman seadanya.  Bahkan untuk membuat sebuah karya besar,  ia hanya menggunakan 1 midi kontrol seharga Rp  700 ribuan, yang dia beli bekas dari seorang kawannya.

Namun,  hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus berkarya.

“Saya hanya mensyukuri garising pesti mas, garis hidup saya sebagai seniman ya harus saya jalani dengan berkarya, apapun yang terjadi itu adalah garis hidup saya, tugas kami adalah berkarya, dan yang selebihnya adalah hak dan wewenang  Gusti,”  kata Nogling S.

Nogling bersama seniman Bambang DKW alias Didi Kempot KW

Ditanya soal dukungan dinas terkait dan pemerintah daerah terhadap dirinya,  Nogling menambahkan,  “Alhamdulillah suport secara mental sudah diberikan berupa suport ucapan semangat dan lain-lain, tapi suport secara nyata saya tidak bisa jawab Mas , dan Mas sendiri tahu kondisi dan keadaan kami yang sesungguhnya saat ini dan saya yakin anda lebih bisa menjawabwa.”

Dari pantauan wartawan petisi.co, kondisi sebenarnya  yang dialamani seorang Nogling lebih layak di sebut dengan “Karyamu tak Sepahit Hidupmu”.

Semua ini bisa menjadikan renungan bagi semua pihak, khususnya pemangku kebijakan di wilayah Kabupaten Megaten.

Pasalnya, di sudut kota Magetan, wilayah  di ujung barat Provinsi Jawa Timur ini,  masih ada anak-anak bangsa yang berjuang keras untuk hidup dan berkarya demi kemajuan kota kelahirannya, walau dengan kondisi seadanya. Karyamu tak Sepahit Hidupmu!

Reporter: Puguh

No More Posts Available.

No more pages to load.