Oleh: Zainal Arifin Emka*
Rasanya rada sulit menepis perasaan tak nyaman mendengar celoteh Rojali dan Rohana sebagai sindiran tak sedap.
Rojali menunjuk pada “rombongan jarang beli”. Sedangkan Rohana akronim “rombongan hanya nanya”. Bahkan ada Rohalus, rombongan hanya mengelus-elus.
Tiga sebutan itu tunjuk hidung orang-orang yang datang ke pusat perbelanjaan atau mal “hanya” untuk jalan-jalan atau cuci mata. Belakangan lalu muncul tandingannya: Robeli, “rombongan benar-benar beli” seperti diungkap Ketua Bidang Perdagangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Anne Patricia Sutanto.
Tiga istilah pertama sudah nyata terjadi, sedang Robeli baru sebuah harapan. Silakan kalau mau berdoa –menurut kepercayaan masing-masing– harapan itu bakal terwujud. Semoga dalam waktu dekat.
Di dunia media massa juga pernah muncul istilah Muntaber untuk menyindir wartawan yang muncul dalam acara, namun tanpa menulis berita.
Mereka juga disebut WTS, wartawan tanpa surat kabar. Ada juga wartawan CNN, cuma nanya-nanya.
Kembali ke mal
Apa yang salah dari Rojali dan Rohana, juga Rohalus. Bukankah kehadiran mereka sudah andil meramaikan pusat-pusat perbelanjaan yang belakangan dilanda kesepian.
Setidaknya kehadiran mereka sedikit banyak sudah membuat citra mal jadi ramai pengunjung. Toh kita suah mahfum bahwa tidak mudah memancing kehadiran orang.
Para konsultan mal memberi berbagai resep agar orang tertarik datang. Di antaranya: membuat desain interior yang menarik, suasana yang nyaman, dan fasilitas yang memadai. Juga strategi promosi seperti penawaran khusus, acara menarik bekerjasama dengan penyewa gerai.
Bahkan memanfaatkan media sosial untuk menjangkau lebih banyak orang dan memberikan informasi terkini tentang mal.
Tentu semuanya butuh ongkos. Tidak murah, kan.
Jadi, Rojali, Rohana, dan Rohalus tak sepenuhnya jelek. Boleh jadi mereka konsumen yang terdidik, yang kritis, yang selektif, yang membeli berdasar kebutuhan, yang tidak konsumtif, juga yang dompetnya tidak terlalu tebal.
Jangan sinis pada mereka.
Seorang ibu menolak ajakan temannya untuk jalan-jalan ke mal. Alasannya, tidak nyaman dipantengin para pramuniaga kalau tidak beli.
Si pengajak menawarkan solusi: “Sudah aku siapin tiga tas berlogo ritel terkenal di mal itu. Kita isi apa kek. Yang penting kelihatan sudah beli dan tidak nanya-nanya saja.” He he.
Mari menghibur diri mendengar pernyataan analis Kebijakan Ekonomi Apindo, Ajib Hamdani yang meyakini fenomena Rojali dan Rohana akan hilang dengan sendirinya. Warga akan berubah menjadi Robeli ketika kemampuan daya belinya naik.
Oh ya. Orang yang sinis dengan ungkapan Rohana, Rojali, dan Rohalus mungkin berprinsip “pembeli adalah raja, penjual adalah maha raja.” *
*)penulis adalah Wartawan Tua, Pengajar Jurnalistik





