Sidoarjo, petisi.co Proyek transportasi massal berbasis rel Surabaya Regional Railway Line (SRRL) resmi memasuki tahap pengerjaan Detail Engineering Design (DED).
Pemerintah memastikan pengerjaan fisik SRRL direncanakan akan dimulai pada 2027 setelah DED rampung dilakukan oleh konsultan teknisi asal Jepang, Chodai Co. Ltd.

“Saat ini masih tahap pengerjaan DED oleh Tim dari Chodai Co. Ltd sebagai Railway Design Consultant (RDC). DED berupa peninjauan lapangan dilakukan di beberapa titik mulai dari Depo Sidotopo Surabaya hingga Stasiun Sidoarjo,” ungkap Kepala BTP Kelas I Surabaya DJKA, Denny Michels Adlan saat ditemui di Stasiun Gedangan Sidoarjo, Selasa (21/4/2026).
Beberapa titik strategis yang menjadi fokus DED antara lain Depo Sidotopo, Flyover Ambengan, Stasiun Surabaya Pasar Turi, Stasiun Surabaya Gubeng, Flyover Bung Tomo, Stasiun Wonokromo, Stasiun Sepanjang, Stasiun Waru, Stasiun Gedangan hingga Stasiun Sidoarjo.
“Turut hadir dalam peninjauan lapangan bersama tim RDC yaitu Dirk Schneider, Senior Technical Adviser Bank Pembangunan Jerman (KfW). Kemudian ada dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) melalui Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Surabaya dan PT KAI Daop 8 Surabaya,” imbuhnya.
Denny mengungkapkan DED untuk SRRL Fase 1-A (Stasiun Surabaya Gubeng hingga Stasiun Sidoarjo) digelar selama dua hari, dari Senin sampai Selasa (20-21 April 2026).
Langkah peninjauan di lapangan dilakukan guna memastikan pengerjaan proyek berjalan sesuai lini masa (timeline) yang sudah ditetapkan dan diharapkan kendala sekecil apapun bisa dideteksi sejak dini.
“Peninjauan lapangan bertujuan untuk memetakan potensi dan hambatan pengembangan SRRL di masa depan. Kami melihat bagaimana fase selanjutnya akan dikerjakan, potensinya, termasuk hambatan yang ada, hingga prediksi permintaan penumpang beberapa tahun ke depan,” ujar Denny.
Ia menegaskan penyusunan desain menjadi pondasi utama sebelum proyek masuk tahap konstruksi. Menurutnya, jalur KRL Surabaya–Sidoarjo bukan proyek sederhana karena menyangkut banyak aspek teknis dan operasional.
“SRRL adalah transportasi kereta dengan penggerak listrik. Oleh karenanya, semua hal prinsipal baik utilitas, fasilitas, dan heritage di seluruh Stasiun yang dilalui termasuk keselamatan di perlintasan harus didesain melalui kajian secara mendalam,” bebernya.
Lebih jauh, Denny menerangkan kompleksitas proyek SRRL semakin tinggi karena pembangunan harus dilakukan tanpa mengganggu operasional kereta api yang sudah berjalan di lintas tersebut.
“Konstruksi jalur menggunakan rel yang ada. Namun tidak menutup kemungkinan saat peninjauan lapangan, tim menyimpulkan perlu dibuat double track maka kebutuhan itu harus dilaksanakan,” terang Denny.
Selain pembangunan jalur ganda dan elektrifikasi, lanjutnya, proyek SRRL juga mencakup pembangunan dua jembatan layang (flyover), yakni di Bung Tomo Ngagel dan Ambengan. Denny menegaskan keberadaan flyover itu sangat mendesak untuk menghapus perlintasan sebidang.
“Sesuai penghitungan data lalu lintas, perlintasan sebidang harus dikurangi karena headway atau jarak antar kereta SRRL nantinya akan sangat singkat. Itu penting demi keselamatan jangka panjang/ Termasuk di rencana pembangunan Flyover Jemursari oleh Pemkot Surabaya dan Kementerian Pekerjaan Umum (PU),” tambahnya.
Proyek SRRL fase 1-A jalur Surabaya-Sidoarjo penting untuk segera diwujudkan, mengingat rute sepanjang 22 Kilometer tersebut banyak dijumpai titik simpul kemacetan.
“Karena itu, koordinasi intensif antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemkot Surabaya dan Pemkab Sidoarjo menjadi kunci percepatan,” tandasnya.
Denny mengatakan saat ini pihaknya masih fokus pada Fase 1-A yang sedang berjalan. Selanjutnya SRRL akan dilanjutkan dengan Fase 1-B Surabaya-Lamongan dan Fase 2 Surabaya-Mojokerto.
“SRRL sebagai sarana transportasi massal murah, saat ini masih fokus pada fase 1-A. Setelah itu, akan dilanjutkan fase berikutnya. Pembangunan fase 1-A mulai dikerjakan tahun 2027 dan diharapkan selesai serta siap dipergunakan di 2030.” pungkasnya.
SRRL merupakan proyek kerjasama antara Kementerian Perhubungan dengan Bank Pembangunan Jerman (KfW), dengan nilai investasi sebesar Rp 4,414 Triliun.
Total pembiayaan proyek SRRL diambilkan dari penggabungan dua sumber pendanaan yakni pinjaman 230 juta euro (Rp 4,3 Triliun) dan Hibah 6 juta euro (Rp 114 miliar). (luk)






