Sugeng (Mas Geng) Masuk Purna Tugas, Tudi Lanjutkan Pengabdian

oleh
oleh
Sugeng (Mas Geng) dan Tudi atau Tudiono.

Kisah Dua Saudara Diplomat dari Mbebekan Malang

Tudi dan Sugeng adalah kakak beradik yang tumbuh sebagai bagian dari Generasi X. Tudi lahir pada 1968, sementara kakaknya, Sugeng, lahir tiga tahun lebih awal, pada 1965.

Keduanya menjalani perjalanan hidup yang panjang dengan tantangan ekonomi keluarga yang tidak ringan. Namun, dengan ketekunan, disiplin, dan doa, keduanya pada akhirnya diterima mengabdi sebagai diplomat di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

Sugeng—yang biasa dipanggil Tudi dengan sebutan Mas Geng—bergabung dengan Kementerian Luar Negeri pada 1991, disusul Tudi pada 1994.

Sebagai generasi X, mereka ditempa oleh kondisi sosial dan ekonomi yang keras. Generasi ini dikenal mandiri, disiplin, pekerja keras, logis, sekaligus menyimpan mimpi besar tentang masa depan.

Televisi sudah mulai hadir kala itu, namun masih menjadi barang mewah. Tidak jarang anak-anak menonton bersama di rumah tetangga, dan jika suasana hati pemilik rumah sedang kurang baik, televisi bisa saja dimatikan di tengah film—semua pun bubar sambil tertawa.

Untuk membantu perekonomian orang tua, atau sekadar memperoleh uang jajan, Mas Geng dan Tudi berjualan kacang di Bioskop Kelud, Malang. Bioskop rakyat yang terletak di perempatan Jalan Kawi–Arjuno itu menjadi hiburan masyarakat kecil dengan penghasilan pas-pasan.

Momentum penting, Mas Geng Desember ini memasuki pensiun. Ada 2 perahu, satu pulang dan satu masih berlayar.

Selama sekitar tiga setengah tahun, keduanya berjalan kaki pulang-pergi hampir delapan kilometer setiap hari. Jika dagangan laris, barulah mereka sesekali pulang naik becak. Mereka berjualan bersama teman-teman sebaya dari Kampung Mbebekan.

Ketika kakak sulung mereka, Mas Yon, berhasil mendirikan usaha agen susu bernama SAE—singkatan dari Sinau Andandani Ekonomi (Belajar Memperbaiki Perekonomian)—Mas Geng dan Tudi beralih menjadi loper susu. Tudi menjalani pekerjaan itu sejak kelas enam sekolah dasar hingga semester lima kuliah.

Mas Yon dikenal sebagai sosok penuh idealisme. Ia menanamkan semangat, cita-cita, dan nasionalisme kepada adik-adiknya, terinspirasi oleh api perjuangan Bung Karno.

Di tengah aktivitas meloper susu, Mas Yon juga aktif dalam kegiatan sosial dan politik pada masa yang penuh tantangan. Dinamika zaman yang keras membawa konsekuensi berat, hingga pada satu fase Mas Yon harus menghadapi kondisi kesehatan yang cukup serius.

Sejak masih kecil, keluarga Tudi dan Mas Geng harus giat belajar.

Mas Geng dan Tudi lahir dan tumbuh di Kampung Mbebekan, Malang. Ayah mereka bekerja sebagai tukang batu, sementara sang ibu—yang akrab disapa Mak—adalah perempuan tangguh yang menjalani hidup dengan kesederhanaan, doa, dan disiplin spiritual yang kuat. Mak bekerja sebagai penjaja sayur keliling di kawasan Kasin, Bareng, dan daerah Buah-buahan.

Malam hari sering menjadi waktu paling hening sekaligus sakral bagi keluarga ini. Sekitar pukul dua atau tiga dini hari, mereka berdoa bersama di depan rumah, menengadahkan tangan ke langit gelap, diiringi suara langkah ibu-ibu pedagang sayur yang berangkat ke pasar dengan keranjang bambu di kepala. Doa dan cucuran air mata Mak menjadi fondasi spiritual yang tak tergantikan.

Mak dan Mas Yon kerap membangunkan seluruh keluarga pukul empat pagi untuk belajar bersama. Ada latihan pidato, motivasi, dan penanaman mimpi.

Salah satu kalimat yang masih terpatri kuat dalam ingatan Tudi berbunyi: “Sukses bukanlah mimpi orang tidur yang datang seperti embun di pagi hari. Ia hadir melalui perjuangan, perjuangan, dan perjuangan—disertai doa kepada Allah.”

Perjalanan hidup akhirnya mengantarkan keduanya mengabdi sebagai diplomat. Sugeng Wahono—Mas Geng—menjalani penugasan di Bratislava, Teheran, Beijing, Nursultan (Kazakhstan), hingga Darwin. Sementara Tudi mengemban amanah di Wina, Den Haag, Seoul, dan kini bertugas di Cape Town.

Tudi terus berkarya untuk bangsa.

Bulan Desember ini, Mas Geng memasuki masa pensiun. Sebuah fase alamiah dalam perjalanan pengabdian yang menandai tuntasnya satu peran dengan selamat dan bermartabat. Bukan akhir dari kisah, melainkan awal babak kehidupan yang baru.

Di tengah suasana batin itulah, Tudi merasakan dorongan tak terencana untuk melukis. Tanpa konsep matang, tanpa pesan yang diniatkan, lukisan itu mengalir begitu saja. Dan di kanvas tersebut, hadir dua perahu.

Dua perahu di atas air yang sama.

Satu masih berlayar, satu menepi dengan tenang.

Keberadaan dua perahu itu muncul tanpa kesengajaan, namun justru di sanalah maknanya terasa kuat. Ia menjadi simbol perjalanan dua saudara yang telah lama mengarungi lautan kehidupan bersama—ada masa berlayar berdampingan, ada fase menghadapi arus berat masing-masing, dan kini ada saat ketika satu perahu kembali pulang setelah menunaikan tugasnya.

Lukisan itu mengingatkan, bahwa tidak semua refleksi hidup harus diungkapkan lewat kata-kata. Terkadang, batin menemukan jalannya sendiri melalui seni. Dua perahu itu bukan simbol perpisahan, melainkan kesinambungan. Air tetap mengalir, arah hidup terus berjalan, hanya peran yang berubah.

Selamat purna tugas, Mas Geng.

Satu perahu telah menepi dengan selamat.

Perahu kita akan terus berlayar di laut yang sama—terus berkarya untuk bangsa.(*)

No More Posts Available.

No more pages to load.