Dibuka Menteri Kebudayaan RI, Pasar Rakyat Indonesia 2025 di Cape Town Meriah

oleh
oleh
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon membuka Pasar Rakyat Indonesia 2025 di Cape Town.

Cape Town, petisi.co – Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Cape Town kembali menggelar Pasar Rakyat Indonesia (Indonesian Folk Market) di halaman KJRI Cape Town, Sabtu (01/11/2025).

Acara tahunan yang kini memasuki penyelenggaraan keempat ini berlangsung meriah dan penuh warna, dihadiri 3.881 pengunjung dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat lokal, diaspora Indonesia, awak kapal WNI, hingga perwakilan korps konsuler dan friends of Indonesia.

Perayaan Budaya dan Diplomasi Rakyat

Pasar Rakyat Indonesia 2025 dibuka secara resmi oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, yang hadir bersama delegasi Kementerian Kebudayaan RI. Dalam sambutannya, Menteri Fadli Zon menekankan arti penting festival ini sebagai ruang pertemuan budaya dan wujud nyata diplomasi rakyat.

“Pasar Rakyat Indonesia berfungsi sebagai wadah untuk memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat Afrika Selatan, sekaligus mempererat hubungan budaya di antara komunitas diaspora Indonesia di Cape Town,” ujar Menteri Fadli Zon.

“Indonesia dan Afrika Selatan memiliki akar sejarah yang panjang sejak kedatangan Syekh Yusuf Al-Makassari pada tahun 1694. Jejak hubungan itu menjadi dasar kuat bagi kerja sama budaya dan persahabatan kedua bangsa hingga hari ini.”

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon bersama Konjen Tudiono dan undangan menikmati tampilan seni dan budaya kedua negara.

Menteri juga menyoroti kekayaan budaya Indonesia yang luar biasa, “Indonesia adalah negara mega-biodiversity dengan 1.340 kelompok etnis dan 718 bahasa daerah, serta lebih dari 2.200 unsur warisan budaya takbenda yang telah didokumentasikan. Bahkan sekitar 60 persen fosil Homo Erectus dunia ditemukan di Nusantara, bukti bahwa peradaban Indonesia merupakan salah satu yang tertua di dunia.”

Harmoni Seni, Kuliner, dan Kreativitas Nusantara

Tahun ini, 21 pelaku usaha dan komunitas diaspora turut berpartisipasi memeriahkan festival. Pengunjung disuguhi beragam cita rasa dan kekayaan budaya Indonesia, dari nasi padang, nasi bali, tempe goreng, hingga jajanan pasar berwarna-warni yang menggoda selera.

Produk-produk UMKM Indonesia, termasuk batik, kerajinan tangan, dan kuliner khas daerah, turut memperkaya suasana. Partisipasi Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Johannesburg menambah dimensi ekonomi dalam festival ini, dengan menampilkan produk unggulan Indonesia yang potensial menembus pasar Afrika Selatan.

Sorotan utama acara datang dari penampilan memukau Saung Angklung Udjo asal Bandung, yang menghadirkan kolaborasi musikal interaktif bersama Minstrel Band dan Marimba Ensemble dari Cape Town.

Perpaduan suara angklung yang lembut dengan dentingan marimba dan ritme enerjik khas Minstrel menciptakan harmoni lintas budaya yang memikat penonton, simbol pertemuan dua tradisi musik dunia yang berpadu indah.

Penonton juga diajak bermain angklung bersama, merasakan langsung pesona alat musik tradisional Indonesia yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia sejak 2010.

Tamu yang hadir menikmati berbagai menu dan UMKM.

Kemeriahan berlanjut dengan penampilan EOAN Group – School of Performing Arts, kelompok seni asal Cape Town yang beranggotakan penari Afrika Selatan. Mereka mempersembahkan Tari Saman dari Aceh yang menggambarkan kekompakan dan spiritualitas, Dendang Mangksari dari Sulawesi yang lembut dan anggun, serta Jaranan dari Jawa Timur yang dinamis dan penuh energi.

Aksi panggung EOAN Group menjadi bukti bahwa budaya Indonesia mampu menembus batas geografis dan menginspirasi seniman di negara lain, menegaskan keberhasilan diplomasi budaya yang mempertemukan dua bangsa melalui seni dan saling penghargaan.

Selain menikmati hiburan dan kuliner, pengunjung juga antusias mengikuti workshop batik yang dipersembahkan oleh Batik Kina Indonesia. Kegiatan ini memberi kesempatan bagi masyarakat lokal untuk mencoba langsung proses membatik, mulai dari menggambar pola hingga mewarnai kain, yang berlangsung dengan antusiasme tinggi sepanjang hari.

Tampilan atraksi seni memukau penonton yang hadir.

Tak kalah menarik, sesi demo masak nasi goreng, ikon kuliner nasional Indonesia, menjadi magnet tersendiri. Pengunjung menyaksikan langsung proses memasak sambil menikmati cerita di balik popularitas hidangan khas Nusantara yang kini mendunia.

Ikatan Sejarah dan Semangat Persaudaraan

Konsul Jenderal RI Cape Town, Tudiono, menegaskan makna mendalam dari penyelenggaraan Pasar Rakyat Indonesia. “Pasar Rakyat Indonesia bukan hanya sebuah perayaan, tetapi wadah yang mempertemukan kita untuk berbagi kehangatan, keramahan, dan kekayaan budaya Indonesia,” ujarnya.

Menurut Tudiono, acara ini tersebut memperkuat ikatan antara Indonesia, Cape Town, dan Afrika Selatan, hubungan yang berakar sejak kedatangan Syekh Yusuf Al-Makassari dan para ulama Indonesia yang turut berjuang melawan kolonialisme.

“Kini, semangat itu hidup melalui sekitar 2,7 juta masyarakat Cape Malay keturunan Indonesia di Afrika Selatan,” ujar Tudiono.

Dalam kunjungannya ke Cape Town, Menteri Fadli Zon juga melakukan ziarah ke Karamat Syekh Yusuf dan meninjau lokasi untuk pendirian Rumah Kebudayaan Indonesia Syekh Yusuf.  Dirinya bertekad untuk segera mendirikan Rumah Kebudayaan Indonesia Syekh Yusuf.  “Ini akan semakin memperkuat ikatan sosio-budaya RI- Cape Town Afsel,”  ujarnya.(kip)

No More Posts Available.

No more pages to load.