Tangis Warga, Warnai Tradisi Nyekar dan Doa di Tanggul Lumpur Lapindo

oleh -163 Dilihat
oleh
Tak kuasa menahan haru, Hasan menangis dalam doa untuk anak sulung di depan makam yang terendam lumpur lapindo

Sidoarjo, petisi.co – Sehari jelang Ramadan 1446 H, puluhan warga dari 3 Desa di Sidoarjo, yang wilayahnya terdampak bencana lumpur Lapindo melakukan tradisi tabur bunga dan doa di atas tanggul.

Mereka berasal dari Desa Mindi, Jatirejo dan Renokenongo Kecamatan Porong. Ritual nyekar dan baca doa diatas tanggul Lapindo dilakukan lantaran makam para leluhur terendam lumpur dan banjir.

Suharno baca doa untuk arwah leluhur di depan makam terendam lumpur lapindo

“Tiap tahun jelang bulan puasa, kami sengaja datang kemari, untuk nyekar dan baca doa. Kegiatan dilakukan diatas tanggul Lapindo karena makam seluruhnya sudah terendam lumpur dan banjir,” ujar Suharno, warga Desa Mindi, Jum’at (28/2/2025).

Menurut Suharno, ritual tabur bunga dan doa dilakukan sebagai bentuk penghormatan sekaligus penghargaan atas jasa para leluhur dalam membangun kejayaan desa.

“Hanya ini yang bisa kami persembahkan kepada para buyut, kakek nenek leluhur yang telah wafat. Mereka semua dimakamkan disini, di lokasi yang saat ini telah terendam lumpur Lapindo. Dulu para leluhur ini berhasil membangun kejayaan desa, namun kini semua itu telah sirna, tenggelam disini,” terang pria berkumis tebal ini.

Kenangan masa indah tinggal di desa dengan segala potensi kejayaan itu juga dirasakan Hasan, warga Desa Mindi yang mengaku kehilangan putra sulung dan keluarganya.

“Anak saya yang sulung juga dimakamkan disini. Kalau lihat banjir disertai lumpur Lapindo ini, seakan akan anak saya terkubur di tengah lautan,” ungkap Hasan sambil menyeka air mata yang membasahi pipi.

Ia mengaku sangat terharu lantaran makam leluhurnya hilang tenggelam dan batu nisan anaknya sudah tak nampak di permukaan lumpur. Namun demikian, Hasan bisa sedikit bernafas lega, saat mengetahui kayu panjang yang ditancapkan di dekat pusara makam anaknya masih terlihat, meski samar di kejauhan.

“Itu batang kayu setinggi 2 meter yang saya tancapkan di dekat makam anak saya. Masih kelihatan meski agak samar karena tenggelam ditengah lumpur Lapindo,” aku Hasan seraya menunjuk tonggak kayu yang dimaksudnya.

Seperti diketahui, bencana lumpur Lapindo bermula dari kegiatan eksplorasi gas yang dilakukan PT. Lapindo Brantas pada 29 Mei 2006. 19 tahun berlalu, namun ribuan warga terdampak dari 19 Desa di 3 Kecamatan yakni Jabon, Porong dan Tanggulangin belum sepenuhnya bisa menghapus peristiwa itu dari ingatan. (luk)