Pemasangan Pipa Pertamina Gas Merugikan Masyarakat Banyuasin

  • Kamis, 4 Januari 2018 | 11:50
Pemasangan Pipa Pertamina Gas Merugikan Masyarakat Banyuasin
Pertamina Gas (Pertagas) yang saat ini tengah melakukan pengerjaan pemasangan pipa di wilayah Kabupaten Banyuasin Sum-Sel

Tak Sesuai Amdal, Warga Protes

BANYUASIN, PETISI.CO – Pertamina Gas (Pertagas) yang saat ini tengah melakukan pengerjaan pemasangan pipa di wilayah Kabupaten Banyuasin Sum-Sel, dinilai tidak mengikuti ketentuan Analisis Dampak Lingkungan (Amdal), sehingga masyarakat sangat dirugikan.

Dampaknya yang kini dirasakan, mulai dari air dan lumpur pengerukan pipa Pertagas yang berhamburan di depan rumah warga. Ditambah lagi lumpur yang licin tersebut memenuhi sepanjang jalan, membuat  pengguna jalan harus hati-hati, bisa mengakibatkan kecelakaan.

Bahkan,  akibat pipa PDAM pecah hingga mengakibatkan kemacetan arus kendaraan di jalan raya wilayah Banyuasin setiap hari terjadi.

Seperti diketahui, Pertagas saat ini sedang melaksanakan pekerjaan pengerukan, pemasangan dan penimbunan pipa gas sepanjang 176 KM dari Gersik Musi Banyuasin (Muba) sampai PT Pusri Palembang, melintasi wilayah Kabupaten Banyuasin.

“Pertagas dalam bekerja tidak sesuai izin lingkungan, seharusnya mulai dari tahap pra konstruksi sampai operasi itu berpedoman pada izin lingkungan, yang telah ditentukan Provinsi Sumsel,” kata  Resmala Emy Kabid Penataan dan Pengembangan Kapasitas Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyuasin, saat rapat koordinasi pemasangan pipa jalur Banyuasin di ruang rapat DLH Selasa (3/1/2018).

Dikatakan Emy, ada beberapa hal yang tidak dipatuhi  Pertagas. Seperti pelaksana proyek gali tutup pipa yang melintasi Jalnitim  tidak memasang rambu-rambu peringatan, terutama dari arah galian.

Kemudian ada bahan tanah galian yang tertimbun di badan jalan, seharusnya ditimbun di satu sisi sebelah kiri badan jalan.

Selanjutnya, operasi alat berat justru keluar pada jam-jam sibuk lalu lintas, atau jam kerja, sehingga akan menyebabkan kemacetan terutama pada pukul 16.00-20.00 malam.

“Kami minta jam padat antara jalur Talang Kelapa tepatnya KM 18- Km 23 dikerjakan diatas pukul 20.00 wib,” terang Emy.

Emy menambahkan, dalam kegiatan izin lingkungan tersebut, bahwa akan memisahkan antara top soil (tanah hitam) dan sub soil (tanah merah).

Sehingga nanti saat tanah akan dikembalikan, tidak seperti kondisi semula tanaman akan susah  berkembang.

“Kalau kita lihat di lapangan asal saja buktinya, top soil dibawah malah sub soil diatas, jadi tanaman penghijauan jalan akan sulit berkembang, karena tanah merah,” tambah Emy.

“Kami nilai pekerjaan selama ini tidak memenuhi aturan yang tertuang di dokumen amdal, oleh sebab itu agar kiranya kedepan peraturan itu benar-benar dilaksanakan,” tegasnya.

Dari hasil rapat terungkap,  pipa tranmisi induk, pipa PDAM menjadi terganggu, sedankan pipa PDAM di Kecamatan Banyuasin III ada empat zona, yaitu Kelurahan Seterio, Kelurahan Mulya Agung, Kelurahan Pangkalan Balai tepatnya napal dan bomberlian pecah akibat galian pipa tentu akan merugikan masyarakat.

Camat Talang Kelapa Aminudin, dirinya menegaskan agar kejadian yang terjadi di Kecamatan Betung, Suak Tapeh, Banyuasin III dan Sembawa tidak terulang di Kecamatan Talang Kelapa. Apalagi soal macet dan pipa PDAM agar betul-betul diperhatikan, karena penduduk di Talang Kelapa sangat padat serta tempat macet.

“Saya tidak ingin kejadian tadi terjadi di tempat kami, oleh sebab itu saya minta agar pekerjaan yang kira-kira mengenai bahu jalan itu dikerjakan pada malam hari atau jangan pada jam kerja yang bisa menambah kemacetan selama ini,” pintanya.

Aminudin berharap, jangan sampai pembangunan pipa ini mencoreng wajah Banyuasin yang selama ini sudah terkenal dengan macet dan PDAM mandet.

“Saya minta pekerjaanya dipercepat, selain itu saya minta agar Pertagas berkoordinasi dengan PDAM dan Polsek Talang Kelapa untuk atasi macet dan gangguan pipa PDAM di sepanjang  KM 18  hingga KM 23,” sarannya.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Banyuasin H Supriadi SE Mstr mengingatkan agar setiap galian jangan hanya dikasih police line, dan rambu-rambu yang rusak agar dikembalikan seperti semula.

“Kami perhatikan banyak rambu-rambu yang dilepas lalu dipasang tidak seperti sedia kala, kami juga ada beberapa titik galian yang kedalamannya 2 meter, namun hanya dikasih garis polisi tanpa trafik block,” ujarnya.

Kepala Dinas LH Ir. Syaril A Rachman menegaskan, agar hasil rapat ini dijalankan dan dilaksanakan secara baik. Sehingga tidak merugikan masyarakat.

“Kita jangan hanya menandatangani kesepakatan saja, tapi harus benar-benar dikerjakan,” tegasnya.

Sementara itu, Deputi Projek Manager Pertagas Eka Yogatama, mengatakan, bahwa pihaknya siap mengikuti aturan yang sudah ditetapkan. Untuk rambu-rambu lalu lintas sudah ada, bahkan melibatkan pengibar bendera pengatur jalan dan menggunakan  pekerja warga yang dilintasi.

“Tinggal kemampuan pengatur lalu lintas kita tingkatkan, supaya dapat mengatur dengan baik, SOP kami ikuti kalau ada pekerjaan yang tidak sesuai SOP kami stop,” ujarnya.

Di jalaur pipa dari Muba sampai ke PT Pusri sepanjang 176 KM ada 46 titik yang setiap hari dikerjakan, dan ini menjadi kesulitan di lapangan.

“Untuk tanah yang mengenai jalan aspal ada pompa water jet yang stand bay di Pom Bensin Babat Supat, dan laporan masyarakat akan segera ditindak lanjuti, “tandasnya.(roni)

 

 

bagikan :

2 Komentar

  1. Zainal abidin Jumat, 23 Maret 2018
  2. Victor Senin, 7 Mei 2018

Foto Terbaru

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional