Petisi
Kriswidyat Praswanto, GM PT Intelegensia Graha Tama, selaku pengembang KEK
EKONOMI

Culture Heritage Identity Jadi Daya Tarik KEK Singosari

MALANG, PETISI.CO –  Sekilas Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singosari, Kabupaten Malang, tak bedah jauh dengan perumahan-perumahan lainnya. Berada di atas lahan seluas 44, 8 hektar di perbukitan Desa Klampok Kecamatan Singosari, dibangun ratusan rumah berbagai tipe dan ditumbuhi pepohonan yang rindang.

Yang membedakan, KEK ke depannya akan menjadi destinasi wisata yang menarik. KEK fokusak mengintegrasikan potensi destinasi wisata di Malang Raya, baik di Kabupaten Malang, Kota Malang, Kota Batu.

Apalagi di Singosari, terdapat peninggalan kerajaan Singosari. Sejarah kerajaan Singosari yang sudah dikenal masyarakat luas. Tak hanya wisatawan lokal, turis-turis manca negara juga tertarik mengunjungi dan sekaligus mempelajari sejarah kerajaan Singosari.

“Kebesaran peninggalan sejarah tidak akan bisa dipasarkan jika tidak dikemas dengan pariwisata. Culture heritage identity ini yang menjadi daya tarik kita,” kata Kriswidyat Praswanto, GM PT Intelegensia Graha Tama, selaku pengembang KEK kepada rombongan Humas dan Pokja wartawan Pemprov Jatim, Sabtu (6/12/2018).

Untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara dan nusantara ke Jawa Timur (Jatim), pihak pengelola KEK akan mengintegrasikan ekonomi digital, ekonomi kreatif, dan ekonomi tourism. Bahkan, Kabupaten Malang bagian selatan telah mengembangkan Singhasari Integrated Tourism Center (SITC).

Para turis manca negara yang berkunjung ke wisata Bromo, Tengger dan Semeru, diupayakan akan diarahkan ke Malang. Tak lagi melewati jalur Probolinggo. Dengan melalui jalur Malang, para wisatawan itu bisa singgah di KEK maupun destinasi wisata lain di Malang Raya.

Melalui konsep ini, KEK Singosari akan mampu mendatangkan 1 juta wisatawan asing setiap tahunnya.

“Kita ingin benar-benar memanfaatkan potensi yang ada dengan satu integrasi tersebut yang nantinya diharapkan akan memberikan impact ekonomi yang besar baik bagi Malang Raya maupun Jatim,” ujarnya.

Untuk mewujudkan hal itu, KEK Singosari bekerjasama dengan Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), Nusa Dua, Bali agar memberi masukan untuk pengembangan SITC tersebut. MoU dilaksanakan pada 2015.

Alasan KEK Singosari memilih ITDC sebagai rekan kerja adalah karena KEK Singosari memandang ITDC berhasil mengembangkan Nusa Dua. “Dulu Nusa Dua hanya tanah kapur kosong. Kini, bisa berubah menjadi destinasi wisata yang mempunyai nilai tinggi,” ungkapnya.

Saat ini, ITDC juga dipercaya untuk mengembangkan Mandalika, Lombok untuk menjadi destinasi wisata internasional. “Kalau Nusa Dua bisa berubah, kenapa disini (KEK Singhasari) tidak bisa dikembangkan?,” ucapnya.

Pada tahap pertama, di atas lahan seluas 44,8 ha, akan dibangun bisnis hotel, oase villas, family resort, millenia boutique hotel, creative economy zone, tech center dan artisan workshop hotel. Tahap 2, memiliki lahan 79,7 ha dan tahap 3 lahan seluas 76,8 ha.

Sesuai Izin Lokasi KEK yang diberikan, PT Intelegensia Grahatama, menyiapkan total lahan seluas 283,1 ha. Luasan lahan itu berada di tiga desa, yakni, Desa Purwoasri, Desa Langlang dan Desa Klampok.

Kelak jika pembangunan KEK Singosari tuntas, nilai investasinya tinggi. Tingkat investasi yang lebih tinggi, akan mendongkrak pada pendapatan pajaknya. Dalam jangka 20 tahun, diprediksikan manfaat pajak yang diberikan lebih tinggi Rp 4,24 triliun dibandingkan jika tidak ada manfaat KEK. (bm)

terkait

Panen Perdana Bawang Putih PINBAS MUI Jatim di Sempol Ijen Bondowoso

redaksi

Sinergi Pertamina dan PTPN XI, Salurkan Dana Kemitraan Rp 100 M Bagi 3400 Petani Tebu

redaksi

Koperasi dan UMKM Jadi Andalan Jatim Hadapi MEA

redaksi