Petisi
OPINI

Customer Kok Diajak Kerja Bakti?

Oleh: Rossi Rahardjo*

Membaca ajakan kerja bakti dari beberapa teman Bonek untuk membersihkan area dan mengecat Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) melalui postingan media sosial, bulu kudu saya langsung merinding. “Gendheng arek-arek iki!” gumam batin saya.

Jelas Arek-arek Suroboyo ini gila, edan, sinting, bin gendheng. Memiliki semangat yang luar biasa untuk ikut serta menjaga aset kebanggaan warga Surabaya di bidang olahraga, yakni GBT. Tanpa perlu babibu, tanpa perlu iming-iming bayaran, tanpa banyak cingcong, kebanyakan menyatakan kesediaannya ikut kerja bakti.

Bahkan saya yakin jika mereka membawa sendiri konsumsi yang dibutuhkan selama kerja bakti seperti camilan, air minum, kopi, teh, hingga rokok. Rasanya bangga menjadi Arek Suroboyo yang lahir, tumbuh besar, dan hingga kini masih berdomisili di Surabaya.

Momen ini pas sekali dengan peristiwa 74 tahun silam. 10 November 1945, hanya dengan satu komando dari Bung Tomo, Arek-arek Suroboyo tidak mau tunduk dan menerima dijajah kembali oleh negara lain. Mereka turun berperang melawan pasukan Inggris di kawasan Jembatan Merah.

8 November 2019, Arek-arek Suroboyo kembali bersatu untuk perjuangan yang lain. Perjuangan menjaga dan merawat aset milik mereka, Stadion Gelora Bung Tomo yang direkomendasikan menjadi salah satu venue perhelatan FIFA World Cup U-20 tahun 2021 nanti.

Sebelumnya sempat beredar pemberitaan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengusulkan alternatif stadion lain di Jawa Timur, salah satunya Stadion Kanjuruhan Malang jika GBT dinyatakan tidak layak menggelar even sekelas Piala Dunia karena sering tercium aroma sampah dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo.

Walikota Surabaya Tri Rismaharini dan sejumlah Bonek langsung bereaksi ketika disebut GBT bau sampah di kala tertentu. Kerja bakti di GBT tersebut sebagai salah satu respon cepat mengonter pernyataan bau sampah tersebut.

Pertanyaannya, siapa yang menginisiasi atau memiliki ide menggelar kerja bakti tersebut? Jika teman-teman Bonek yang menginisiasi gerakan tersebut, seribu jempol layak ditujukan kepada mereka. Saya yakin 1.000 persen jika ide tersebut dari Bonek, itu dilakukan dengan ikhlas semata-mata demi kebanggaan Surabaya yang akan menjadi tuan rumah Piala Dunia U20 2021.

Sebaliknya, jika yang menginisiasi kegiatan tersebut adalah Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, saya sangat menyayangkan sekali. Mengapa? Pemkot Surabaya memiliki anggaran untuk perawatan GBT setiap tahunnya melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Surabaya. Jumlah fluktuatif. Tahun 2020, dalam pembahasan di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surabaya, Dispora menganggarkan Rp52 miliar. (https://beritajatim.com/peristiwa/dprd-surabaya-temukan-kejanggalan-anggaran-di-dispora/)

Sementara dalam wawancara dengan Suara Surabaya, Kepala Bappeko Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, penyempurnaan GBT beserta akses jalan dianggarkan sekitar Rp100 miliar di APBD 2020. Sayangnya, baik anggaran Dispora maupun Eri tidak membeber dana sebesar itu untuk apa saja perinciannya. (https://kelanakota.suarasurabaya.net/news/2019/228261-Bonek-dan-Pemkot-Kerja-Bakti-Bareng-di-Stadion-GBT)

Pemkot Surabaya pasti sudah menghitung anggaran yang dibutuhkan untuk renovasi, bahkan hanya untuk perawatan GBT. Ada anggaran untuk itu. Lalu tiba-tiba ada ajakan untuk kerja bakti membersihkan GBT. Saya setuju sekali Arek-arek Suroboyo dilibatkan, tapi saya tidak setuju teman-teman Bonek ‘dipekerjakan’ untuk perawatan GBT yang sudah ada anggarannya setiap tahun.

Dengan menggelar kerja bakti, berapa anggaran yang tidak perlu dikeluarkan oleh Pemkot Surabaya dalam perawatan GBT? Tenaga ratusan Bonek yang hadir kerja bakti di GBT menyubsidi pengeluaran Pemkot Surabaya untuk membayar biaya tenaga kerja perawatan GBT.

Dalam pemikiran saya, selama ini teman-teman Bonek sudah terlibat dalam perawatan GBT dengan membeli tiket saat masuk ke dalam GBT ketika ada pertandingan. Uang tiket masuk ke manajemen Persebaya dan manajemen Persebaya membayar uang sewa kepada Pemkot Surabaya. Jadi terlihat sekali jika Pemkot Surabaya memanfaatkan Bonek untuk kepentingan merawat GBT.

Sebagai Arek Suroboyo, Bonek memang wajib menjaga GBT, tapi bukan dengan cara mengecat dinding luar stadion atau tribun penonton. Tugas Bonek merawat GBT dengan cara tidak merusak fasilitasnya, menjaga kebersihannya, selalu menjaga ketertiban.

Jujur selain kagum dengan sikap teman-teman Bonek, sisi hati saya yang lain merasa sedih ketika ada ajakan kepada Bonek untuk kerja bakti membersihkan dan mengecat dinding GBT. Selama ini Bonek diperlakukan secara profesional bisnis oleh manajemen Persebaya dengan sebutan customer atau pelanggan. Dengan membayar tiket pertandingan sudah cukup bagi customer untuk berpartisipasi. Tanggung jawab merawat itu seharusnya ada di Pemkot Surabaya sebagai pemilik dan manajemen Persebaya sebagai penyewa.

Saat kita mengontrak atau menyewa sebuah rumah, jika terjadi kerusakan salah satu bagian dari rumah, si penyewa dan pemilik lah yang patungan untuk memperbaiki dan membersihkannya. Bukan kami yang notabene adalah tamu alias customer.(*)

Rossi Rahardjo

8 November 2019

*)penulis adalah praktisi media, sedang menempuh program doktor di Universitas Airlangga     

terkait

Ini (Bukan) Negeri Pezina

redaksi

Mengarahkan Alam Pikiran Kita

redaksi

Mengapa Kepala Daerah Melakukan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme?

redaksi