Dari Katering hingga Butik Heritage, Novita Soeharsono Buktikan Kegigihan Bangun Bisnis dari Nol

oleh
oleh
Novita Soeharsono menunjukan salah satu koleksi baju batik motif lukisan karya almarhum mamanya

KESUKSESAN membangun bisnis tidak bisa diraih dengan cara instan. Demikian pula, untuk dapat meraih posisi puncak, seorang pebisnis dipastikan pernah berada di bawah, saat roda kehidupan berputar.

“Saya yakin semua pelaku usaha, pasti mengalami jatuh bangun berkali-kali. Tidak bisa langsung jaya. Saat seseorang dihempaskan ke bawah, di situ mentalnya tengah diuji. Pada akhirnya, yang menang dialah yang mampu bangkit,” ungkap Owner Novee Shop, Novita Soeharsono, seorang pebisnis Indonesia yang saat ini tinggal di negara Belanda, Minggu malam (15/6/2025).

Butik Novee Shop di Shangri-La hotel Surabaya, hadirkan belanja lengkap kebutuhan busana, souvenir, makanan ringan hingga produk kesehatan serta kecantikan

Ia mencontohkan dirinya pernah memiliki kerajaan bisnis katering dan travel. Usahanya itu bahkan sempat menggurita dengan jaringan sangat luas. Hampir semua instansi, saat itu berada dalam genggamannya.

“Pusat bisnis saya di Surabaya dengan hampir seluruh instansi baik pemerintahan maupun swasta menggunakan jasa katering maupun travel milik saya. Namun krisis moneter tahun 1997, meruntuhkan bisnis yang telah saya rintis selama 20 tahun,” tuturnya mengenang usaha kala itu.

Baginya tumbang bukan berarti mati. Ia justru belajar dari masa lalu yang pahit untuk kemudian kembali berdiri tegak lebih kuat. Rumusnya setiap kesulitan pasti ujungnya ada kemudahan.

“Saya meyakini sesudah hujan lebat pasti diujung sana ada matahari. Modal saya habis, investasi ambruk. Tapi tidak perlu disesali. Yang terpenting bagaimana bisa berdiri lagi, memulai bisnis sesuatu yang baru,” akunya.

Novita bersyukur, upaya pemulihan usaha di tahun 2000 dengan membuka bisnis baru di bidang butik one stop shopping mendapat support penuh dari keluarga. Suaminya, seorang konsultan IT perkeretaapian di Belanda dan anak semata wayangnya juga turut menyumbangkan ide-ide segar guna mendukung kemajuan usaha barunya ini.

“Awalnya saya buka butik di Novotel Hotel, kemudian beralih ke Shangri-la Hotel dan sekarang ekspansi ke Mercure Grand Mirama. Rencana mau nambah gerai lagi. Tapi masih penjajakan dengan beberapa pemilik tenant. Termasuk ngobrol lagi dengan suami, agar dapat dukungan,” ucapnya seraya tertawa ringan.

Butik miliknya menyediakan aneka kebutuhan dengan segmen pasar middle up. Mengusung slogan Health, Beauty and lifestyle, Novee shop hadir di tengah jantung kota pahlawan. Umumnya para pelanggan yang datang ke butik adalah tamu hotel atau turis yang tinggal cukup lama di Surabaya.

“Konsep butik saya Palu Gada artinya apa yang lu mau gue ada. Seperti aneka busana. Mulai dari setelan baju santai hingga atasan resmi dan batik bermotifkan corak budaya Nusantara. Ada pula perpaduan etnik lokal Indonesia dengan model pakaian negara luar negeri. Intinya membawa ide dunia dibungkus cita rasa budaya Indonesia. Sehingga tercipta baju china motif ternate dan baju Korea hanbok motif Jawa atau bali,” tuturnya tertawa renyah.

Selain mendesain dan memproduksi busana khas Indonesia dipadu mode luar negeri secara mandiri, butiknya juga menawarkan batik asli tenun sumbawa. Sebagian produk pakaian yg tersedia di outlet merupakan hasil kerjasama dengan mitra perajin.

“Saya kadang mendesain dan membuat busana khas perpaduan Indonesia dengan mode luar negeri yang diminati para turis. Selain itu saya juga ambil kain tenun atau busana jadi hasil tenun dari para mitra. Itu kenapa butik saya ini dinamakan Indonesian Heritage,” terang alumnus Fisip Unair Surabaya ini.

Diantara banyak koleksi busana yang dijualnya, terdapat beberapa pakaian wanita dengan motif lukisan tangan karya almarhum Ien Soeharsono, yang tak lain adalah mama Novita. Pakaian itu, sempat ditawar ratusan juta, namun ia tidak pernah bersedia menyerahkannya.

“Ini salah satu baju dengan karya lukisan mendiang mama saya. Meski banyak peminat, selalu saya tolak secara halus. Yang bikin mahal adalah nilai historisnya, mama saya seorang pelukis. wafat 1 September 2020. Karya lukisnya di atas baju-baju ini menjadi kenangan yang abadi,” bebernya seraya menunjuk baju motif lukisan yang dimaksud.

Tak hanya busana, butiknya juga menjajakan aneka makanan ringan, suplemen, produk kecantikan hingga kerajinan dari berbagai negara. Dari 2 butik yang penjagaan dan pengelolaanya dipercayakan pada 6 karyawan, stok barang sudah terjual hampir 75 persen.

“Jalan sekitar 1 bulan terakhir hampir semua stok di 2 butik menipis. semuanya kaku keras, best seller. Umumnya mereka (turis) beli untuk oleh-oleh saat dibawa pulang ke negaranya, atau sekedar belanja karena nostalgia. Contoh kue kering bookken pootjes dari Belanda ini banyak dicari turis untuk sekedar melepas rindu masa kecil mereka, ” terang wanita kelahiran Surabaya, 20 November 1965 ini.

Novita menyebut ragam souvenir di butiknya dominasi perajin Indonesia. Seperti kalung dari bahan tulang dan gading, gelang, Bros, tas belanja, dompet, kipas tangan motif wayang, topeng, mainan dakon, miniatur becak, sepeda kuno mini serta angklung.

“Ada juga kerajinan dari luar negeri. Barangnya original dan dijamin asli, ada register serta serial numbernya. Contoh sendok garpu perak satu set dari Belanda dengan motif gambar timbul. Kemudian bola salju juga dari Belanda. Souvenir dari negara lain seperti Austria dan jerman, juga tersedia. Silahkan mampir ke butik kami,” ujarnya tanpa bermaksud promosi.

Meski menempati outlet terbatas, ia berani mengklaim butiknya lengkap layaknya mini market. Semua mutu barang yang ditawarkannya dijamin high quality dan bisa dipertanggungjawabkan.

“Kuncinya bisnis ada pada personal communication. Sering menyapa dan berbincang dengan turis, walau sekedar say hello. Sehingga begitu terbangun komunikasi yang baik, otomatis mereka percaya dengan kualitas barang yang kita jual. Saya pribadi sering bertemu pembeli dengan sekali belanja bisa mencapai Rp. 30 juta hingga Rp. 40 juta,” pungkas nenek 2 cucu mengakhiri perbincangan seraya berpamitan kembali terbang ke Belanda. (luk)