Surabaya, petisi.co – Dinas Koperasi dan UKM Jawa Timur (Jatim) mendorong para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) untuk naik kelas. Diharapkan dengan naik kelas, maka usaha yang dirintis bisa berkembang dan menghasilkan pendapatan yang lebih besar lagi.
“Yang penting dari banyaknya UMKM yang ada di Jatim itu, bagaimana mereka bisa naik kelas. Dan, itu terus kita dorong,” kata Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jatim, Endy Alim Abdi Nusa kepada petisi.co di kantornya, Kamis (28/11/2024).
Saat ini, berdasar data Dinkop dan UKM Jatim terdapat 1,3 juta UMKM. Seiring waktu berjalan, bisa menghandle 800 ribu UMKM, sehingga bertambah menjadi 2,1 juta hingga 2,5 juta. Jumlah tersebut, merupakan jenis usaha non pertanian dan nelayan.
“Kita tidak punya target dari jumlah UMKM itu berapa yang naik kelas. Tapi, kalau bisa naik kelas 10-20 persen dari jumlah itu sudah bagus. Karena di UMKM itu banyak kendala yang dihadapi. Misalnya, tingkat kesadaran pelaku UMKM itu rendah,” jelasnya.
Karena itu, menurutnya, dari jumlah itu, harus dipilah mana UMKM yang mendapat prioritas program sasaran Dinkop dan UKM Jatim. Sebab, UMKM sekarang ini banyak yang mikro. Nilai usaha atau asetnya hanya Rp 50 juta. Yang kedua, pelaku usahanya mau diajak untuk naik kelas.
Program itu, lanjutnya, pertama secara kelembagaan. Pihaknya akan membantu mengurus nomor induk perusahaan, lembaganya terdaftar, perpajakan dan lainnya. Kedua, SDM nya diberikan pelatihan bagaimana menjadi wirausaha dengan inovasi tingkat tinggi, memahami pasar dan bagaimana beradaptasi dengan teknologi informasi (IT).
“Pendekatan yang kita lakukan ya dengan menggunakan teknologi. Ada aplikasi-aplikasi yang mempermudah dalam melakukan pembukuan. Ketertiban administrasi itulah yang terus kita motivasi kepada pelaku UMKM. Supaya tertib dalam melakukan pembukuan,” paparnya.
Kenapa UMKM diberikan pelatihan pembukuan atau tata kelola keuangan, Endy mengaku karena supaya UMKM itu, selain terdaftar secara resmi, mereka bisa menjadi obyek dari kredit pembiayaan. Pihak Bank tentu mencari pelaku-pelaku usaha yang yang memiliki pembukuan yang bagus dan tertib.
“Jadi, hal-hal itu yang membuat perbankan tertarik untuk menyalurkan kreditnya. Dengan adanya kredit itu, saya berharap para usaha UMKM itu akan lebih meningkat lagi. Mungkin sekarang skalanya lokal, ke depan nanti skalanya bisa lebih lebar lagi,” tuturnya.
Yang kedua, mereka bisa menghayer atau mempekerjakan orang. “Itu yang nantinya akan kita inkubasi. Diperhatikan kebutuhannya, pelaku usahanya apa, kebutuhan alat atau packing kurang bagus, pemasaran melalui medsos. Nanti kita bantu. Kita lihat dari berbagai perspektif,” jelasnya. (bm)







