Surabaya, petisi.co – Pengurus Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Timur (Jatim) periode 2024-2028 membuat gebrakan baru. Dipimpin H Musaffa Safril, PW GP Ansor Jatim mencetuskan program “Satu Keluarga Banser Satu Sarjana”.
“Program ini merupakan program pendampingan sosial yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat,” kata Gus Safril pada acara Media Gathering dan Peluncuran susunan kepengurusan baru PW Ansor Jatim di Kantor PW GP Ansor Jatim, Sabtu (26/10).
Dijelaskan, program Satu Keluarga Banser Satu Sarjana adalah inisiatif Ansor Jatim. Tujuannya untuk meningkatkan akses pendidikan bagi keluarga anggota Banser.
Dengan program ini, Ansor Jatim berkomitmen mendukung setiap keluarga banser dalam mencapai cita-cita pendidikan di jenjang sarjana. Sehingga, generasi muda dari keluarga banser memiliki kesempatan lebih baik dalam pendidikan, pekerjaan dan kontribusi di masyarakat.
“Melalui program ini, Ansor Jatim berharap dapat memberikan peluang yang lebih luas bagi keluarga banser untuk mencapai kesejahteraan dan pendidikan yang lebih baik demi masa depan yang lebih cerah,” kata Safril.
Wakil Ketua/Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat PW GP Ansor Jatim, Rijal Mumazziq, menyebut program Satu Keluarga Banser Satu Sarjana, sebenarnya bukan yang pertama dilakukan Ansor Jatim. Di Universitas Agama Islam Al-Falah As-Sunniyah (UNAIFAS) Kencong Jember UNAIFAS, sudah mengadakan program itu sejak 2022 lalu.
Setiap tahun, lanjut Rektor Universitas Agama Islam Al-Falah As-Sunniyah (UNAIFAS) Kencong Jember ini, dialokasikan minimal 2 sarjana yang bisa kuliah. Dan, itu dilakukan dengan dua skema.
Pertama, bea siswa keluarga anggota Banser itu ditanggung UNAIFAS sampai lulus dengan nilai jaminan setiap semesternya wajib ber IPK 3,5. “Walaupun rektornya dulu tidak sampai mencapai nilai IPK itu,” selorohnya.
Yang kedua, bea siswa bagi anggota Banser yang ditanggung pihak kampus sebesar 50%. Setiap kali ada penyelenggaraan acara, anggota banser dilibatkan sebagai petugas pengamanan, sekaligus juga Banser mendapatkan bea siswa dengan plakatnya.
“Kita optimis program ini bisa dilaksanakan kampus lain, asalkan masing-masing komitmen untuk memberdayakan banser. Karena kita tahu kadang kala SDM banser potensinya ya seperti itu. Makanya dengan program ini, kita menginginkan ada pemerataan pendidikan di lingkungan Banser,” paparnya.
Soal dana, Rijal mengungkapkan ada beberapa skema yang bisa dilakukan. Tapi mayoritas yang selama ini dia pakai dana yang diberikan kepada anggota Banser sifatnya tidak gratis. “Kalau digratiskan bisa-bisa keuangannya ngguling (roboh,red). Jadi, selama ini kita menghilangkan istilah gratis,” sergahnya.
Yang kita lakukan, kata Rijal, adalah mencari sumber dana dari orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap NU. Lalu dibayarkan ke rekening kampus, sehingga keuangan kampus bisa stabil. “Saya ajak ayo kuliah di kampus ku dan saya carikan biaya kuliah agar keuangan kampus tidak ngguling,” paparnya.
Biaya pengeluaran semacam ini, tambahnya, yang pertama sumber dana berasal dari Lazismu Jatim. Kedua, dana paling banyak dari kalangan NU. “Banyak orang kaya di NU yang bingung menyalurkan uang. Selama ini, mereka menyalurkan uang ke pembangunan masjid, pesantren dan lainnya,” ungkapnya. (bm)





