Guru Hebat, Apa Parameternya?

oleh -2240 Dilihat
oleh

Oleh: Immanuel Yosua T*

Tema Hari Guru Nasional tahun ini, “Guru Hebat, Negara Kuat,” menggema dengan nada optimisme yang ingin kita percaya sepenuh hati.

Namun di balik tema besar itu, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: Guru hebat, apa parameternya ? Pertanyaan yang sederhana tetapi runcing, dan justru penting diajukan ketika dunia pendidikan bergerak semakin kompleks. Kita harus kritis konstruktif mensikapinya,  tidak bisa memuji tanpa memahami, dan tidak bisa menuntut tanpa menimbang.

Dalam sejarah pendidikan di tanah air, Ki Hajar Dewantara sudah memberikan fondasi moral yang kokoh :  ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Namun di era digital, di mana kecepatan mengalahkan kedalaman, tiga prinsip itu diuji dalam bentuk yang baru.

Guru muda, misalnya, berada di tengah pusaran media sosial yang mendorong orang untuk tampil. Ada tekanan halus untuk terlihat mapan, inspiratif, atau sekadar relevan. Sebagian guru terjebak dalam budaya fleksing tanpa sadar, bukan karena kesombongan, tetapi karena tuntutan visual yang memang menjadi bagian dari ekosistem digital.

Pertanyaannya kemudian menjadi lebih tajam, apakah kehadiran digital kini menjadi parameter baru seorang guru hebat? Ataukah kita tanpa sengaja sedang menggusur makna tulodo (keteladanan) yang hadir dalam kesederhanaan dan integritas hati menjadi pencitraan ala media sosial?

Sementara itu, guru-guru senior  yang jauh dari pusaran tuntutan penampilan digital menghadapi tantangan yang berbeda. Mereka tumbuh di masa ketika ruang kelas tidak diukur dari jumlah aplikasi yang dikuasai, melainkan dari ketegasan, kebijaksanaan, dan kesabaran. Kini mereka berhadapan dengan murid yang cepat berubah, etika yang lebih cair, dan teknologi yang seolah tidak pernah diam.

Beberapa guru merasa seakan menjadi tamu di kelas mereka sendiri. Namun dari kerentanan itulah kita sering menemukan inti kekuatan mereka: guru yang mau belajar ulang, meski pelan; guru yang membuka laptop dengan ketegangan sekaligus keyakinan; guru yang tetap memberi ruang bagi murid meski ia sendiri sedang mencari arah.

Namun wajah kehebatan guru tidak hanya terlihat di kota. Di pedalaman Indonesia—Papua, NTT, pedalaman Kalimantan, dan banyak wilayah 3T—kita melihat bentuk kehebatan yang paling jernih.

Guru yang berjalan kaki menempuh medan sulit, guru honorer yang gajinya tidak cukup untuk sebulan, guru yang tetap mengajar meskipun sekolah kekurangan listrik atau sinyal. Mereka hadir tanpa kamera, tanpa unggahan, tanpa sorotan. Kehebatan mereka tidak tampil, tetapi terasa. Dan bila kita mencari parameter kehebatan yang sejati, barangkali justru sorot mata murid-murid di pedalaman itulah jawabannya.

Tetapi kehebatan guru tidak mungkin berdiri sendirian. Ia membutuhkan ekosistem yang mendukung. Di sinilah visi pendidikan Presiden Prabowo menjadi relevan. Ya,  kualitas pendidikan harus dimulai dari peningkatan kualitas guru.

Di dalamnya  terdapat  kompetensi, pelatihan berkelanjutan, literasi digital, dan peningkatan kesejahteraan. Namun ada satu ranah yang jarang dibahas secara jujur, yaitu  implementasi program-program besar di lapangan.

Salah satu contoh Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Secara konsep, program ini sangat baik, bahkan strategis. MBG memastikan anak-anak datang ke sekolah dengan kondisi fisik yang siap belajar.

Namun kenyataan di beberapa daerah menunjukkan bahwa penerimaan MBG sering kali dilakukan bertahap dengan kurangnya parameter prioritas bagi penerima. Akibat masifnya sosialisasi progam, jutaan siswa harus menelan ludah mendengar kawan-kawannya di sekolah lain menerima, tapi mereka belum.

Ada kecanggungan sosial yang tumbuh diam-diam, ada rasa berbeda yang sulit dihilangkan. Dalam kondisi seperti ini guru sering berada di tengah dilema antara regulasi dan rasa kemanusiaan.

Guru menjadi saksi bahwa gizi bukan hanya soal makanan, tetapi soal rasa dihargai dan rasa setara. Dan program yang baik pun bisa menimbulkan luka kecil jika tidak diimplementasikan dengan hati-hati.

Inilah mengapa parameter kehebatan guru tidak boleh berdiri sendiri tanpa parameter keadilan sosial di lingkungan sekolah. Guru hebat bukan hanya yang mengajar dengan baik, tetapi yang mampu menjaga martabat murid ketika sistem belum sepenuhnya siap.

Dalam konteks itu, kita kembali bertanya: apa sebenarnya parameter guru hebat? Apakah guru hebat adalah ia yang paling menguasai teknologi? Yang paling kreatif membuat konten? Yang paling rapi administrasinya? Yang paling viral? Atau justru mereka yang diam-diam menjaga perasaan murid, menambal celah kebijakan, dan memastikan tidak ada anak yang merasa lebih rendah hanya karena daftar penerima bantuan disusun terlalu ketat?

Parameter guru hebat tidak mungkin tunggal. Ia adalah perpaduan antara karakter, kapasitas, keteguhan, dan kepekaan sosial. Guru hebat bukan hanya mereka yang mampu mengajar dengan baik, tetapi yang mampu memanusiakan. Ia tidak terjebak pencitraan, tidak kalah oleh tekanan zaman, dan tidak ragu berdiri di tengah murid-muridnya dengan hati yang utuh.

Hari Guru Nasional seharusnya tidak hanya menjadi ruang merayakan jasa guru, tetapi juga ruang memperbaiki cara kita melihat, menilai, dan mendukung mereka. Karena guru hebat tidak lahir dari kehendak pribadi saja, tetapi dari ekosistem yang adil, negara yang hadir, dan masyarakat yang mengakui nilai mereka tanpa syarat.

Jika guru di kota, desa, dan pedalaman  masih melangkah menuju kelas dengan niat yang jernih, meski sistem tidak selalu membantu, maka sesungguhnya kehebatan itu sudah muncul.

Mungkin belum sempurna, tetapi cukup kuat untuk membuat kita percaya bahwa tema “Guru Hebat, Negara Kuat” bukan hanya slogan, melainkan arah yang sedang kita bangun bersama.

Selamat Hari Gurun Nasional 2025.

*Penulis adalah Dosen STTIAA Mojokerto, Pemerhati Pelayanan Publik Pendidikan & Pengurus SMSI Jatim

No More Posts Available.

No more pages to load.