Istighosah Kebangsaan, Organisasi Islam Harus Punya Ukhuwah Islam Tinggi

oleh
Istighosah Kebangsaan diikuti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Komisariat Cendekiawan Muslim, dan mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi

BANYUWANGI, PETISI.CO – Istighosah Kebangsaan diikuti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Komisariat Cendekiawan Muslim, dan mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi dalam tema “Mempererat ukhuwah islamiah dengan fundamental Nasionalisme dan wawasan kebangsaan”.

Dihadiri pula Korps Alumni Himpunan  Mahasiswa Islam (KAHMI) H. Moh. Syaifudin, Kepala Dinosnakertrans, Syaiful Alam Sudrajat, dan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kabakesbangpol) Banyuwangi, Wiyono.

Ketua Cabang HMI Banyuwangi, Robet Sihab, menjelaskan, kegiatan semacam ini digelar untuk memperingatai hari kebangkitan nasional yang jatuh pada 20 Mei dengan tujuan setelah merapatkan barisan dalam istighosah kebangsaan,  kedepan bisa memerangi paham komunis maupun islam radikal yang dikhawatirkan bisa memecah belah NKRI.

Hal yang sama juga diutarakan Ketua Umum Komisariat Cendekiawan Muslim Hongki Ali Andriansyah, dan Ketua Panitia Penyelenggara Istighosah Kebangsaan, Budy Syafin mengatakan, kegiatan diselenggarakan sebagai bentuk pengabdian kader organisasi islam kepada bangsa, negara dan agama. Targetnya, selain memperat hubungan antar organisasi juga untuk terus mengawal NKRI melalui diskusi publik maupun seminar ke berbagai wilayah.

Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik Banyuwangi, Wiyono dalam sambutannya menegaskan, untuk tindakan nyata organisasi yang punya wawasan kebangsaan baik induk maupun badan otonom di daerah harus mempunyai landasan ukhuwah islamiyah yang tinggi serta menjadikan dirinya sebagai pelopor yang rahmatan lil alamin, jangan sampai umat islam terjebak, pesannya.

“Kemudian, jadikan organisasi sebagai latihan untuk pendewasaan diri serta pengembangan kepribadian berkarakter indonesia,” tutur Wiyono.

Paham-paham komunis dan islam radikal dianggap musuh jika terdapat orang atau organisasi yang sengaja ingin memecah belah Indonesia atau pancasila, karena kita tinggal di negara demokrasi Indonesia, tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinsostrans Banyuwangi, Syaiful Alam Sudrajat menyampaikan, organisasi harus punya idealisme yang tinggi agar bisa mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara dan harga mati untuk NKRI. Diharapkan pula, organisasi islam bisa mengelola dengan baik wawasan kebangsaan dan jiwa nasionalisme yang bertujuan membesarkan nama besar  Indonesia di mata dunia. (fattahur.ra)