Jurnalis Diprediksi Bakal Bekerja untuk AI Mulai 2026

oleh -1035 Dilihat
oleh
ilustrasi.

Surabaya, petisi.co – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) diperkirakan akan mengubah secara mendasar arsitektur dan cara kerja ruang redaksi mulai 2026. Hal ini disampaikan oleh Nikita Roy, pendiri Newsroom Robots Lab yang diinkubasi di Harvard Innovation Labs.

Dalam kesaksiannya baru-baru ini di hadapan komite House of Commons Parlemen Kanada, Roy menjelaskan bahwa industri berita tengah mengalami tiga perubahan besar yang secara perlahan membentuk ulang jurnalisme.

“Orang sekarang tidak lagi hanya membaca berita. Mereka berbicara dengan berita melalui sistem AI yang merespons secara percakapan, baik lewat teks maupun suara,” ujar Roy, sebagaimana dikutip dari niemanlab.org, Minggu (21/12/2025).

Menurutnya, AI tidak hanya menentukan informasi apa yang disampaikan, tetapi juga bagaimana berita tersebut dijelaskan dan diberi konteks.

Perubahan kedua adalah runtuhnya jalur tradisional penemuan berita. Roy mengatakan pola lama “cari, klik, baca” mulai tergeser menjadi “tanya, jawab, lalu bertindak”.

“AI menghilangkan perantara. Klik mulai menghilang dan halaman depan media semakin kehilangan perannya. AI dengan cepat menjadi pintu utama menuju informasi,” katanya.

Perubahan ketiga, lanjut Roy, adalah munculnya AI sebagai “audiens baru” bagi jurnalisme. Sistem AI secara terus-menerus mengumpulkan dan menafsirkan ulang berita, tetapi dengan cara yang sangat berbeda dari manusia.

“Bagi AI, artikel bukan cerita, melainkan kumpulan data. Fakta dan kutipan diambil, lalu digabungkan dengan laporan media lain dalam narasi baru,” jelasnya.

Kondisi ini, menurut Roy, memunculkan tantangan serius bagi media. Ia menuturkan, saat ini yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana perusahaan media mempersiapkan masa depan ketika jurnalisme dilihat dan digunakan secara luas, tetapi merek media kita tidak lagi terlihat.

Roy menegaskan bahwa perubahan ini menunjukkan AI telah menjadi infrastruktur utama yang mengatur aliran berita. Dampaknya, model bisnis dan cara kerja ruang redaksi juga harus berubah.

“Tantangannya sekarang adalah membangun ulang ruang redaksi berdasarkan nilai unik yang hanya bisa diberikan newsroom, bukan bertahan pada bentuk lama yang dibuat untuk era berbeda,” kata Roy.

Ia menilai ruang redaksi yang masih bergantung pada publikasi artikel ke halaman depan tidak akan bertahan di era AI.

“Ketika antarmuka AI langsung memecah dan menyajikan ulang artikel tanpa mengarahkan pembaca kembali, model lama tidak lagi relevan,” ujarnya.

Ia memaparkan, model bisnis berbasis jumlah klik dan volume konten juga dinilai semakin rapuh. Pasalnya, AI mampu menghasilkan teks dalam jumlah nyaris tak terbatas.

Karena itu, Roy memprediksi mulai 2026 banyak media akan membangun ulang ruang redaksi mereka menjadi sistem pengetahuan yang selalu aktif.

“Ruang redaksi akan bergeser dari pabrik berita harian menjadi mesin informasi modern yang dirancang untuk cara orang menemukan informasi saat ini,” katanya.

Eksperimen ke arah tersebut, menurut Roy, sudah mulai terlihat di berbagai negara. Media dan laboratorium teknologi kini menguji alat riset berbasis AI, basis data terstruktur, arsip otomatis, hingga antarmuka berita percakapan.

Roy menyimpulkan bahwa 2026 akan menjadi titik balik bagi industri media.

“Ini adalah tahun ketika jurnalisme berhenti diperlakukan sebagai pabrik konten dan mulai dibangun kembali sebagai institusi pengetahuan dan komunitas. Bukan sekadar alat baru, tetapi arsitektur baru,” pungkas Roy.(dvd)

No More Posts Available.

No more pages to load.