Kami Bukan Komoditas Politik: Refleksi Peringatan Hari Sumpah Pemuda

oleh -1157 Dilihat
oleh
-->

Oleh: Thoriq Haidar Al Roychan Ghozali

Peringatan Hari Sumpah Pemuda selalu diadakan tiap tahunnya, banyak dari kalangan kaum muda turut melakukan diskursus yang membicarakan isu-isu kepemudaan yang sedang hangat dan menarik untuk diperbincangkan.

Sedikit kita menengok kebelakang, bagaimana peristiwa Sumpah Pemuda itu terjadi. Peristiwa Sumpah Pemuda merupakan tonggak Sejarah yang menggerakkan kaum muda dan rakyat Indonesia ketika itu untuk bersatu dalam melawan penjajahan. Sumpah Pemuda lahir dari hasil rapat para pemuda atau kongres pemuda yang kedua tepat pada tanggal 28 Oktober 1928.

Ketika itu mayoritas para pemuda masih bersifat kedaerahan dan mengedepankan kepentingan kelompoknya sendiri. Tetapi 28 Oktober menjadi bukti bahwa para pemuda Indonesia ketika itu secara kolektif menginginkan bangsa Indonesia terbebas dari penjajahan.

Semangat para pemuda pendahulu inilah yang menjadi warisan penting untuk kita lanjutkan dan jaga secara bersama-sama.
Membicarakan peringatan Sumpah Pemuda di tahun ini begitu menarik, betapa tidak bangsa Indonesia akan menyambut pesta demokrasi lima tahunan yang akan menentukan arah kepemimpinan nasional.

Menjadi menarik juga ketika Komisi Pemilihan Umum (KPU) merilis data jumlah pemilih untuk Pemilu 2024, berdasarkan data dari KPU menunjukkan mayoritas pemilih pada Pemilu 2024 adalah Millennial dan Generasi Z.

Sebanyak 66.822.389 atau 33,60% pemilih dari Generasi Millenial dan 46.800.161 atau 22,85% berasal dari pemilih Generasi Z. Jika digabungkan Generasi Millenial dan Generasi Z berjumlah 56,45% dari total keseluruhan pemilih. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan dari pemuda untuk menentukan arah kepemimpinan nasional sangat besar dan kuat.

Hal ini mengapa tidak heran saat ini banyak sekali calon legislatif baik di tingkat daerah, provinsi, atau pusat yang berlatarbelakang pemuda Millenial atau Generasi Z. Selain itu, berbagai macam strategi kampanye politik yang ditunjukkan oleh partai politik sangat kental dengan ciri khas anak muda, ada yang menggunakan kampanye di aplikasi TikTok, Instagram, Youtube, dan Twitter yang media tersebut sering diakses oleh anak muda saat ini.

Lantas, kita sebagai anak muda apakah diam saja melihat fenomena politik seperti ini dengan modal power besar dari kaum pemuda dalam Pemilu 2024. Sangat disayangkan ketika melihat berbagai macam partai politik yang menunjukkan bahwa klaim dirinya dengan partai paling anak muda atau pro terhadap anak muda tetapi minim gagasan yang memperlihatkan dukungan terhadap anak muda.

Anak muda saat ini tak butuh joget-joget di media sosial, atau bahkan menarik para influencer anak muda untuk diajak menjadi calon peserta pemilu, tetapi anak muda membutuhkan gagasan dan jawaban atas permasalahan yang sering dialami oleh anak muda.

Membicarakan anak muda selalu identik dengan hal yang akan datang, seperti halnya kata bijak terkenal bahwa anak muda adalah pemimpin bagi masa depan, maka yang menjadi permasalahan anak muda saat ini adalah adanya kekhawatiran akan masa depan, ketika segala aspek kehidupan ini masih belum terpenuhi atau tertunaikan dengan baik oleh para pemangku kebijakan. Contoh saja, fasilitas pendidikan, biaya pendidikan yang mahal, lapangan kerja yang minim, dan masih banyak lagi.

Itulah mengapa ada kekhawatiran yang dirasakan dan seharusnya para partai politik atau calon pemimpin baik di legislatif atau eksekutif bisa melihat itu. Maka di momen yang tepat ini, anak muda harus bersatu, anak muda harus teriak dengan lantang akan keresahan yang masing-masing punya, jangan sampai suara kita hanya dijadikan komoditas politik saja tanpa adanya dampak nyata yang bisa anak muda rasakan atau Masyarakat luas rasakan. Semoga itu terjadi! Hidup anak muda!

*Penulis adalah Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Airlangga