Tuban, petisi.co – Kasus perundungan yang menimpa siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Peristiwa ini diduga bukan sekadar aksi kekerasan biasa, melainkan dilakukan secara terstruktur dengan modus memaksa korban untuk saling berkelahi sebelum akhirnya dianiaya bersama-sama, Senin (20/04/2026).
Rekaman video amatir yang viral di media sosial menjadi bukti adanya aksi kekerasan tersebut. Dari hasil penelusuran, sedikitnya tiga siswa diduga menjadi korban oleh kelompok terduga pelaku yang sama.
Kejadian bermula saat salah satu korban yang masih duduk di kelas VII dipanggil secara paksa oleh enam orang pelaku yang didominasi siswa kelas IX. Setibanya di lokasi, korban dipaksa untuk berkelahi dengan temannya sendiri sebagai ajang hiburan.
Namun, saat korban menolak, para terduga pelaku langsung melakukan pengeroyokan. Korban yang dikenal pendiam tidak melakukan perlawanan dan mengalami luka serius di bagian kepala serta pundak.
Akibat kekerasan tersebut, korban sempat tidak sadarkan diri dan harus dilarikan ke rumah sakit. Ironisnya, setelah kejadian, korban diduga mendapat ancaman dari para pelaku agar mengaku bahwa luka yang dialaminya akibat terbentur pintu atau sakit, guna menutupi kejadian sebenarnya.
Berdasarkan petunjuk dari video yang beredar, Lembaga Bantuan Hukum Koalisi Perempuan Ronggolawe langsung mendatangi rumah korban untuk melakukan pendampingan. Dari hasil pendampingan tersebut, terungkap bahwa kekerasan ini telah terjadi lebih dari satu kali.
Pendamping hukum korban, Suwarti, menyampaikan bahwa total terdapat tiga siswa yang diduga menjadi korban dari enam pelaku yang sama.
“Korban dipanggil untuk datang dan akan diadu dengan temannya, namun korban menolak. Karena tidak mau, korban kemudian dipaksa dan dianiaya oleh enam orang pelaku. Saat kejadian, korban tidak melawan sama sekali hingga mengalami kekerasan yang cukup fatal dan sempat tidak sadarkan diri,” ujarnya.
Saat ini, pihak kuasa hukum tengah mengupayakan pemulihan psikologis korban. Trauma yang dialami korban tergolong berat, bahkan korban kerap merasa ketakutan saat hendak tidur di malam hari.
“Kondisinya saat ini kalau kita lihat secara fisik sudah mulai membaik, tapi terkait dengan kondisi psikisnya mengalami kekerasan psikis yang sangat berat,” tambahnya.
Sementara itu, pihak sekolah yang telah didatangi oleh tim pendamping mengaku masih melakukan pendampingan terhadap pelaku dan korban. Namun, hingga kini belum ada penjelasan rinci terkait langkah konkret yang diambil oleh pihak sekolah dalam menangani kasus tersebut. (ric)







