Surabaya, petisi.co – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) terus memperkuat penanganan kenakalan remaja dengan pendekatan pembinaan yang lebih terstruktur. Hasilnya mulai terlihat, dengan penurunan kasus yang cukup signifikan dalam satu tahun terakhir.
Kepala DP3APPKB Surabaya, Ida Widayati, menyebut tren kenakalan remaja di Kota Pahlawan mengalami perbaikan. Berdasarkan data hasil kolaborasi dengan Satpol PP, jumlah kasus pada tahun lalu tercatat lebih dari 450 kasus. Sementara tahun ini, jumlahnya turun drastis menjadi di bawah 100 kasus.
“Alhamdulillah ada penurunan yang cukup signifikan, terutama sejak diberlakukannya kebijakan jam malam bagi anak-anak,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
Menurut Ida, kebijakan pembatasan aktivitas malam menjadi salah satu faktor penting dalam menekan potensi kenakalan remaja. Namun, perubahan pola penanganan juga menjadi kunci utama.
Jika sebelumnya anak-anak yang terjaring hanya menjalani konseling singkat di markas Satpol PP, kini mereka mendapatkan pembinaan lebih intensif. Anak yang terlibat kasus seperti konsumsi minuman keras, tawuran, hingga geng motor tidak langsung dipulangkan, melainkan ditempatkan di Rumah Aman.
“Kami ubah polanya. Tidak hanya konseling singkat, tetapi ada edukasi mendalam tentang dampak kriminalitas, bahaya narkoba, hingga wawasan kebangsaan,” jelasnya.
Program pembinaan berlangsung selama 7 hingga 14 hari. Selama itu, anak-anak tetap mendapatkan pendampingan psikologis sekaligus difasilitasi untuk melanjutkan pendidikan melalui pembelajaran daring bagi yang masih berstatus pelajar.
Program ini telah berjalan sejak pertengahan tahun lalu dan mulai menunjukkan hasil. Jumlah anak yang harus menjalani pembinaan di Rumah Aman kini semakin berkurang, seiring meningkatnya kesadaran serta efek jera dari pendekatan tersebut.
Selain itu, Pemkot Surabaya juga memperkuat peran keluarga melalui edukasi kepada orang tua agar pengawasan terhadap anak lebih optimal.
Dengan kombinasi kebijakan preventif seperti jam malam dan pembinaan yang komprehensif, tren penurunan kenakalan remaja diharapkan terus berlanjut.
“Kami berharap anak-anak muda bisa memanfaatkan waktu untuk kegiatan positif. Karena perilaku negatif tidak hanya berdampak sosial, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis dan masa depan mereka,” pungkasnya. (dvd)







