Sidoarjo, petisi.co – Tuberkulosis (TBC) masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat di Jawa Timur, termasuk di Kabupaten Sidoarjo. Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2024, estimasi kasus TBC di Sidoarjo mencapai 5.823, dengan temuan kasus sebanyak 6.280 atau melampaui target sebesar 108%. Dari jumlah tersebut, 5.657 kasus berhasil diobati, yang berarti 97% dari target pengobatan.
“TBC ini menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi. Presiden Prabowo ingin angka kematiannya akibat penyakit ini secepat-cepatnya diturunkan. Setiap tahun, di Indonesia, dari sekitar satu juta kasus baru tercatat 136 ribu jiwa meninggal dunia,” ungkap Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin saat melakukan kunjungan kerja di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Minggu (9/11/2025).
Menurutnya, kunci utama pengendalian TBC adalah pemeriksaan dini melalui skrining. Untuk mempercepat deteksi, pemerintah telah menyiapkan alat uji TBC generasi baru yang lebih praktis, mirip tes swab Covid-19.
“Obatnya sudah ada, tapi untuk menemukan pasiennya kadang-kadang susah, karena harus dites lewat dahak. Gejalanya memang seperti batuk berat. Jadi harus dites dengan alat baru berukuran mini, portable dan tidak butuh lab mirip swab covid-19. Tahun ini pilot project di 100 puskesmas. Kalau hasilnya baik, tahun depan kita sebar ke delapan provinsi tertinggi kasus TBC termasuk Jawa Timur dan Jawa Barat,” ungkapnya.
Delapan provinsi yang akan segera menjadi proyek percontohan tes swab di tahun 2025 tersebut, yakni Jawa Barat dengan 234.380 kasus, Jawa Timur dengan 116.538 kasus, Jawa Tengah dengan 107.488 kasus, Sumatera Utara dengan 74.297 kasus.
“Ya, berdasarkan populasi, angka kasus TBC Jawa Timur nomer dua setelah Jawa Barat. Disusul Jateng dan Sumut. Kemudian DKI Jakarta dengan 70.258 kasus, Banten 50.298 kasus, Sulawesi Selatan sebanyak 45.472 kasus, serta Nusa Tenggara Timur ada 17.928 kasus,” bebernya.
Budi berharap dengan memperluas program layanan skrining terpadu ini, diharapkan identifikasi secara dini penderita bisa segera diketahui dan secepatnya dapat mencegah penyebaran penyakit tersebut.
“Program proyek percontohan sudah berjalan seperti di Bandung, Bogor dan juga Semarang. Hingga akhir tahun ini akan diperluas ke puskesmas yang ada di Jawa Timur dan Sidoarjo,” aku Menkes.
Budi menyebut alat skrining mirip tes swab tersebut memiliki akurasi setara peralatan laboratorium mahal GeneXpert dan kini tengah diuji di Jawa Barat. Budi juga menegaskan penanganan TBC sebaiknya dilakukan di puskesmas atau klinik, bukan di rumah sakit.
“Tes canggih terbaru yang kita miliki, mirip swab setara dengan alat geneXpert di laboratorium yang harganya ratusan juta. Alat ini akurasinya sama,” tegasnya.
Budi menilai pemilihan lokasi program layanan skrining TBC terpadu di lingkup layanan kesehatan terkecil yakni puskesmas. Sebab lebih efektif dibandingkan pelaksanaan di rumah sakit umum daerah. “Kalau di puskesmas, masyarakat lebih mudah menjangkau layanan guna mendeteksi dini penularan penyakit tersebut,” ucapnya.
Selain TBC, Budi menyoroti perlunya penguatan industri farmasi dalam negeri agar Indonesia tidak bergantung pada impor bahan obat. “Semakin banyak pabrik berdiri, harga obat bisa ditekan dan lapangan kerja bertambah,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa penggunaan alat TCM turut mempermudah proses pengambilan sampel pasien menggunakan metode usap atau swab tanpa memerlukan pengambilan sampel dahak dari pasien dengan hasil yang akurat seperti hasil pemeriksaan di laboratorium.
“Permasalahan TBC ada pada fase pendeteksian atau skrining. Jika dengan alat TCM dan juga program tersebut mampu mendeteksi pasien yang tertular secara dini dan akurat, maka proses penyembuhan pasien akan lebih mudah karena obat TBC juga sudah tersedia,” kata Budi.
Menkes juga memastikan dukungan obat dari pabrik farmasi di Indonesia cukup menggembirakan. Sisi lain, ya mengharapkan investasi farmasi yang masuk ke Indonesia terus bertumbuh, sehingga mampu menciptakan lapangan kerja baru.
“Beberapa pabrik farmasi di Indonesia yang memproduksi obat untuk TBC, terutama Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dalam rangka mendukung program pemerintah cukup bagus. Kita berharap investasi pabrik obat di Indonesia terus tumbuh ya. Karena belanja obat kita naiknya antara 9 hingga 11 persen dan rata-rata obat import,” pungkasnya. (luk)







